Anti Pornografi

RUU APP BUKAN untuk menyeragamkan budaya,
BUKAN untuk menyeragamkan dalam berpakaian,
BUKAN untuk memaksakan aturan suatu agama.
RUU APP dapat mengangkat suatu kaum/suku yang masih berpakaian / pola hidup
yang tertinggal, dan BUKAN untuk menangkapnya. Kenapa ?
Karena mereka bukan dengan sengaja mempertontonkannya.
Tapi ini merupakan tugas kita untuk menjadikan mereka
lebih beradab dalam era globalisasi ini.

RUU APP ini justru untuk mendefinisikan Pornografi dan Pornoaksi,
karena TIDAK ADA satupun UU yang jelas mendefinisikan pornografi.
RUU APP ini hanya meminta warga negaranya berpakaian secara sopan,
TIDAK untuk memancing birahi lawan jenisnya (baik laki-laki dan perempuan),
TIDAK ada pemaksaan untuk berpakaian model Islami/Arab/Taliban.
RUU APP melindungi kaum perempuan Indonesia dari
pihak-pihak yang justru merendahkan kaum perempuan
dengan dijadikan objek yang laku dijual demi kaum laki-laki hidung belang.
RUU APP melindungi moral anak-anak kita dari bahaya pornografi
demi membangun masa depan bangsa dengan keilmuannya
bukan dengan mempertontonkan tubuhnya atau bahkan melacurkan dirinya.

Janganlah kalian EGOIS karena saat ini
kalian dapat menikmati keindahan tubuh perempuan.
Janganlah kalian EGOIS karena saat ini banyak job order
untuk tampil dan terkenal dengan mempertontonkan tubuh kalian.
Janganlah kalian mengeruk profit dari mempertontonkan tubuh perempuan
yang justru menghinakan/merendahkan kaum perempuan.

Lihatlah masa depan bangsa…
lihatlah masa depan anak-anak bangsa yang masih lucu,
lugu dan mereka sedang giat belajar.
Jangan ganggu dan usik mereka oleh media pornografi.
Jangan hinakan harga diri mereka karena
ibunya/ayahnya mempertontonkan keindahan tubuhnya.



Selamatkan anak-anak kita dari bahaya pornografi !

Fri 21st Apr, 2006, Artikel

Bung Karno & Kartini pun Menangis.

Mega hitam kelam menggelayut menaungi langit diatas negeri. Di ufuk
timur, sang fajar menampakkan sinarnya disela pekatnya langit yang
semburat biru. Suara syahdunya azan terdengar merdu, dan ayam jantan pun
berkokok menyambut fajar pagi hari. Sesekali mega hitam itu menjatuhkan
rintik gerimis yang telah datang membasahi bumi, dari ujung cakrawala
senja di barat nun jauh disana menggemuruh suara gelegar. Pertanda awal,
hujan badai petir disertai angin puyuh puting beliung bakal datang
menjelang.

Air merupakan sumber kehidupan, dan hujan adalah rahmat langit bagi
berkahnya ibu bumi. Namun, saat bumi telah gersang tak berpayung dan tak
lagi hijau berpohonan besar, sedangkan air hujan yang datang pun
lebatnya takkan kepalang sambil membawa petir dan menggandeng angin
kencang. Sejumput rumput yang menguning dan ilalang yang tumbuh meliar
takkan berdaya menahan. Hujan kan datangkan air bah yang menerjang,
membuncah membanjiri tanah gersang. Tanah merah kan terangkut dan
terhanyut, mendangkali sungai besar. Sumber air kehidupan dan air kali
jadi keruh nian, riam jeram tenggelam, alur sampan pun menghilang. Sawah
ladang kering kerontang, benih padi takkan lagi tertanam, dan petani pun
mengerang.

Bila ibu bumi telah gersang tak berhijau pohonan besar, walau hanya
gerimis rintik hujan yang datang, kan menjelma bagai air bah yang
menerjang. Hanya derita yang akan dijelang, esok pun hasil panenan
takkan sempat dibawa pulang. Hanya bencana yang akan dijelang, derita
dan nestapa penyesalan yang akan menjadi hasil panen.

Kini justru ilusi dan fatamorgana yang disajikan, tergelar diatas nampan
bertilam, bertahtakan mahkota daun salam. Gerombolan serigala ganas nan
serakah disambut bak kerumunan pelanduk yang tak bertanduk. Jika pun
kemudian mengundang sekawanan burung gagak yang tlah bersulih nama
merpati, burung yang tak pernah ingkar janji, tapi pada akhir nanti
hanyalah burung nasar yang akan datang, mengerat sisa daging yang
menempel di ujung tulang.

Mega putih impian yang sempat memutih namun justru berputih tulang,
sedang mega putih suci seputih kapas tak pernah mewujud, entah dimana
telah tersangkut. Mega putih impian yang menaungi bumi, agar sawah
ladang tak lagi kering kerontang, agar tanah merah berpayungkan hijaunya
dedaunan pepohonan besar, agar ibu bumi yang merah dan putih tak lagi
gersang, agar hujan yang kan datang tak lagi mengundang datangnya air
bah yang menerjang dan membanjir serta membencanakan. Agar para leluhur
pun menjadi tenang, agar tak lagi berputih mata, dan agar Soekarno serta
Kartini pun tak lagi berlinang air mata kesedihan.

” SOEKARNO dan KARTINI pun MENANGIS “.

Soekarno, juga Kartini, adalah sosok-sosok manusia Indonesia yang seakan
memang sudah ditakdirkan dan dilahirkan untuk menjadi tokoh besar dan
fenomental sepanjang zaman. Betapa tidak, kebesarannya tak sebatas hanya
berlaku selama kurun waktu kehidupannya saja, dan tak tertanggalkan
walau hayat tak lagi dikandung badannya, dan akan tetap tak surut
melintasi zamannya. Tak hanya sebatas kharisma dan kebesarannya saja,
pemikiran dan gagasan-gagasan besarnya tak lekang oleh zaman bahkan
melompati era zamannya.

Soekarno, sosok manusia yang merupakan tokoh terbesar Indonesia yang
fenomental dan penuh kharisma. Bung Karno -panggilan akrab Soekarno-
dilahirkan pada tanggal 6 Juni 1901 di Lawang Seketeng Surabaya Jawa
Timur. Dan selanjutnya, seluruh hidup dan jiwa maupun raganya telah
dibaktikan dan dipersembahkannya hanya demi untuk membebaskan bangsa dan
negara Indonesia dari belenggu imperalisme dan penjajahan. Dan
selanjutnya, didharma baktikan seluruhnya untuk mengawal keselamatan dan
kejayaan bangsa dan negara yang sangat dicintainya -Indonesia- untaian
permata zamrud, harta dunia paling berharga di belahan khatulistiwa.

Ironi dipenghujung kehidupannya, berakhir secara tragis dan mengenaskan,
ia wafat pada tanggal 21 Juni 1970 dalam kungkungan tahanan rumah yang
dijalaninya selama tak kurang dari 3 tahun lamanya. Pasca masa
kehidupannya, tak kurang usaha yang mencoba mengerdilkannya, tak putus
bergelombang upaya yang mencoba menghapuskan sejarahnya, tak berhenti
upaya yang mencoba menepikan pemikiran dan gagasannya. Namun, kian hari
justru kian terasa senantiasa tetap relevan sepanjang zaman selama
perjalanan kehidupan bangsa Indonesia.

Kartini, sosok manusia yang merupakan tokoh wanita Indonesia yang
fenomental. Sosok wanita sumber inspirasi bagi kaum wanita Indonesia,
yang lewat surat-suratnya mampu menempatkan gagasannya sebagai ornamen
masa depan bangsanya, yang mana pada waktu itu belum terjadi pada
masanya.

Kartini, sosok wanita yang dilahirkan dizaman ketika bangsanya hidup
dibawah penjajahan bangsa barat. Kartini mendambakan kemajuan peradaban
bangsanya, teristimewa kemajuan bagi kaum wanitanya. Namun Kartini
menyadari bahwa dibalik ‘kemajuan’ peradaban barat yang dipertontonkan
oleh bangsa penjajah itu, tak hanya akan membawa pengaruh dari sisi
kebaikannya saja. Namun juga akan membawa serta pengaruh dari sisi
keburukannya.

Dan, Kartini pun mahfum, lambat laun pada suatu saat nanti peradaban
barat itu akan berkedudukan tetap di negeri ini. Kartini pun
mengkhawatirkan sisi buruk dari pengaruh peradaban asing ini akan
menghasilkan sebuah ‘kejahatan’ didalam masyarakat bumiputra.

Hari ini, Soekarno dan Kartini telah lama tiada, namun pemikiran dan
gagasan mereka tentang kemajuan dan kejayaan bangsanya tak akan pernah
pupus sepanjang masa. Imperalisme dan penjajahan secara harfiah terlihat
seolah telah hengkang dari tanah negeri ini. Namun secara hakikinya,
neo-imperalisme dan penjajahan model baru masih akan senantiasa
membayangi perjalanan bangsa dan negara ini. Kapitalisme tak akan pernah
berpisah dari imperalisme, seolah mereka bagaikan saudara kembar satu
benih.

Hari ini, di zaman ini, generasi penerusnya telah mengambil tongkat
estafet perjuangan mereka, mengawal keselamatan dan kejayaan bangsa dan
negara Indonesia. Bangsa dan negara Indonesia yang berkedaulatan penuh
dalam bidang politik, yang mandiri dan berdikari dalam bidang ekonomi,
yang bermartabat dan berkepribadian dalam bidang budaya.

Namun justru pada hari ini, di zaman ini, Soekarno dan Kartini pun
menangis melihat generasi penerusnya. Generasi penerus yang tak berupaya
memilah dan memilih yang baik dari zaman era globalisasi ini. Generasi
penerus yang tak berupaya menangkal dan menghindar dari sisi buruk
pengaruh budaya asing yang mengkungkungnya. Generasi penerus yang tak
perduli keselamatan moral generasi muda bangsanya.

Soekarno dan Kartini menangis melihat generasi penerusnya. Generasi
penerus yang serampangan dalam usaha mendapatkan peluang bekerjasama.
Generasi penerus yang justru telah rela ditipu dan ikhlas memilih
peluang kerjasama yang merugikan. Generasi penerus yang tak perduli
penjarah asing menguras kekayaan alam negaranya.

Soekarno dan Kartini menangis melihat generasi penerusnya. Generasi
penerus yang tak cerdas dan tak bijak dalam menyikapi zamannya. Generasi
penerus yang menggadaikan kehidupan masa depannya. Generasi penerus yang
justru membuka pintu selebar-lebarnya bagi penjajahan berkelanjutan atas
negerinya.

Soekarno dan Kartini menangis melihat generasi penerus mereka yang telah
dengan ikhlas menyerahkan dan secara sukarela menggadaikan kehidupan dan
masa depan bangsanya kepada ideologi politik peradaban barat yang
merampas dan menjajah, kepada ideologi ekonomi peradaban barat yang
serakah dan menjarah, kepada ideologi budaya peradaban barat yang tak
bermartabat dan merusak.

Kini, Soekarno dan Kartini pun menangis melihat bangsa dan negara
Indonesia nan bagaikan kerbau kegemukan yang dicocok hidungnya, yang
tunduk dan patuh dikendalikan oleh majikan asingnya. Menangis melihat
Bangsa dan negara Indonesia nan bagaikan hidangan ayam kendurian, yang
pasrah dijarah oleh tangan-tangan asing yang serakah.

Soekarno dan Kartini menangis melihat Bangsa dan negara Indonesia nan
bagaikan pelacur murahan, yang rela telanjang dan menjual diri
kehormatannya demi sejumput uang. Menangis melihat bangsa dan negara
Indonesia yang tak lagi bermartabat dan telah menuhankan uang.

Soekarno dan Kartini pun kini menangis melihat kekhawatiran mereka yang
semakin mewujud. Bangsa dan negara Indonesia yang telah terpereteli
kedaulatannya dalam bidang politik, dan telah termusnahkan
keberdikariannya dalam bidang ekonomi, serta telah tererosi
kepribadiannya dalam bidang budaya.

Wallahu’alambishawab.
si-pandir, Jakarta, 28 Maret 2006.
Tulisan ini diolah dan dikutip serta dicuplik dari berbagai sumber.

http://www.mail-archive.com/ekonomi-nasional@yahoogroups.com/msg05487.html

Comments »

Right Click Here for TrackBack URI

No comments yet.

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>


Anti-spam

Catatan:

  • Komentar tidak menggunakan kata-kata yang kotor, bukan spam dan iklan.
  • Moderator berhak mengedit bahkan menghapus setiap komentar tanpa pemberitahuan terlebih dahulu dan bersifat mutlak
  • Kami tidak melayani surat-menyurat untuk menanggapi tanggapan Anda di sini.
  • Sekedar mengingatkan, bahwa web blog ini dikhususkan untuk mendukung RUU APP dan prihatin atas bahaya pornografi yang bertebaran di negara kita ini.
  • Selamat berdiskusi!
No Porn