Alat yang mengantarkan anak berkenalan dengan pornografi adalah ponsel, majalah, novel/komik, CD, dan situs porno di internet.
Ini cerita Elly Risman, psikolog dari Yayasan Kita dan Buah Hati, saat berkunjung ke sebuah sekolah dasar di Jakarta. Saat hendak menyudahi acara, tiba-tiba seorang anak berdiri dan langsung berkata, ‘’Ibu Elly boleh tanya nggak?'’
Elly pun dengan bijak menjawab, ‘’Boleh, Nak!'’ Bocah yang masih duduk di bangku kelas lima SD itu dengan lugunya bertanya, ‘’Bu, kalau saya sudah menikah, saya boleh menggauli istri saya dari depan, belakang, dan samping?'’
Elly berbelalak. Ia mengaku langsung berkeringat dingin mendengarnya. ‘’Yang berkeringat bukan kepala saya, tapi telapak kaki saya. Saya takut, saya tidak bisa menjawab,'’ tandas Elly ketika mempresentasikan hasil temuannya dalam sebuah forum yang digelar istri Wakil Presiden, Hj Mufida Yusuf Kalla, Rabu (15/2).
Inilah yang mendorong dia dan timnya untuk menelusuri akar pronografi di kalangan anak-anak. Beberapa sarjana psikologi lulusan baru direkrutnya dalam tim yang dinamai Konselor Remaja. Tujuannya, karena jenjang umur yang tak begitu jauh, anak-anak bisa mengutarakan pendapatnya secara terbuka.
Tim inilah yang kemudian melakukan survey ke sejumlah sekolah dasar. Kepada mereka kemudian diajukan sejumlah pertanyaan. Misalnya apa pandangan mereka soal pornografi? ‘’Jawabannya beragam. ‘’Mereka mengatakan wanita berpakaian seksi dan tipis, laki-laki wanita dewasa yang bugil, dan istilah-istilah lain yang tidak pantas kami tampilkan di sini,'’ sambungnya.
Yang menarik, sambung Elly, dari berbagai survey yang dilakukan, ternyata alat yang mengantarkan anak-anak berkenalan dengan pornografi adalah melalui ponsel. Urutan berikutnya adalah majalah, novel, CD, dan situs porno di internet.
Yang mencengangkan, ungkap Elly, daftar situs porno yang disebutkan langsung oleh anak-anak SD itu jumlahnya cukup banyak. Rata-rata, mereka menemukan alamat situs itu secara tidak sengaja.
Elly kemudian mengungkapkan alasan mengapa anak-anak ingin tahu pornografi. Yang paling banyak adalah karena iseng. Kedua, karena penasaran. Ketiga, takut dibilang kurang pergaulan.
Dari mana mereka mendapatkannya? ‘’Dari rental internet, dari kaki lima. Kami juga menemukan ada beberapa orang tua yang teledor. Setelah orang tua menonton, VCD tidak dipindah. Sehabis mereka baca buku porno, tidak dipindah. Bahkan kami temukan di dalam mobil antar jemput sekolah.'’
Apa reaksi anak kita setelah menyaksikan pornografi? ‘’Karena ini adalah anak-anak SD, kita juga bersyukur ternyata 52 persen mengatakan jijik menyaksikan pornografi.'’
Setelah lima tahun melakukan penelitian terhadap pornografi, ia menemukan benang merahnya. Menurut dia, merebaknya pornografi karena ada film impor, ada VCD-nya yang sangat mudah didapat dengan hanya harga Rp 3.000-Rp 5.000, komik-komik porno, dan sinetron atau film-film dengan bumbu pornoaksi.
Mufida salam pengantarnya selaku pemrakarsa pertemuan tersebut mengaku, ia tergugah untuk mengadakan forum itu karena keprihatinannya atas merebaknya pornografi di kalangan siswa. ‘’Sebagian dari mereka menjadi pelaku dan sebagian lainnya menjadi korban pelecehan seksual,'’ ujarnya.
Kenyataan ini, sambung dia, bukan hanya melanda anak-anak dari kalangan berada tapi justru meluas ke anak-anak dari keluarga menengah ke bawah. Bahkan di sekolah, ada guru yang berperan menjadi ’supervisi’ kasus asusila itu. ‘’Berita di media massa dan survey yang dilakukan Yayasan Kita dan Buah Hati menunjukkan anak-anak kita tengah mengalami krisis moral.'’
Oleh karena itu, ia berharap forum itu bisa bersama-sama menguraikan masalah tersebut dan mencarikan jalan keluarnya. ‘’Ini merupakan persoalan besar karena menyangkut anak-anak kita, masa depan bangsa kita,'’ tambah Mufida.
Rae Sita Supit, salah seorang anggota LSF (Lembaga Sensor Film) yang hadir dalam pertemuan itu mengaku sudah lama berjuang untuk menyelamatkan moral bangsa dengan caranya. Misalnya, bersama lembaganya menyeleksi atau menggunting adegan-adegan yang tidak pantas disaksikan anak-anak dan remaja Indonesia.
Tak jarang, akibat tindakannya itu ia harus berhadapan dengan para produser dan pengelola media elektronik. ‘’Tapi, sensor yang kami lakukan belum banyak bisa membantu, karena pornografi akan menembus rumah-rumah kita melalui alat tanpa kabel,'’ ujarnya.
Tapi ia belum patah arang. ‘’Ada cara yang paling ampuh untuk itu, yaitu self sensor pada masing-masing keluarga,'’ pesannya.
(dam )
Sumber asli: http://www.republika.co.id/koran_detail.asp?id=237803&kat_id=147
ass. wr. wb.
saya hanya murid sma biasa yang hanya tau sedikit sekali tentang peradaban indonesia, tapi saya tau betul kerusakan masyarakat di sekitar lingkungan saya. Generasi muda angkatan baru yang harusnya memajukan peradaban dan budaya Indonesia dengan karya luar biasa malah tetidur lelap di ninabobokan dengan video “bokep” berformat .3GP yang disimpan di HP mereka yang canggih bukan main. Sehingga membuat teman-teman sepermainan saya berubah menjadi budak syahwat yang tidak karuan pola pikirnya. ia menjadi korban dampak negatif globalisasi, yaitu maraknya pOrnOgrAfI dan pOrnOAksI . . .
mengapa hal itu bisa terjadi?
saya analogikan dengan seorang bocah yang membuka jendela kamarnya di malam hari akibat kepanasan. Pastinya ada 2 hal yang terjadi, yang pertama berakibat datangnya angin yang cukup segar tapi yang kedua nyamuk-nyamuk liar pun ikut masuk pula. yang apabila nyamuk itu menggigitnya dapat menyebabkan DB! apakah solusinya? menutup jendela? tentu saja bukan! tapi, si bocah harus segera melumuri badannya dengan lotion AntI-nyAmUk. . . . bukankah seperti itu . . . . . . ????
maka dari itu mari kita generasi emas yang lahir antara tahun 1980 sampai 2000 harus bangkit! membuat perbedaan antara id dan ego maupun superego (Sigmund Freud:Ilmu Psikoanalisa), jadilah KAMU (baca: ego)yang idealis, empati, kerja keras, suri tauladan, dan yang paling penting mencita-citakan masyarakat madani denagn MENDUKUNG RUU APP!!!!!!!!!!!!!!!!
dengan RUU ini, masyarakat yang BIADAP dapat berubah menjadi masyarakat BERADAB!
masihkah ada hati nurani dalam tiap jiwa generasi ini!!!!