emansipasi /émansipasi/
1. pembebasan dari perbudakan
2. persamaan hak dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat
– [Kamus Besar Bahasa Indonesia]
Sejarah telah mencatat R.A. Kartini memperjuangkan emansipasi melalui tulisan-tulisannya, begitu juga dengan R. Dewi Sartika melalui Sekolah Kautamaan Istri-nya. Keduanya muncul di akhir abad ke-19 dalam masa kolonial Tanam Paksa. Sedikit banyak perjuangan kedua pahlawan perempuan tersebut mempengaruhi politik Hindia Belanda hingga mengeluarkan Politik Etis, membalas budi dengan mencoba berterima kepada rakyat melalui kelonggaran pribumi bersekolah selain pembenahan irigasi dan emigrasi. Kedua pahlawan perempuan tersebut memberdayakan kesempatan hingga munculnya kesempatan membuat sekolah bahkan membuat kelompok politik pada dasa warsa pertama abad ke-20.
Emansipasi seperti terlahir kembali pada masa itu, persamaan hak dari pribumi didengungkan kepada Hindia Belanda sebagai perjuangan terhadap eksploitasi pribumi dan tanah airnya. Sebuah perang dengan cara moderat tanpa adu kekuatan fisik, tapi adu otak, adu harga diri. Tak berselang lama kebangkitan harga diri pribumi mulai naik hingga kita sebut sebagai jaman Kebangkitan Nasional, tidak hanya bangkit meruncingkan bambu, tapi juga meruncingkan pikiran, mengasah otak melalui kata-kata, baik di meja Volksraad maupun di media cetak. Kebangkitan Nasional tak bisa lepas dari perjuangan emansipasi dua pahlawan perempuan di atas, yang sering disebut sebagai perjuangan emansipasi perempuan.
Kini sepertinya emansipasi selalu diidentikkan dengan emansipasi perempuan, dari persoalan yang kecil-kecil hingga persoalan besar sampai harus dibuat kementrian Peranan Wanita, Pemberdayaan Wanita, atau apapun istilahnya seolah-olah perempuan Indonesia itu tidak berperan, tidak berdaya. Faktanya, perempuan Indonesia sudah berdaya, mempunyai keberdayaan tinggi meskipun kadang sering diiringi dengan kesalahkaprahan terhadap makna emansipasi perempuan terhadap laki-laki itu sendiri, buruknya emansipasi perempuan dijadikan excuse untuk hal-hal yang tidak esensial. Hal buruk lainnya adalah emansipasi perempuan menjadi kedok eksploitasi perempuan itu sendiri yang kadang tidak disadari para perempuan. Gegar emansipasi, lupa jati diri.
Kita tak perlu mencontoh Playboy untuk sebuah konsep emansipasi, karena itu adalah eksploitasi. Bahkan sebelum Playboy Indonesia dicetak kita sudah berada pada dunia eksploitasi perempuan, baik dalam bentuk tabloid-tabloid syur hingga ke acara-acara gosip selebritas yang didominasi perempuan atau pada konteks soal perempuan. Tak hanya dalam dunia informasi dan media; dunia industri pun bisa dikatakan telah mengeksploitasi perempuan, sebagai obyek sekaligus sebagai pasar industri kecantikan berkedok kesehatan yang sering merusak dan mengubah paradigma kecantikan.
Faktor ekonomi pun menjadi potensi pemberdayaan perempuan. Perempuan bekerja mencari nafkah adalah wajar dipandang dari kesetaraan antar manusia, kurang dan sulitnya penghasilan telah berhasil mendongkrak emansipasi tersebut. Perempuan dianggap bernilai dan berharga tinggi menjadi penghias etalase, iklan dan pemasar. Laki-laki puas melihat keindahan, perempuan pun senang dan mengidolakan, uang beredar berputar, ekonomi naik, semua sejahtera. Eksploitasi pun akhirnya dimaafkan, semua benar, atau semua salah, dan statistik yang menang.
Ini persoalan rumit, sistem telah mengarahkan laki-laki dan perempuan dalam eksploitasi berkedok emansipasi, keduanya tidak hanya obyek tetapi juga sebagai pelaku. Kita, baik laki-laki atau perempuan sedang dieksploitasi, oleh kita sendiri.
Selamat Hari Emansipasi!
http://yulian.firdaus.or.id/2006/04/21/emansipasi/
assalamualaikum………………..emansipasi ada karena sistem tidak berjalan sesuai sunatullah. tapi di sisi lain sunatullah memberi peluang untuk tumbuh emansipasi….itu lah sunatullah dan takdir ada di rumah kita ditangan kita. benar berhentilah menjarah diri sendiri.naikilah perahu kebahagianmu, kebahagian yang hakiki