…Didalam masyarakat Bumiputra, syukurlah belum lagi kami perlu
memerangi setan minum, tetapi saya kuatir, apabila nanti -maafkanlah
saya- peradaban barat telah berkedudukan yang tetap di sini, kami akan
terpaksa pula berjuang dengan kejahatan itu. Peradaban memberi
berkah, tetapi ada pula buruknya. Pikiran saya, suka meniru itu
sudah menjadi tabiat manusia…
Demikian penggalan dari salah satu surat yang ditulis oleh Kartini pada
tanggal 25 Mei 1899. Surat itu ditujukannya untuk nona Estelle
Zeehandelaar. Kartini memang seorang wanita yang fenomental yang lewat
surat-suratnya mampu menempatkan gagasannya sebagai ornamen masa depan
bangsanya, yang mana pada waktu itu belum terjadi pada masanya.
Kartini telah menduga bahwa pada suatu saat nanti peradaban barat akan
berkedudukan tetap di negeri ini. Pengaruh dari sebuah peradaban barat
-notabene adalah budaya asing- diakui oleh Kartini mempunyai sisi baik
yang membawa berkah namun sisi lainnya juga membawa keburukan. Dan
selanjutnya, Kartini mengkhawatirkan sisi buruk dari pengaruh peradaban
barat ini yang dihubungkannya dengan tabiat manusia yang suka meniru
itu, akan menghasilkan sebuah kejahatan didalam masyarakat bumiputra.
Pada waktu itu, Kartini menyebutkan salah satu misalnya adalah setan
minum.
Berkait dengan pengaruh dari sisi buruk peradaban barat, berselang
setengah abad kemudian dari masa kekhawatiran Kartini itu, Presiden
pertama RI -Soekarno- di Istana Merdeka dalam pidato kenegaraan -yang
disampaikannya berkenaan dengan peringatan Proklamasi Kemerdekaan
Republik Indonesia- telah mengintruksikan kepada seluruh rakyat
Indonesia untuk berjuang mencapai cita-cita bangsa Indonesia yang
berdaulat dalam bidang politik, yang berdikari dalam bidang ekonomi,
dan yang berkepribadian dalam bidang kebudayaan.
Dalam hal berkepribadian di bidang budaya ini, Bung Karno menentang
keras apa yang disebutnya sebagai Musik Ngak Ngik Ngok, Literatur
Picisan, dan Dansa-Dansi-Ajojing yang Gila-Gilaan. Serta, Bung Karno
juga menginginkan agar dalam berpakaian pun bangsa Indonesia ini
mencerminkan kepribadian Indonesia-nya. Maka dicanangkanlah program
kampanye Ganyang You Can See, yaitu salah satu mode busana yang
memperlihatkan ketiak pemakainya.
Dan, selaras dengan kekhawatiran Kartini maupun Soekarno -hari ini telah
terjadi di negeri dengan tabiat suka meniru ini- peradaban barat telah
berkedudukan tetap di negeri ini. Selanjutnya, dampak buruk dari
globalisasi membuat sisi buruk dari pengaruh peradaban barat semakin
menggerayangi habis-habisan segala sudut penjuru kehidupan masyarakat
negeri ini. Sehingga, manusianya telah tercerabut dari akar budaya
bangsanya, dan manusianya telah terlepaskan dari jati diri budaya
bangsanya.
Dan, hari ini di negeri dengan tabiat suka meniru ini, para anggota yang
terhormat dari Parlemen Republik Indonesia telah mencoba melakukan
inisiatifnya untuk mengundangkan sebuah perangkat hukum berupa
Undang-Undang, yang bertujuan untuk menangkal atau memberikan filter
bagi pengaruh dari salah satu sisi buruknya peradaban barat -budaya
pornografi dan pornoaksi- yang merusak moral masyarakat dan jati diri
budaya bangsa Indonesia.
Seperti biasa, terjadilah kericuhan wacana serta keriuhan pro dan
kontra. Lalu muncul sebuah parodi yang luar biasa kocaknya , barang
baik untuk kebaikan tetapi malah dinegasikan.
Lakon komedi ini -mengutip dari sebuah artikel di Koran Tempo-
sebagaimana umumnya, menampilkan bintang-bintang tamu. Belasan LSM
perempuan dan para seniman muncul sebagai pemeran antagonis-nya.
Masih mengutip dari sebuah artikel di Koran Tempo, maka para pembangkang
karbitan ini juga memberikan pertunjukan serupa, mengocok perut kita.
Sama seperti lembaga komedi, pernyataan-pernyataan dari para pembangkang
karbitan ini, terutama para seniman, jelas sangat absurd.
Ditengah-tengah masyarakat yang pragmatis, peradaban barat mengambil
tempat teratas. Tempat dimana budaya meniru bukan lagi sekedar tabiat,
tapi telah menjadi doktrin budaya. Pada situasi ini lembaga komedi dan
pembangkang karbitan mempertontonkan pertunjukkan mereka. Seperti
lumrahnya, kisah dan cerita bisa dipesankan tergantung siapa yang
menjadi funding-nya.
Kemudian, bagaimanakah sikap Megawati Soekarnoputri berkait dengan
infiltrasi sisi buruk dari budaya barat yang telah merusak moral dan
akhlak masyarakat yang sebangsa dan setanah air dengannya, serta yang
telah membuat bangsa Indonesia tercerabut dari akar budaya bangsanya dan
terlepaskan dari jati diri budaya bangsanya ?.
Sementara ini, menurut sikap yang disampaikan oleh organ dari partai
yang diketuainya -PDIP- yang disampaikan dalam seminar yang bertema
Proyeksi kecenderungan perubahan Situasi Politik Nasional dalam rangka
Pemantapan Posisi Perjuangan Politik membela aspirasi rakyat, PDIP
menyatakan sikapnya bahwa sebenarnya sikap PDIP adalah menolak total
RUU APP.
Dengan kata lain, PDIP tidak akan bakalan menyetujui jika hanya
dilakukan revisi dan penyesuaian pada beberapa pasalnya saja. PDIP
hanya mungkin akan menyetujuinya jika dilakukan perombakan total
terhadap keseluruhan isi UU tersebut. Dan judulnya pun dirubah total
menjadi UU Pengaturan dan Pembatasan Peredaran Barang-Barang
Pornografi.
Konsekuensi logis dari perombakan total terhadap keseluruhan isi UU
serta perubahan total terhadap judul UU, akan membuat perangkat hukum
ini tidak lagi mengatur Anti Pornografi dan Anti Pornoaksi, namun
hanya akan sebatas mengatur Peredaran Barang Pornografi saja.
Memang menjadi sulit dimengerti oleh banyak pihak dan mayoritas khalayak
ramai, namun mungkin memang sudah begitulah dasar keyakinan dan garis
ideologi yang melandasi sikap politiknya Megawati Soekarnoputri.
Walaupun begitu, barangkali tak ada salahnya jika Megawati berkenan
menyempatkan sedikit waktu dan selintas memalingkan perhatiannya,
membuka kembali lembaran memori kenangannya. Mengenang kembali mengapa
Ayahanda tercintanya sampai melakukan pelarangan busana you can see
yang hanya memperlihatkan ketiak.
Berkait itu, ada selembar foto kenangan pada masa itu yang sangatlah
terkenal dan seringkali disiarkan. Bung Karno sedang menari lenso
dengan Megawati Soekarnoputri. Putri kesayangan Bung Karno terlihat
anggun dan menawan serta berwibawa dengan mengenakan busana kebaya dan
kain batik, salah satu mode pakaian wanita yang dominan pada waktu itu.
Sementara itu, salah satu sisi dari budaya suka meniru itu adalah dalam
soal busana. Busana ini merupakan salah satu gejala yang kasat mata
dari suatu proses perubahan sosio-budaya yang sedang terjadi pada suatu
masyarakat, yang lewat caranya berbusana dapat menunjukkan kepada siapa
si pemakainya itu mengidentikkan dirinya. Sehingga ketika media yang
berperan sebagai katalisnya telah menipiskan batas antara kita di sini
dan mereka di sana. Maka, hari ini kita dengan amat mudah akan menemui
kerumunan sekelompok remaja-remaja putri di kota-kota kecil juga
dipelosok-pelosok dusun di ujung gunung -pun tak terkecuali termasuk
pula di seluruh pelosok desa di Jawa Timur yang merupakan salah satu
daerah utama kantung basisnya kaum Nahdliyin- dalam kesehariannya telah
amat terbiasa memakai busana model minim bahan ala tank-top yang
memamerkan pusar yang ditindik ala Britney Spears.
Betapa cepat pengaruh sisi buruk dari peradaban barat ini merangsek dan
merasuk serta merubah budaya bangsa ini, sehingga telah membuat
masyarakat Indonesia tercerabut dari akar budaya bangsanya dan
terlepaskan dari jati diri budaya bangsanya. Hal itu terlihat jelas
dengan telah ditunjukkan oleh fakta bahwa dalam kurun waktu yang tak
lebih dari satu generasi -akhir masa pemerintahan Soekarno sampai awal
masa pemerintahan Megawati Soekarnoputri- dari yang semula busana model
hemat bahan ala you can see yang hanya memamerkan ketiak telah dengan
cepat bermetamorfosa menjadi busana model minim bahan ala tank top
tanpa bra yang memamerkan ketiak ditambah belahan payudara serta pusar.
Oleh sebab itu, jika saat ini tak juga dilakukan suatu upaya filterisasi
terhadap pengaruh sisi buruk dari peradaban barat yang saat ini telah
merasuk jauh didalam kehidupan masyarakat Indonesia. Maka pada sedikit
tahun mendatang, masyarakat Indonesia akan semakin tercerabut dari akar
budaya bangsanya serta masyarakat Indonesia akan semakin terlepas
menjauh dari jati diri budaya bangsanya.
Maka yang akan terjadi selanjutnya, kekhawatiran Kartini -Pahlawan Kaum
Wanita Indonesia- tentang pengaruh sisi buruk dari peradaban barat yang
berkedudukan tetap di negeri ini, akan semakin mewujud. Pada zaman akhir
masa pemerintahan Presiden Soekarno yang semula dari hemat bahan ala
you can see yang hanya memamerkan ketiak kemudian telah bermetamorfosa
seiiring dengan bergulirnya waktu sampai pada zaman awal masa
pemerintahan Presiden Megawati Soekarnoputri telah menjadi minim bahan
ala tank top tanpa bra yang memamerkan ketiak ditambah belahan payudara
serta pusar itu. Selanjutnya terus menerus bermetamorfosa dengan
kecepatan yang meningkat berlipat ganda sehingga menjadi sangat minim
bahan ala tank top tanpa bra yang memamerkan ketiak ditambah belahan
payudara dan pusar serta ditambah pula dengan selangkangan.
Dan nantinya, selepas akhir masa pemerintahan Presiden Susilo Bambang
Yudhoyono, akan seterusnya bermetamorfosa lagi dengan kecepatan yang
terus menerus meningkat semakin berlipat ganda menjadi nyaris tanpa
bahan ala secuil kain tanpa bra yang memamerkan ketiak dan belahan
payudara dan pusar dan selangkangan serta tanpa cawat yang memamerkan
organ vital dibawah pusar yang ada di selangkangan. Serta, seterusnya
tak akan pernah kunjung berhenti bermetamorfosa terus menerus hingga
menjadi tanpa bahan sama sekali ala tanpa bra dan tanpa cawat yang
memamerkan seluruh tubuh tanpa kecuali alias telanjang bugil.
Belum lagi jika kita menilik tata nilai dan norma bangsa ini yang telah
semakin permisif. Budaya seks bebas sudah semakin akut dan kronis
mencengkeram kehidupan masyarakat Indonesia. Jakarta sebagai salah satu
misalnya. Kota metropolitan ini bersama dengan kota-kota besar lainnya
di Indonesia, tak lepas dari kehidupan malamnya. Ratusan tempat hiburan
malam berlomba-lomba membuka pintu lebar-lebar dengan aneka menu spesial
menggoda, dari kafe, bar, pub, diskotek, karaoke, sampai klub. Napas
kehidupan malam itu, pada akhirnya juga menghembuskan bau lain yang
tak sedap karena dalam praktiknya tak semua tempat hiburan beroperasi
sebagaimana mestinya. Diskotek kini tak hanya sebagai ajang berdisko
semata, tapi juga sebagai ajang untuk meneguk kenikmatan surga ekstasi
dan seks. Karaoke tak lagi sebagai tempat rileksasi dengan ditemani
ladies-escort, tapi juga sebagai tempat mesum untuk mendapat layanan
spesial dari penari striptis, seks sushimi, sampai kencan one shot
time yang short time.
Bahkan, demikian banyaknya jumlah tempat pijat, sauna, karaoke, dan
hotel yang menyediakan layanan seksual, bahkan saking banyaknya jumlah
industri seks di Jakarta ini lebih banyak dibandingkan dengan jumlah
supermarket yang ada di seluruh pelosok kotanya. Tak belebihan jika
kemudian dikatakan bahwa Jakarta Raya sudah menjadi kota Sex Show
Supermarket.
Demikian pula dengan yang terjadi pada tayangan media televisi dan
sajian media massa cetak. Tayangan erotis hanya dimaksudkan untuk
mengejar rating semata, foto sensual bertebaran di lapak koran pinggir
jalan hanya demi mengejar oplah semata. Semua itu sesungguhnya
merupakan hal yang sama sekali tidak perduli dengan pemuliaan dan
perlindungan kaum wanita, hakikatnya hanya mengeksplorasi sensualitas
dan mengeksploitasi kaum wanita saja.
Bermacam tayangan hiburan ala goyang pinggul disuguhkan, ada yang
disebut goyang Ngebor, goyang Ngecor, goyang Patah-Patah, goyang
Kayang, dan banyak lagi lainnya yang entah apalagi namanya. Tayangan
hiburan erotis yang semacam itu -menurut istilahnya Ketua Umum PBNU-
dipenuhi dengan gambar telanjang, VCD porno, dan tayangan yang
meresahkan, serta anak-anak muda yang bergoyang-nya sampai seperti
orang kesurupan.
Penestrasi budaya global yang negatif yang tengah merangsek bangsa
Indonesia secara dahsyat ini tak berhenti pada hal itu saja. Tata nilai
dan norma yang semakin permisif itu juga telah merasuk jauh dikalangan
generasi muda Indonesia. Banyak gadis belia yang masih duduk di bangku
SMP telah kehilangan keperawanannya. Mereka tak menyesali sedikit pun
dengan telah hilangnya mahkota kehormatan miliknya itu, mereka justru
merasa senang telah kehilangan kegadisannya dalam rangka melayani
pacar mereka itu.
Bahkan, sekarang ini mereka tak hanya berhubungan intim dengan pacar
mereka saja, mereka sudah tak segan-segan lagi untuk melakukan hubungan
seks dengan siapa saja yang mereka sukai. Kata lain dari sebuah budaya
seks bebas yang menghalalkan hubungan seks dimana saja dan kapan saja
serta dengan siapa saja.
Bahkan revolusi kebebasan seks telah semakin menjadi-jadi merasuki
kalangan para remaja Indonesia. Para remaja usia 14 tahun sampai 24
tahun yang bertempat tinggal di 4 (empat) kota besar di Indonesia
-Medan, Jakarta, Bandung, Surabaya- tidak kurang dari 60% diantara
mereka itu ternyata telah melakukan hubungan seksual sebelum usia mereka
genap 18 tahun. Sekitar 16% mengaku berhubungan seks pertamakali saat
berusia antara 13 tahun sampai 15 tahun, sedangkan yang 44% mengaku saat
berusia antara 16 tahun sampai 18 tahun.
Lebih menyeramkannya lagi adalah tak kurang dari 30% dari kejadian
kehamilan tak diinginkan (KTD) atau kejadian kehamilan diluar nikah
merupakan kejadian yang terjadi dikalangan para remaja, dan lebih dari
60% kejadian aborsi di Indonesia dilakukan oleh para remaja. Lebih
mengerikan lagi, prostitusi dan pelacuran dikalangan remaja pun telah
menjamur bak cendawan di musim hujan. Ini semua akan membuat semakin
rawannya penyebaran Penyakit akibat Hubungan Seksual dikalangan generasi
muda bangsa Indonesia.
Sungguhpun disadari bahwa era globalisasi merupakan hal yang seolah-olah
tak terelakkan. Namun -menengarai dan menyadari dari semua fakta yang
terungkap itu- jika tanpa disertai dengan suatu upaya filterisasi atau
pengaturan yang secara memadai dapat menangkal dampak sisi buruknya itu
melalui suatu perangkat hukum berupa undang-undang, maka dampak buruk
dari globalisasi serta pengaruh sisi buruk dari budaya barat ditambah
dengan budaya meniru yang telah menjadi doktrin budaya dalam masyarakat
kita, akan membuat budaya pornografi dan pornoaksi itu akan menjelma
menjadi sesuatu yang seolah-olah merupakan sebuah sebuah keniscayaan
zaman, yang seolah-olah seperti itulah kehidupan modern seharusnya
dilakoni.
Berkaitan dengan globalisasi yang mempunyai dampak dari sisi baiknya
juga dari sisi buruknya ini, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono
menyatakan bahwa globalisasi yang telah datang, suka tidak suka,
sebagaimana datangnya musim hujan dan panas di negeri kita ini.
Globalisasi ini mendatangkan peluang dan tantangan, dan kebaikan dan
keburukan, serta kompetisi dan kerjasama. Karena itu, sikap yang
paling baik adalah dengan sikap yang cerdas dan bijak dalam usaha
mendapatkan peluang bekerjasama, dan memilih yang baik dari
globalisasi ini.
Dan karenanya itu, kini telah tiba saatnya -di era globalisasi dan
ditengah kepungan peradaban barat dengan salah satu sisi buruknya berupa
budaya pornografi dan pornoaksi itu- bangsa ini dihadapkan pada pilihan
sikap yang akan sangat menentukan masa depan bangsa Indonesia. Memilih
bersikap membiarkannya berkelanjutan tanpa ada suatu upaya untuk
memilah dan memilih yang baik dari globalisasi ini, dan itu berarti
kita telah dengan ikhlas menyerahkan serta secara sukarela menggadaikan
masa depan generasi muda bangsa Indonesia kepada ideologi budaya asing
yang merusak. Atau, memilih bersikap yang cerdas dan bijak dengan
melakukan suatu upaya memilah dan memilih yang baik dari globalisasi
ini, dan itu berarti kita telah melakukan sesuatu yang berharga demi
hari depan generasi berikutnya yang lebih baik, demi masa depan bangsa
Indonesia yang bermartabat dan berakar pada jati diri budaya
bangsanya.
Berkait dengan itu pula, Ketua Umum PBNU -bertepatan saat ormas Islam
yang terbesar di dunia ini memberikan pernyataan sikap resminya yang
mendukung penuh RUU Anti Pornografi dan Anti Pornoaksi- telah
menyatakan secara tegas bahwa penolakan yang bertubi-tubi dari kelompok
tertentu itu tidaklah dapat menafikan dampak negatif dari pornografi
dan pornoaksi. Pada hakikatnya, demokrasi itu bukanlah sesuatu yang
bebas nilai. Karenanya, penertiban pornografi dan pornoaksi adalah
kewajiban negara, yang dalam pelaksanaannya diwakili oleh pemerintah.
Oleh sebab itu, demi keselamatan moral masyarakat dan generasi muda
seharusnya DPR tidak perlu ragu mengambil keputusan berdasar
kepentingan bangsa yang mayoritas mutlak dengan penuh ketegaran.
Kita, dan juga seluruh rakyat bangsa Indonesia -demikian pula Kartini
dan Soekarno serta Megawati Soekarnoputri dan Susilo Bambang Yudhoyono-
tentunya tidak ingin dekadensi moral yang sudah merusak kepribadian
bangsa akan terus meningkat tanpa kendali sehingga akan merusak dan
menghancurkan masa depan generasi penerus bangsa ini. Karena itulah maka
memang sudah saatnya diperlukan suatu perangkat hukum berupa UU yang
komprehensif dan memadai untuk mengatur soal Anti Pornografi dan Anti
Pornoaksi, tak akan cukup jika hanya sebatas mengatur soal Peredaran
Barang-Barang Pornografi saja.
Akhirulkalam, itulah sebabnya maka banyak kalangan yang masih secara
istiqomah terus bermunajat dan senantiasa tak pernah berhenti berharap,
semoga saja para wakil rakyat yang terhormat itu tidak asal-asalan saja
dalam melakukan kompromi dan revisi. Jikalau dilakukan hanya untuk
sekedar menyenangkan para penentang -yang oleh salah satu artikel di
koran Tempo disebut sebagai pembangkang karbitan- yang mana secara licik
akan dapat melakukan tipu muslihat mengubah draft RUU secara
serampangan dan tak bertanggung-jawab. Tak pelak lagi, hasil dari
revisi dan perubahan itu justru akan mengakibatkan dekadensi moral yang
sudah merusak kepribadian bangsa ini semakin hari justru akan terus
semakin tanpa kendali serta dekadensi moral yang sudah merusak
kepribadian bangsa ini semakin hari justru akan terus semakin meningkat
lagi tingkat kerusakannya.
Wallahualambishawab.
si-pandir, Jakarta, 21 Maret 2006.
Tulisan saduran ini dikutip dan dicuplik dari : Lakon Komedi Porno
tulisan Es Ito di KORAN TEMPO Selasa 21/03/2006, Bung Karno Mengganyang
You Can See tulisan Alwi Shahab dan Negara Kapital tulisan Haedar
Nashir dan Habis Demokrasi Terbitlah Pornografi tulisan Zaim Saidi di
REPUBLIKA Senin 27/02/2006 dan Minggu 19/03/2006, Sentimen
Anti-Amerika tulisan Syaiful Munjani di MEDIA INDONESIA Kamis
16/03/2006, Ketika Lukisan Meneror Umat tulisan Faizal Motik di SABILI
23/03/2006, Anak Perawan di Sarang Tabloid - Dada Permai Tampang Nomor
Dua - Perempuan itu Melahap Malam kolom selingan TEMPO 20-26/03/2006,
Ada Britney Spears di Kota Jember ? dan Jember ?, Please Deh…
tulisan Edna C Pattisina dan Syamsul Hadi di KOMPAS Minggu 14/08/2005.
http://www.mail-archive.com/ekonomi-nasional@yahoogroups.com/msg05487.html