Anti Pornografi

RUU APP BUKAN untuk menyeragamkan budaya,
BUKAN untuk menyeragamkan dalam berpakaian,
BUKAN untuk memaksakan aturan suatu agama.
RUU APP dapat mengangkat suatu kaum/suku yang masih berpakaian / pola hidup
yang tertinggal, dan BUKAN untuk menangkapnya. Kenapa ?
Karena mereka bukan dengan sengaja mempertontonkannya.
Tapi ini merupakan tugas kita untuk menjadikan mereka
lebih beradab dalam era globalisasi ini.

RUU APP ini justru untuk mendefinisikan Pornografi dan Pornoaksi,
karena TIDAK ADA satupun UU yang jelas mendefinisikan pornografi.
RUU APP ini hanya meminta warga negaranya berpakaian secara sopan,
TIDAK untuk memancing birahi lawan jenisnya (baik laki-laki dan perempuan),
TIDAK ada pemaksaan untuk berpakaian model Islami/Arab/Taliban.
RUU APP melindungi kaum perempuan Indonesia dari
pihak-pihak yang justru merendahkan kaum perempuan
dengan dijadikan objek yang laku dijual demi kaum laki-laki hidung belang.
RUU APP melindungi moral anak-anak kita dari bahaya pornografi
demi membangun masa depan bangsa dengan keilmuannya
bukan dengan mempertontonkan tubuhnya atau bahkan melacurkan dirinya.

Janganlah kalian EGOIS karena saat ini
kalian dapat menikmati keindahan tubuh perempuan.
Janganlah kalian EGOIS karena saat ini banyak job order
untuk tampil dan terkenal dengan mempertontonkan tubuh kalian.
Janganlah kalian mengeruk profit dari mempertontonkan tubuh perempuan
yang justru menghinakan/merendahkan kaum perempuan.

Lihatlah masa depan bangsa…
lihatlah masa depan anak-anak bangsa yang masih lucu,
lugu dan mereka sedang giat belajar.
Jangan ganggu dan usik mereka oleh media pornografi.
Jangan hinakan harga diri mereka karena
ibunya/ayahnya mempertontonkan keindahan tubuhnya.



Selamatkan anak-anak kita dari bahaya pornografi !

Fri 7th Apr, 2006, Berita

Ketua Pansus RUU APP Minta Pemerintah Tindak Playboy

Muhammad Nur Hayid - detikcom

Jakarta - Penerbitan Majalah Playboy versi Indonesia terus mendapat sambutan pro dan kontra. Ketua Pansus RUU Anti Pornografi dan Pornoaksi (APP) DPR Balkan Kaplale meminta pemerintah bertindak tegas atas penerbitan majalah tersebut.

Beberapa bulan lalu, melalui Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan, Balkan mengaku telah meminta melarang penerbitan majalah tersebut. “Pemerintah harus cepat ambil tindakan, karena ini sudah mempengaruhi budaya,”

ujar Balkan Kaplale kepada detikcom di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Jumat (7/4/2006).

Menurut Balkan, penerbitan edisi perdana dengan cover yang biasa itu dinilai sebagai strategi untuk mengelabui pemasaran. Karena pada akhirnya nanti, majalah tersebut akan kembali dengan wujud aslinya sebagai majalah syurr.

“Tidak mungkin penjual hamburger dipaksa menjual gudeg. Jadi ini sebentar saja, itu pura-pura saja. Nanti juga akan jualan hamburger,” ujar Balkan Kaplale.

Balkan meminta aparat bersikap tegas, karena RUU APP sebentar lagi akan disahkan.

Sementara itu, Sekretaris FPPP Lukman Hakiem mengecam keras kenekatan penerbitan Playboy. Ia meminta pihak penerbit menghargai perasaan masyarakat Indonesia yang menolak penerbitan majalah tersebut. “Itu harus dikecam, pemerintah harus lebih tegas,” kata dia.

Menurut Hakiem, cover yang biasa merupakan siasat dagang semata yang pada akhirnya akan kembali dengan awal sebagai majalah yang berbau porno. “Jangan sampai dengan dalih reformasi semua boleh dilakukan,” katanya.(jon)

Sumber asli: detik.com

Comments »

Right Click Here for TrackBack URI

No comments yet.

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>


Anti-spam

Catatan:

  • Komentar tidak menggunakan kata-kata yang kotor, bukan spam dan iklan.
  • Moderator berhak mengedit bahkan menghapus setiap komentar tanpa pemberitahuan terlebih dahulu dan bersifat mutlak
  • Kami tidak melayani surat-menyurat untuk menanggapi tanggapan Anda di sini.
  • Sekedar mengingatkan, bahwa web blog ini dikhususkan untuk mendukung RUU APP dan prihatin atas bahaya pornografi yang bertebaran di negara kita ini.
  • Selamat berdiskusi!
No Porn