Selasa, 28 Maret 2006
Manusia diciptakan berbeda dengan hewan dan tumbuhan. Allah menciptakan akal untuk berfikir. Namun dalam kasus pornografi, manusia justru banyak menjadi ‘hewan’
Oleh: Dr. Elly Maliki, MA *)
Allah menciptakan benda-benda seperti tanah, pasir, bebatuan dan lain sebagainya namun tidak memberikannya nyawa dan tidak dapat berkembang biak. Seandainya benda-benda ini berkembang biak, dapat bergerak dan berpindah dari suatu tempat ke tempat lain, barangkali manusia akan tersingkir dari jagat raya ini. Subhanallah!
Allah menciptakan tumbuh-tumbuhan, makhluk bernyawa yang dapat berkembang biak. Dari sebuah tunas hanya tumbuh menjadi pohon yang berdaun rindang, kemudian berbuah tanpa dapat bergerak kesana dan kemari. Sekalipun bernyawa dan dapat berkembang biak, namun makhluk ini tidak dapat mengatur diri mereka sendiri, apalagi untuk menguasai makhluk lainnya. Subhanallah!
Allah menciptakan hewan, makhluk bernyawa dengan berbagai bentuknya, di darat, di laut dan di udara. Ada yang melata bergerak dengan menghela perut. Ada yang berjalan dengan kaki dan kedua tangan. Ada pula yang berenang di dalam air. Ada yang terbang diangkasa. Dari yang bertubuh kecil sampai yang berbadan paling besar. Makhluk yang diberikan nafsu untuk dapat berkembang biak ini tidak dibekali akal yang membuat mereka mampu menguasai makhluk lainnya. Subhanallah!
Namun Allah menciptakan manusia dalam bentuk yang paling sempurna, dibekali akal untuk berfikir dan panca indra untuk melihat, mendengar, mencium, merasa dan berbicara. Diberikan kepada manusia segala sesuatu yang memungkinkannya membangun dan memakmurkan kehidupan di permukaan bumi ini. Gunung, lautan dan daratan yang menyimpan kekayaan yang melimpah ruah, juga berbagai makhluk lainnya, dijadikan-Nya tunduk kepada manusia untuk memenuhi kepentingan hidup manusia tersebut. Subhanallah wa alhamdulillah!
Namun, sayangnya, mereka, terkadang turun derajatnya, layaknya hewan yang tidak mengenal panca indera. Dan tidak bisa berfikir. Salah satu contoh kecil adalah ketika mereka tak mampu menjawab dari hati nuraninya terhadap masalah busana.
Apakah gerangan yang membuat manusia ingin turun ke derajat makhluk tak berakal seperti hewan yang tidak dibekali kemampuan mengenal busana? Apa pula gerangan yang membuat para wanita berbudaya ingin turun ke derajat manusia terbelakang yang belum tersentuh peradaban? Entahlah.
Suku Asmat di pedalaman Irian yang belum tersentuh peradaban tentu saja berbeda dengan warga Metropolitan yang setiap saat mengikuti canggihnya perkembangan tehnologi. Suku Asmat yang selama ini telanjang bulat, baik laki-laki ataupun wanitanya tidak dipermasalahkan dan tidak perlu dipenjarakan karena mereka berada ditengah hutan, hidup diantara pepohonan. Mereka tidak mengenal busana, sendok garpu, alat tulis apalagi gelar kesarjanaan.
Berbeda dengan warga kota, insan berbudaya yang telah mendapatkan pendidikan –paling kurang enam tahun ditingkat Sekolah Dasar- - dan hidup di tengah arus informasi yang mengalir bagai tak bertepi. Bugil-bugilan yang mereka pamerkan dan mereka pertontonkan di tengah masyarakat perkotaan justru menjadi bahan tertawaan sekaligus memprihatinkan. Karena itu, suku Asmat tidaklah perlu dipenjarakan, karenanya, tempat yang cocok baginya adalah pedalaman Irian. Namun haruskah wanita-wanita perktaan, yang mencintai dan membela pornografi dan bugil bergabung kesana?
Wawasan Kebangsaan
Perempuan, keutuhan rumah tangga dan masa depan bangsa harus diselamatkan secara bersama-sama oleh kita semua sebagai warga bangsa. Kata pepatah, jika perempuan rusak, rumah tangga otomatis berantakan pula. Sebab dari rumah tangga yang rusak akan lahir generasi yang rusak pula. Jika generasinya sudah rusak tentunya bangsa akan ikut menjadi lemah, selanjutnya tinggal menunggu masa kehancurannya.
Karena kita patut bertanya ketika ada sebuah upaya pembuatan Undang-Undang yang membela kehormatan perempuan justru penentangnya adalah aktifis perempuan sendiri. Apakah sebenarnya yang diperjuangkan aktifis perempuan? Kebebasan berekspresi dengan mengorbankan harga diri dan nilai kemanusiaan perempuan? Atau kepuasan mendapat pujian dengan mengorbankan keutuhan rumah tangga, yang berakibat pada hancurnya generasi bangsa?
Ataukah kepuasan meraup keuntungan materi yang nikmatnya sebatas tenggorokan dengan mengorbankan ketenangan jiwa para pelakunya?
Haruslah jujur. Pornografi dan pornoaksi telah membuat manusia lupa pada martabat dan harga dirinya sebagai makhluk mulia yang di tempatkan oleh sang Maha Pencipta jauh berada di atas makhluk-makhluk lainnya.
Melalap semua yang datang dari Barat dan membeo mengikuti gaya hidup bangsa maju tanpa filter bukanlah cermin pemuda pemudi harapan masa depan bangsa.
Kegandrungan meniru gaya apa saja yang sedang trend di negara maju, sekalipun gaya hidup tersebut bertentangan dengan nilai-nilai luhur kemanusiaan dan dapat menjatuhkan martabat manusia ke derajat yang terhina, adalah gejala sebuah bangsa yang mulai kehilangan identitas diri.
Gejala ini barangkali masih dapat ditolerir jika itu terjadi sebatas tingkat remaja yang masih mencari identitas diri. Namun keprihatinan akan hilangnya identitas diri semakin menguat ketika yang bergerak menggelar penolakan UU APP itu bukanlah para remaja. Tapi para aktifis perempuan dan bahkan dari kalangan tokoh pembesar negeri ini.
Tidak ada bangsa di dunia ini yang dihargai, disegani dan dihormati karena melanggar nilai-nilai moral. Tidak ada bangsa yang diperhitungkan dalam percaturan dunia karena menerjang norma-norma susila. Satu hal yang perlu dicatat dan diingat bahwa Barat bukan maju karena kebebasan seksual yang nyaring diteriakkan ke telinga ummat Islam, sebaliknya dalam moralitas seksual, Barat telah menjatuhkan martabat manusia sejajar bahkan lebih rendah dari makhluk tidak berakal.
Bagaimanapun, melegalkan pornografi dan pornoaksi jelas bertentangan dengan sila ketuhanan dan kemanusiaan yang tercantum dalam dasar negara Pancasila. “Kebebasan berekspresi” yang merendahkan martabat manusia –dan kini justru dibela sebagian aktifis perempuan, budayawan, praktisi hukum dan lainnya yang notabene adalah cendekiawan yang turut menentukan sejarah perjalanan bangsa– adalah gejala pemimpin yang kehilangan wawasan kebangsaannya.
*) Penulis tinggal di Jeddah
Sumber asli: Hidayatullah.com