Pornografi dan pornoaksi udah lama bikin gara-gara di negeri kita.
Peredarannya yang liar tak terkendali baik di dunia nyata, layar kaca,
apalagi di dunia maya bikin resah masyarakat.
Buktinya, meski menuai banyak protes, majalah Playboy versi Indonesia tetep
ngotot bakal nongol bulan April 2006 ini. Di layar kaca, menurut sebuah
penelitian yang dilakukan tim Puslitbang Kemasyarakatan dan Kebudayaan LIPI,
dari beragamnya program acara yang ditayangkan, hampir separo nyaris
berpotensi menampilkan visualisasi yang berbau pornografi (jawapos.com,
25/01/06). Di dunia maya, cyberporn berceceran nggak karuan. Kata Direktur
Manajer Aneka CL- Jejak Kaki Internet Protection, William B Kurniawan,
hingga saat ini lebih dari 1.100 situs lokal terlarang ditemukan di dunia
maya (Media Indonesia Online, 27/01/06)
Tuh kan sobat, gimana bisa hidup tenang kalo media porno mengepung kita
dengan rapat dari delapan penjuru mata angin. Rada mending pemerintah negeri
ini mau bersusah payah ngegodok Rancangan Undang-Undang Anti-Pornografi dan
Pornoaksi (RUU APP). Tapi kok gak mateng-mateng ya tuh RUU? Ya gimana mo
mateng kalo masih ada pro-kontra dan nggak serius dari dulu. Hehehe…
Bener lho. Selain karena adanya pro-kontra, juga emang nggak serius. Bahkan
harus tarik-ulur dan akhirnya banyak pasal yang kompromistis (khas
sekularisme-lah).
Pro-kontra RUU APP
Saat ini masyarakat Indonesia terbagi pada dua kubu terkait rencana
pengesahan RUU-APP oleh pemerintah. Satu kubu menolak mentah-mentah dan kubu
lainnya mendukung mateng-mateng.
Sedikitnya 13 LSM yang mengusung hak perempuan tegas-tegas menolak RUU
Anti-Pornografi dan Pornoaksi disahkan jadi UU (23/2/2006). Di Yogyakarta,
himpunan elemen mahasiswa bersama sejumlah aktivis perempuan membubuhkan
tanda tangan sebagai penolakan atas RUU APP (Detik.com, 08/03/06). Nggak
ketinggalan para selebritis seperti Dian Sastro yang bergabung dalam Aliansi
Mawar Putih, mengajak rekan-rekan profesinya untuk ikut membuat petisi
penolakan RUU APP. (Fajar Online, 10/03/06).
Yang mendukung, jumlahnya jauh lebih banyak. Seperti yang tergabung dalam
aksi solidaritas yang digelar MUI, berbagai elemen masyarakat dan organisasi
Islam pada ahad (26/03/06) lalu. Bahkan menurut ketua pansus RUU-APP, Balkan
Kaplale, dari 167 lembaga masyarakat yang menemui pansus, 144 menyatakan
setuju dan 23 menolak. Itu artinya, yang menolak keliatan banyak karena
dibesarkan oleh pemberitaan media massa. Padahal mah, dikit tuh!
Selain yang pro dan kontra, ternyata ada kubu ketiga yang belon kesebut dan
malu memperkenalkan diri. Mereka adalah pihak yang ragu bin nggak berani
nentuin sikap. Suara hatinya sih mungkin ngedukung abis usaha pemerintah
negeri ini untuk memerangi pornografi dan pornoaksi. Tapi kalo nggak boleh
pake pakaian seksi atau nggak boleh bermesraan ama bokin di tempat umum,
gimana yaa?
Ada apa dengan penolakan RUU-APP?
Yup, kita wajib tahu alasan yang dipake para penolak RUU APP. Biar kita bisa
menilai apakah alasan mereka itu masuk akal atau cuma akal-akalan. Yuk!
Pertama, RUU APP dianggap bias gender karena wanita yang selalu disalahkan
sebagai biang keladi penghancur moral masyarakat. Padahal nggak ada tuh
dalam draf RUU kata-kata wanita atau perempuan. Yang dicantumkan, ‘setiap
orang’. Mereka aja kalee yang kegeeran lantaran suka pake busana yang mini
dan berperilaku sensual. Makanya busana tuh digunakan sesuai fungsinya untuk
menutup aurat, bukan malah mengumbar aurat di depan umum. Kena deh!
Kedua, mengancam pariwisata terutama di Pulau Dewata. Waduh, ini alasan apa
kejujuran. Kita malah sedih denger pernyatan ini. Berarti selama ini daya
tarik wisata kita dengan panorama alam yang indah cuma dijadiin tempat
bule-bule nggak pake baju berjemur di pantai. Atau pake baju irit bahan
berkeliaran di tempat-tempat umum. Udah gitu mo dipertahankan cuma karena
alasan ekonomi dan devisa. Nggak mikir apa budaya Barat sekuler yang dibawa
para turis asing itu justru bakal ngancurin budaya negeri ini?
Teganya…teganya…!
Ketiga, RUU APP dikhawatirkan bakal menghilangkan budaya tradisional
kebanggaan bangsa seperti pakaian koteka di Papua, kemben di Jawa, atau
kostum penari adat di Bali. Pemikiran yang aneh. Masa’ kita rela ngebiarin
mereka tetep ngelakonin kehidupan jahiliyah dengan mengumbar aurat. Padahal
kita sendiri bakal ogah bin malu van tengsin kalo kudu hidup kayak mereka.
Ya, karena kita tahu itu udah bukan jamannya lagi. Apalagi setelah Islam
datang dengan aturannya yang memuliakan manusia dalam kehidupan. Emangnya mo
balik ke jaman Flinstone?
Keempat, memasung kreasi seni. Kasian banget ya para seniman kalo karya
mereka dianggap eksis cuma karena bisa bikin yang sensual dan cenderung
vulgar. Seolah-olah kreasi para seniman mati kutu kalo nggak mengeksplorasi
daya tarik seksual dan memposisikan wanita sebagai objek. Kalo memang
ngerasa seniman tulen yang punya cita rasa dan apresiasi seni yang luhur dan
mulia, tentu nggak perlu risau dengan RUU APP ini. Justru seneng lantaran
nama baiknya tidak tercoreng oleh oknum seniman yang cuma punya modal otak
mesum. Iya nggak seh?
Kelima, isi RUU APP yang mengatur cara berpakaian dan ekspresi cinta
dianggap ikut campur ruang privat rakyatnya. Padahal aturan itu mencakup
perilaku sensual yang dibawa ke tempat umum. Makanya ada kata-kata
‘dipertontonkan’, ‘disebarluaskan’, atau ‘disiarkan’. Jadi kalo di luar
rumah pake baju seksi bin full pressed body atau kissing di tempat umum
dianggap privasi dan nggak mau diatur, mending jadi peliharaan manusia aja.
Lantaran RUU APP ini nggak akan diberlakukan bagi ayam, bebek, burung,
kucing atau kambing dan sejenisnya. Dijamin aman deh!
Sobat, ternyata alasan penolakan terhadap RUU APP ini kebanyakan karena
mereka ngotot kalo aturan pornografi nggak boleh masuk dalam area seni,
budaya, pariwisata, kebebasan berekspresi, atau ruang privasi. Lha, kalo
pengertian pornografi cuma setengah-setengah atau malah nunggu semua pihak
sepakat, alamat nggak akan pernah kelar pengesahan RUU APP. Sama aja pengen
tetep melestarikan budaya porno yang gencar menyerang kita. Piye iki?
Pake definisi yang pasti!
Dalam Islam, pengertian porno itu berarti menampilkan auratnya baik cewek
maupun cowok di tempat umum. Makanya Islam punya batasan yang tegas bin
jelas tentang aurat. Kalo batasan aurat cowok mah udah hapal kalee. Yup,
antara pusar dan lutut. Sementara aurat wanita adalah seluruh anggota
tubuhnya kecuali wajah dan dua telapak tangannya. Itu berarti
lehernya–meski jenjang–tetep aurat. Begitu juga dengan rambut walau indah,
hitam, panjang, dan no ketombe tetep aurat yang kudu ditutupi kalo keluar
rumah. Nggak boleh keliatan sehelai pun.
Nabi saw. pernah berkata kepada Asma‘ binti Abu Bakar: “Wahai Asma‘
sesungguhnya seorang wanita itu apabila telah baligh (haidl) maka tidak
boleh baginya menampakkan tubuhnya kecuali ini dan ini seraya menunjukkan
wajah dan telapak tangannya.” (HR Abu Dawud)
Dalam sudut pandang Kapitalisme-Sekularisme, pengertian pornografi jadi
kabur alias nggak jelas. Seperti yang diutarakan oleh Dr. Janet E. Steele,
pengajar di Universitas George Washington. Ia mengatakan: Tidaklah mungkin
menarik garis (tegas) dengan mengatakan apa yang disebut pornografi dan yang
bukan pornografi, sehingga bahkan tidak ada gunanya mencoba membuat batasan
(yang tegas). Nah lho, gimana tuh?
Di kepala kaum kapitalis-sekuler, pornografi udah jadi komoditi bisnis.
Pekerja seni, budayawan, fotografer, perancang busana, artis, dan selebriti
ngerasa bebas ngartiin pornografi untuk membenarkan apa yang mereka perbuat.
Makanya sebagian mereka menolak keras pengesahan RUU APP yang dianggapnya
bakal mengancam kehidupan mereka. Emangnya wabah flu burung?
Buat kita selaku remaja muslim, tentu cuma kacamata Islam yang wajib dipake
untuk menilai pornografi. Biar jelas, tegas, dan pastinya dapet ridho Allah.
Bukan ngikutin hawa nafsu. Betul?
Oya, dalam pandangan Islam, aturan menutup aurat itu selain ketika keluar
rumah, juga ketika di dalam rumah tapi ada orang asing (bukan mahram) saat
mereka bertamu atau berkunjung. Eh, suami-istri boleh kok ciuman, tapi di
dalam rumah dong. Kalo di luar rumah? Wah, nggak etis aja, gitu lho. Malu
atuh diliat sama orang. Entar orang lain tergoda deh.
Ada yang sama pentingnya…
Sobat, kalo kita telusuri jejak hadirnya pornografi dan pornoaksi di negeri
kita, nggak akan terlepas dari pola hidup sekuler Barat yang menjajah kita.
Pola hidup yang menjauhkan aturan agama dari kehidupan ini turut membidani
lahirnya orang-orang matre bin individualis. Rela menghalalkan segala cara
demi meraup keuntungan pribadi. Walhasil, tiap orang bebas mo ngapain aja
sepanjang nggak ganggu orang laen secara kriminal.
Orang-orang model gini yang gampang ngiler ngeliat keuntungan yang
dijanjikan bisnis birahi yang makin diminati. Mereka terjun menekuni usaha
yang menjual ‘aset-aset berharga’ yang dimiliki setiap wanita or lelaki.
Biar nggak disumpahin orang lantaran jadi biang kehancuran moral masyarakat,
mereka berlindung di balik kreasi seni, kebebasan berekspresi, tren fashion,
hingga tuntutan skenario. Basi deh!
Kondisi seluruh kehidupan saat ini seharusnya menjadi perhatian kita juga
selain pro-kontra RUU APP. Sebab, masalah kriminalitas, korupsi, kemiskinan,
ketidakadilan pelaksanaan hukum dll sama pentingnya dengan masalah
pornografi untuk segera diselesaikan. Jangan dibiarin tambah parah. Lantaran
pola hidup ini yang jadi biang kehancuran setiap sisi kehidupan kita. Nggak
cuma dalam masalah pornografi. Kalo tetep dibiarkan, boleh jadi meski RUU
APP berhasil disahkan, masalah pornografi tetep ada. Bukan apa-apa, karena
pola hidup yang diciptakan Kapitalisme-Sekularisme inilah yang ikut membina
kader-kader pelaku bisnis media porno, pekerja seni pembangkit birahi, sampe
wanita-wanita yang rela di foto telanjang untuk majalah Plaboy edisi
Indonesia dengan bayaran $US 200! Walah!
Sehingga cara yang pas untuk beresin setiap masalah yang ada di negeri kita,
termasuk kasus pornografi dan pornoaksi adalah dengan membabat abis aturan
hidup Kapitalisme-Sekularisme beserta anak-cucunya. Nggak cuma menggolkan
RUU APP, tapi yang penting adalah penerapan seluruh aturan Islam oleh
negara. Caranya? Ganti sistem Kapitalisme dengan Islam sebagai ideologi
negara. Itu baru Te O Pe Be Ge Te.
Budaya porno itu kuno
Sobat, dalam pelajaran sejarah atau film kartun Flinstone kita diperkenalkan
kehidupan manusia primitif. Yang paling keliatan banget dalam peradaban
primitif itu adalah cara berbusana mereka. Yup, bahannya irit banget
sehingga nggak semua bagian tubuhnya tertutupi. Yang penting badannya nggak
kedinginan atau kepanasan. Dalam berbuat pun mereka cenderung bebas tanpa
aturan, karena sekadar memenuhi kebutuhan hidup aja.
Kondisi kayak gini akan senantiasa menyapa kita kalo kehidupan
Sekulerisme-Kapitalisme masih dipelihara. Padahal Islam udah hadir di
tengah-tengah kita dengan membawa aturan hidup yang memuliakan manusia dalam
berpakaian maupun perbuatan. Makanya aneh, setelah Islam datang kok
mau-maunya kembali ke jaman kuno dengan ngotot mempertahankan budaya porno.
Itu namanya nggak beradab.
Itu sebabnya, kita sekarang kudu gencar menyuarakan penerapan syariat Islam
oleh negara yang bisa menjaga kehidupan kita beradab dan mulia. Kalo nggak
kita, siapa lagi yang mau peduli. Padahal entar kita-kita juga yang kena
batunya. Karena itu, saatnya untuk belajar Islam dan terjun bersama dalam
barisan dakwah untuk mengkampanyekan penerapan syariat Islam oleh negara.
Sekarang pilih mana: kembali ke jaman kuno, yakni jaman purba yang bebas
berbuat tanpa aturan, atau kembali kepada Islam? Orang cerdas pasti pilih
syariat Islam. Oke? [Hafidz: hafidz341@telkom.net]
Sumber asli: http://www.asepfirman1924.blogspot.com/