Anti Pornografi

RUU APP BUKAN untuk menyeragamkan budaya,
BUKAN untuk menyeragamkan dalam berpakaian,
BUKAN untuk memaksakan aturan suatu agama.
RUU APP dapat mengangkat suatu kaum/suku yang masih berpakaian / pola hidup
yang tertinggal, dan BUKAN untuk menangkapnya. Kenapa ?
Karena mereka bukan dengan sengaja mempertontonkannya.
Tapi ini merupakan tugas kita untuk menjadikan mereka
lebih beradab dalam era globalisasi ini.

RUU APP ini justru untuk mendefinisikan Pornografi dan Pornoaksi,
karena TIDAK ADA satupun UU yang jelas mendefinisikan pornografi.
RUU APP ini hanya meminta warga negaranya berpakaian secara sopan,
TIDAK untuk memancing birahi lawan jenisnya (baik laki-laki dan perempuan),
TIDAK ada pemaksaan untuk berpakaian model Islami/Arab/Taliban.
RUU APP melindungi kaum perempuan Indonesia dari
pihak-pihak yang justru merendahkan kaum perempuan
dengan dijadikan objek yang laku dijual demi kaum laki-laki hidung belang.
RUU APP melindungi moral anak-anak kita dari bahaya pornografi
demi membangun masa depan bangsa dengan keilmuannya
bukan dengan mempertontonkan tubuhnya atau bahkan melacurkan dirinya.

Janganlah kalian EGOIS karena saat ini
kalian dapat menikmati keindahan tubuh perempuan.
Janganlah kalian EGOIS karena saat ini banyak job order
untuk tampil dan terkenal dengan mempertontonkan tubuh kalian.
Janganlah kalian mengeruk profit dari mempertontonkan tubuh perempuan
yang justru menghinakan/merendahkan kaum perempuan.

Lihatlah masa depan bangsa…
lihatlah masa depan anak-anak bangsa yang masih lucu,
lugu dan mereka sedang giat belajar.
Jangan ganggu dan usik mereka oleh media pornografi.
Jangan hinakan harga diri mereka karena
ibunya/ayahnya mempertontonkan keindahan tubuhnya.



Selamatkan anak-anak kita dari bahaya pornografi !

Mon 10th Apr, 2006, Berita

Mencemaskan, Pornografi di Kalangan Siswa

Alat yang mengantarkan anak berkenalan dengan pornografi adalah ponsel, majalah, novel/komik, CD, dan situs porno di internet.

Ini cerita Elly Risman, psikolog dari Yayasan Kita dan Buah Hati, saat berkunjung ke sebuah sekolah dasar di Jakarta. Saat hendak menyudahi acara, tiba-tiba seorang anak berdiri dan langsung berkata, ‘’Ibu Elly boleh tanya nggak?'’

Elly pun dengan bijak menjawab, ‘’Boleh, Nak!'’ Bocah yang masih duduk di bangku kelas lima SD itu dengan lugunya bertanya, ‘’Bu, kalau saya sudah menikah, saya boleh menggauli istri saya dari depan, belakang, dan samping?'’

Elly berbelalak. Ia mengaku langsung berkeringat dingin mendengarnya. ‘’Yang berkeringat bukan kepala saya, tapi telapak kaki saya. Saya takut, saya tidak bisa menjawab,'’ tandas Elly ketika mempresentasikan hasil temuannya dalam sebuah forum yang digelar istri Wakil Presiden, Hj Mufida Yusuf Kalla, Rabu (15/2).

Inilah yang mendorong dia dan timnya untuk menelusuri akar pronografi di kalangan anak-anak. Beberapa sarjana psikologi lulusan baru direkrutnya dalam tim yang dinamai Konselor Remaja. Tujuannya, karena jenjang umur yang tak begitu jauh, anak-anak bisa mengutarakan pendapatnya secara terbuka.

Tim inilah yang kemudian melakukan survey ke sejumlah sekolah dasar. Kepada mereka kemudian diajukan sejumlah pertanyaan. Misalnya apa pandangan mereka soal pornografi? ‘’Jawabannya beragam. ‘’Mereka mengatakan wanita berpakaian seksi dan tipis, laki-laki wanita dewasa yang bugil, dan istilah-istilah lain yang tidak pantas kami tampilkan di sini,'’ sambungnya.

Yang menarik, sambung Elly, dari berbagai survey yang dilakukan, ternyata alat yang mengantarkan anak-anak berkenalan dengan pornografi adalah melalui ponsel. Urutan berikutnya adalah majalah, novel, CD, dan situs porno di internet.

Yang mencengangkan, ungkap Elly, daftar situs porno yang disebutkan langsung oleh anak-anak SD itu jumlahnya cukup banyak. Rata-rata, mereka menemukan alamat situs itu secara tidak sengaja.

Elly kemudian mengungkapkan alasan mengapa anak-anak ingin tahu pornografi. Yang paling banyak adalah karena iseng. Kedua, karena penasaran. Ketiga, takut dibilang kurang pergaulan.

Dari mana mereka mendapatkannya? ‘’Dari rental internet, dari kaki lima. Kami juga menemukan ada beberapa orang tua yang teledor. Setelah orang tua menonton, VCD tidak dipindah. Sehabis mereka baca buku porno, tidak dipindah. Bahkan kami temukan di dalam mobil antar jemput sekolah.'’

Apa reaksi anak kita setelah menyaksikan pornografi? ‘’Karena ini adalah anak-anak SD, kita juga bersyukur ternyata 52 persen mengatakan jijik menyaksikan pornografi.'’

Setelah lima tahun melakukan penelitian terhadap pornografi, ia menemukan benang merahnya. Menurut dia, merebaknya pornografi karena ada film impor, ada VCD-nya yang sangat mudah didapat dengan hanya harga Rp 3.000-Rp 5.000, komik-komik porno, dan sinetron atau film-film dengan bumbu pornoaksi.

Mufida salam pengantarnya selaku pemrakarsa pertemuan tersebut mengaku, ia tergugah untuk mengadakan forum itu karena keprihatinannya atas merebaknya pornografi di kalangan siswa. ‘’Sebagian dari mereka menjadi pelaku dan sebagian lainnya menjadi korban pelecehan seksual,'’ ujarnya.

Kenyataan ini, sambung dia, bukan hanya melanda anak-anak dari kalangan berada tapi justru meluas ke anak-anak dari keluarga menengah ke bawah. Bahkan di sekolah, ada guru yang berperan menjadi ’supervisi’ kasus asusila itu. ‘’Berita di media massa dan survey yang dilakukan Yayasan Kita dan Buah Hati menunjukkan anak-anak kita tengah mengalami krisis moral.'’

Oleh karena itu, ia berharap forum itu bisa bersama-sama menguraikan masalah tersebut dan mencarikan jalan keluarnya. ‘’Ini merupakan persoalan besar karena menyangkut anak-anak kita, masa depan bangsa kita,'’ tambah Mufida.

Rae Sita Supit, salah seorang anggota LSF (Lembaga Sensor Film) yang hadir dalam pertemuan itu mengaku sudah lama berjuang untuk menyelamatkan moral bangsa dengan caranya. Misalnya, bersama lembaganya menyeleksi atau menggunting adegan-adegan yang tidak pantas disaksikan anak-anak dan remaja Indonesia.

Tak jarang, akibat tindakannya itu ia harus berhadapan dengan para produser dan pengelola media elektronik. ‘’Tapi, sensor yang kami lakukan belum banyak bisa membantu, karena pornografi akan menembus rumah-rumah kita melalui alat tanpa kabel,'’ ujarnya.

Tapi ia belum patah arang. ‘’Ada cara yang paling ampuh untuk itu, yaitu self sensor pada masing-masing keluarga,'’ pesannya.
(dam )

Sumber asli: http://www.republika.co.id/koran_detail.asp?id=237803&kat_id=147

1 Comment »

Right Click Here for TrackBack URI

  1. Comment by raszes, 28 March 2008 @ 4:33 pm

    ass. wr. wb.

    saya hanya murid sma biasa yang hanya tau sedikit sekali tentang peradaban indonesia, tapi saya tau betul kerusakan masyarakat di sekitar lingkungan saya. Generasi muda angkatan baru yang harusnya memajukan peradaban dan budaya Indonesia dengan karya luar biasa malah tetidur lelap di ninabobokan dengan video “bokep” berformat .3GP yang disimpan di HP mereka yang canggih bukan main. Sehingga membuat teman-teman sepermainan saya berubah menjadi budak syahwat yang tidak karuan pola pikirnya. ia menjadi korban dampak negatif globalisasi, yaitu maraknya pOrnOgrAfI dan pOrnOAksI . . .
    mengapa hal itu bisa terjadi?

    saya analogikan dengan seorang bocah yang membuka jendela kamarnya di malam hari akibat kepanasan. Pastinya ada 2 hal yang terjadi, yang pertama berakibat datangnya angin yang cukup segar tapi yang kedua nyamuk-nyamuk liar pun ikut masuk pula. yang apabila nyamuk itu menggigitnya dapat menyebabkan DB! apakah solusinya? menutup jendela? tentu saja bukan! tapi, si bocah harus segera melumuri badannya dengan lotion AntI-nyAmUk. . . . bukankah seperti itu . . . . . . ????
    maka dari itu mari kita generasi emas yang lahir antara tahun 1980 sampai 2000 harus bangkit! membuat perbedaan antara id dan ego maupun superego (Sigmund Freud:Ilmu Psikoanalisa), jadilah KAMU (baca: ego)yang idealis, empati, kerja keras, suri tauladan, dan yang paling penting mencita-citakan masyarakat madani denagn MENDUKUNG RUU APP!!!!!!!!!!!!!!!!
    dengan RUU ini, masyarakat yang BIADAP dapat berubah menjadi masyarakat BERADAB!
    masihkah ada hati nurani dalam tiap jiwa generasi ini!!!!

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>


Anti-spam

Catatan:

  • Komentar tidak menggunakan kata-kata yang kotor, bukan spam dan iklan.
  • Moderator berhak mengedit bahkan menghapus setiap komentar tanpa pemberitahuan terlebih dahulu dan bersifat mutlak
  • Kami tidak melayani surat-menyurat untuk menanggapi tanggapan Anda di sini.
  • Sekedar mengingatkan, bahwa web blog ini dikhususkan untuk mendukung RUU APP dan prihatin atas bahaya pornografi yang bertebaran di negara kita ini.
  • Selamat berdiskusi!
No Porn