Anti Pornografi

RUU APP BUKAN untuk menyeragamkan budaya,
BUKAN untuk menyeragamkan dalam berpakaian,
BUKAN untuk memaksakan aturan suatu agama.
RUU APP dapat mengangkat suatu kaum/suku yang masih berpakaian / pola hidup
yang tertinggal, dan BUKAN untuk menangkapnya. Kenapa ?
Karena mereka bukan dengan sengaja mempertontonkannya.
Tapi ini merupakan tugas kita untuk menjadikan mereka
lebih beradab dalam era globalisasi ini.

RUU APP ini justru untuk mendefinisikan Pornografi dan Pornoaksi,
karena TIDAK ADA satupun UU yang jelas mendefinisikan pornografi.
RUU APP ini hanya meminta warga negaranya berpakaian secara sopan,
TIDAK untuk memancing birahi lawan jenisnya (baik laki-laki dan perempuan),
TIDAK ada pemaksaan untuk berpakaian model Islami/Arab/Taliban.
RUU APP melindungi kaum perempuan Indonesia dari
pihak-pihak yang justru merendahkan kaum perempuan
dengan dijadikan objek yang laku dijual demi kaum laki-laki hidung belang.
RUU APP melindungi moral anak-anak kita dari bahaya pornografi
demi membangun masa depan bangsa dengan keilmuannya
bukan dengan mempertontonkan tubuhnya atau bahkan melacurkan dirinya.

Janganlah kalian EGOIS karena saat ini
kalian dapat menikmati keindahan tubuh perempuan.
Janganlah kalian EGOIS karena saat ini banyak job order
untuk tampil dan terkenal dengan mempertontonkan tubuh kalian.
Janganlah kalian mengeruk profit dari mempertontonkan tubuh perempuan
yang justru menghinakan/merendahkan kaum perempuan.

Lihatlah masa depan bangsa…
lihatlah masa depan anak-anak bangsa yang masih lucu,
lugu dan mereka sedang giat belajar.
Jangan ganggu dan usik mereka oleh media pornografi.
Jangan hinakan harga diri mereka karena
ibunya/ayahnya mempertontonkan keindahan tubuhnya.



Selamatkan anak-anak kita dari bahaya pornografi !

Thu 13th Apr, 2006, Berita

Ketua PWI: Majalah Playboy bukan bagian dari Pers

Kamis, 13 April 2006

Ketua Umum PWI menyebut Playboy lebih ke produk seks. Jadi bukan pers. Apalagi, menurutntya, tak ada jaminan edisi keempat, kelima, tidak telanjang

Hidayatullah.com—-Ketua Umum PWI Pusat Taran Azzam mengatakan, terbitnya majalah Playboy di Indonesia bukan bagian dari pers karena majalah tersebut hanya merupakan produk dunia industri sex.

”Jika terbitnya majalah Playboy di Indonesia hanya menonjolkan gambar-gambar sex, maka majalah tersebut bukan bagian dari pers,” kata Tarman Azzam dalam acara Forum Komunikasi Wartawan Departemen Komunikasi dan Informasi (Depkominfo) di Bogor, Rabu (12/4) malam.

Dia mengatakan, dalam kode etik jurnalistik disebutkan tidak boleh membuat berita dan gambar-gambar yang bersifat cabul. ”Kita kan tidak tahu apakah majalah Playboy dalam penerbitan selanjutnya akan tampil tidak telanjang,” kata Tarman Azzam.

Menurut dia, pada penerbitan perdana, kedua, ketiga, keempat, kelima, keenam terbitnya sopan, tetapi siapa yang akan menjamin pada penerbitan ketujuh dan selanjutnya tidak telanjang. Lebih lanjut, dia mengatakan, untuk mendapatkan lisensi Majalah Playboy versi Indonesia dibutuhkan biaya Rp 1 miliar. ”Jika pada edisi perdana majalah tersebut sebanyak 100.000 eksemplar dengan harga Rp 39.000 maka mereka sudah meraih keuntungan.”

”Jika ditutup saat ini, mereka juga sudah untung. Ini merupakan kejelian pengelola Majalah Playboy dalam melihat pasar,” ujarnya.

Tarman juga mengatakan, dengan terbitnya Majalah Playboy tersebut merupakan momentum untuk mengajukan class action atas tampilan porno tersebut. Sebuah penerbitan, kata dia, harus bersifat umum, informatif, sosial, dan mendidik (ant/cha)

http://hidayatullah.com/content/view/2991/1/

Comments »

Right Click Here for TrackBack URI

No comments yet.

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>


Anti-spam

Catatan:

  • Komentar tidak menggunakan kata-kata yang kotor, bukan spam dan iklan.
  • Moderator berhak mengedit bahkan menghapus setiap komentar tanpa pemberitahuan terlebih dahulu dan bersifat mutlak
  • Kami tidak melayani surat-menyurat untuk menanggapi tanggapan Anda di sini.
  • Sekedar mengingatkan, bahwa web blog ini dikhususkan untuk mendukung RUU APP dan prihatin atas bahaya pornografi yang bertebaran di negara kita ini.
  • Selamat berdiskusi!
No Porn