Anti Pornografi

RUU APP BUKAN untuk menyeragamkan budaya,
BUKAN untuk menyeragamkan dalam berpakaian,
BUKAN untuk memaksakan aturan suatu agama.
RUU APP dapat mengangkat suatu kaum/suku yang masih berpakaian / pola hidup
yang tertinggal, dan BUKAN untuk menangkapnya. Kenapa ?
Karena mereka bukan dengan sengaja mempertontonkannya.
Tapi ini merupakan tugas kita untuk menjadikan mereka
lebih beradab dalam era globalisasi ini.

RUU APP ini justru untuk mendefinisikan Pornografi dan Pornoaksi,
karena TIDAK ADA satupun UU yang jelas mendefinisikan pornografi.
RUU APP ini hanya meminta warga negaranya berpakaian secara sopan,
TIDAK untuk memancing birahi lawan jenisnya (baik laki-laki dan perempuan),
TIDAK ada pemaksaan untuk berpakaian model Islami/Arab/Taliban.
RUU APP melindungi kaum perempuan Indonesia dari
pihak-pihak yang justru merendahkan kaum perempuan
dengan dijadikan objek yang laku dijual demi kaum laki-laki hidung belang.
RUU APP melindungi moral anak-anak kita dari bahaya pornografi
demi membangun masa depan bangsa dengan keilmuannya
bukan dengan mempertontonkan tubuhnya atau bahkan melacurkan dirinya.

Janganlah kalian EGOIS karena saat ini
kalian dapat menikmati keindahan tubuh perempuan.
Janganlah kalian EGOIS karena saat ini banyak job order
untuk tampil dan terkenal dengan mempertontonkan tubuh kalian.
Janganlah kalian mengeruk profit dari mempertontonkan tubuh perempuan
yang justru menghinakan/merendahkan kaum perempuan.

Lihatlah masa depan bangsa…
lihatlah masa depan anak-anak bangsa yang masih lucu,
lugu dan mereka sedang giat belajar.
Jangan ganggu dan usik mereka oleh media pornografi.
Jangan hinakan harga diri mereka karena
ibunya/ayahnya mempertontonkan keindahan tubuhnya.



Selamatkan anak-anak kita dari bahaya pornografi !

Tue 18th Apr, 2006, Artikel

Thoyfoer : RUU APP Bukan Dari Islam Garis Keras

Semarang ( Berita ) : Anggota Panitia Khusus Rancangan Undang-Undang Antipornografi dan Pornoaksi DPR, KH Achmad Thoyfoer MC menegaskan,

usulan RUU APP yang sekarang menimbulkan pro dan kontra bukan berasal dari kalangan Islam garis keras, melainkan dari Korps Wanita Indonesia (Kowani) yang di dalamnya terdapat 78 organisasi perempuan.

Penegasan Thoyfoer ini disampaikan dalam diskusi “Pornografi:Yes?” di Semarang, Sabtu (18/03), yang diprakarsai Forum Wartawan Provinsi Jawa Tengah, untuk mengoreksi anggapan keliru bahwa usulan RUU APP berasal dari kalangan Islam, terutama dari kalangan Islam fanatik yang sering disebut garis keras.

Menurut Thoyfoer yang Ketua DPW PPP Jawa Tengah itu, bukan hanya Kowani yang menganggap perlu RUU APP, Kementerian Pemberdayaan Perempuan juga memasukkan regulasi ini dalam rencana strategi (renstra).

Bila pasal-pasal RUU APP banyak dijumpai kesamaan dengan pengaturan dan pembatasan penampakan aurat pada agama tertentu, menurut dia, hal ini disebabkan agama tersebut memang mengatur secara detil dalam hal aurat.

Menanggapi gugatan bahwa RUU APP merupakan wujud campur negara dalam urusan moral warga negaranya, Thoyfoer menegaskan, negara memang bisa campur tangan mengatur moral warga negaranya.

“Saya tidak bisa menerima pendapat yang menyatakan negara tidak boleh campur tangan urusan moral warga negaranya. Negara punya tanggung jawab mengawal moral warga negara. Jangan pura-pura tidak tahu pornografi,” katanya.

Diskusi ini selain menghadirkan Thoyfoer, juga mendengar pembelaan estetis dan pembelaan atas nama kebebasan berekspresi dari perupa Agus Suwage yang menciptakan karya “Pinkswing Park” foto telanjang artis Anjasmara dan model Isabel Yahya, yang disebut Agus sebagai seni instalasi ruang, bukan pornografi.

Ketika Agus Suwage menayangkan karya melalui slide dalam diskusi itu, Thoyfoer menggugat, alasan apa yang menyebabkan seniman atas nama kebebasan berekspresi masih menutup bagian vital dua model dalam fotonya itu dengan lingkaran putih.

Agus menyatakan, kedua model itu tidak difoto telanjang, tetapi menggunakan teknologi komputer. Pameran tersebut juga digelar di ruang yang didesain secara khusus, menyerupai ruang toilet yang membagi dua bagian pria dan wanita.

Enin, kurator seni independen yang hadir pada diskusi itu menyatakan, karya Agus Suwage murni karya seni instalasi ruangan, tapi belakangan oleh media telah direduksi menjadi pornografi.

“Jangan melihat karya seni dari sudut pandang seenaknya sendiri, karena itu hal itu akan menimbulkan intepretsi sendiri pula,” katanya.

Ia menegaskan, seniman dan budayawan memiliki tanggung jawab menjaga moral masyarakat dengan caranya sendiri.

Pelukis terkenal Raden Saleh menggambar proses penangkapan Pangeran Diponegoro dengan pesan moral yang dalam, menentang kolonial. Diponegoro pada penangkapan digambarkan tidak bersenjata dan berdiri dalam posisi tegak sejajar dan Belanda, katanya.

Ketua PWI Jateng Sasongko Tedjo yang juga menjadi narasumber melihat, pro dan kontra RUU APP sudah tidak produktif lagi, karena masalah bangsa yang dihadapi saat ini dan membutuhkan pemecahan secepatnya jauh lebih banyak, seperti korupsi, kemiskinan, Freeprot, Blok Cepu, dan lainnya.

“Sebaikanya pro dan kontra RUU APP diakhiri dengan moratorium (pengendapan) masalah ini,” katanya.

Tetapi oleh Teguh, pemandu (moderator) diskusi ini disanggah, draf RUU APP ini sudah ada sejak DPR RI periode sebelumnya. “Jangan-jangan DPR periode mendatang akan mengatakan hal sama,” kata Teguh, jurnalis SCTV. (Ant)

Sumber asli: beritasore.com

1 Comment »

Right Click Here for TrackBack URI

  1. Comment by ayeszemboque, 12 June 2008 @ 10:01 pm

    Kekerasan atas nama agama lagi marak, neh…
    Makanya disarankan jangan gampang percaya kalo ada yang bilang Islam adalah agama….
    Bisa saja terjadi bahwa ternyata ISLAM BUKAN AGAMA……..
    BENAR DAN SALAH GAK PENTING…., deh…! Penasaran gak percaya, coba aja dateng ke :
    http://islamreguler.wordpress.com

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>


Anti-spam

Catatan:

  • Komentar tidak menggunakan kata-kata yang kotor, bukan spam dan iklan.
  • Moderator berhak mengedit bahkan menghapus setiap komentar tanpa pemberitahuan terlebih dahulu dan bersifat mutlak
  • Kami tidak melayani surat-menyurat untuk menanggapi tanggapan Anda di sini.
  • Sekedar mengingatkan, bahwa web blog ini dikhususkan untuk mendukung RUU APP dan prihatin atas bahaya pornografi yang bertebaran di negara kita ini.
  • Selamat berdiskusi!
No Porn