Anti Pornografi

RUU APP BUKAN untuk menyeragamkan budaya,
BUKAN untuk menyeragamkan dalam berpakaian,
BUKAN untuk memaksakan aturan suatu agama.
RUU APP dapat mengangkat suatu kaum/suku yang masih berpakaian / pola hidup
yang tertinggal, dan BUKAN untuk menangkapnya. Kenapa ?
Karena mereka bukan dengan sengaja mempertontonkannya.
Tapi ini merupakan tugas kita untuk menjadikan mereka
lebih beradab dalam era globalisasi ini.

RUU APP ini justru untuk mendefinisikan Pornografi dan Pornoaksi,
karena TIDAK ADA satupun UU yang jelas mendefinisikan pornografi.
RUU APP ini hanya meminta warga negaranya berpakaian secara sopan,
TIDAK untuk memancing birahi lawan jenisnya (baik laki-laki dan perempuan),
TIDAK ada pemaksaan untuk berpakaian model Islami/Arab/Taliban.
RUU APP melindungi kaum perempuan Indonesia dari
pihak-pihak yang justru merendahkan kaum perempuan
dengan dijadikan objek yang laku dijual demi kaum laki-laki hidung belang.
RUU APP melindungi moral anak-anak kita dari bahaya pornografi
demi membangun masa depan bangsa dengan keilmuannya
bukan dengan mempertontonkan tubuhnya atau bahkan melacurkan dirinya.

Janganlah kalian EGOIS karena saat ini
kalian dapat menikmati keindahan tubuh perempuan.
Janganlah kalian EGOIS karena saat ini banyak job order
untuk tampil dan terkenal dengan mempertontonkan tubuh kalian.
Janganlah kalian mengeruk profit dari mempertontonkan tubuh perempuan
yang justru menghinakan/merendahkan kaum perempuan.

Lihatlah masa depan bangsa…
lihatlah masa depan anak-anak bangsa yang masih lucu,
lugu dan mereka sedang giat belajar.
Jangan ganggu dan usik mereka oleh media pornografi.
Jangan hinakan harga diri mereka karena
ibunya/ayahnya mempertontonkan keindahan tubuhnya.



Selamatkan anak-anak kita dari bahaya pornografi !

Fri 21st Apr, 2006, Artikel

Emansipasi

emansipasi /émansipasi/
1. pembebasan dari perbudakan
2. persamaan hak dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat
– [Kamus Besar Bahasa Indonesia]

Sejarah telah mencatat R.A. Kartini memperjuangkan emansipasi melalui tulisan-tulisannya, begitu juga dengan R. Dewi Sartika melalui Sekolah Kautamaan Istri-nya. Keduanya muncul di akhir abad ke-19 dalam masa kolonial Tanam Paksa. Sedikit banyak perjuangan kedua pahlawan perempuan tersebut mempengaruhi politik Hindia Belanda hingga mengeluarkan Politik Etis, membalas budi dengan mencoba berterima kepada rakyat melalui kelonggaran pribumi bersekolah selain pembenahan irigasi dan emigrasi. Kedua pahlawan perempuan tersebut memberdayakan kesempatan hingga munculnya kesempatan membuat sekolah bahkan membuat kelompok politik pada dasa warsa pertama abad ke-20.

Emansipasi seperti terlahir kembali pada masa itu, persamaan hak dari pribumi didengungkan kepada Hindia Belanda sebagai perjuangan terhadap eksploitasi pribumi dan tanah airnya. Sebuah perang dengan cara moderat tanpa adu kekuatan fisik, tapi adu otak, adu harga diri. Tak berselang lama kebangkitan harga diri pribumi mulai naik hingga kita sebut sebagai jaman Kebangkitan Nasional, tidak hanya bangkit meruncingkan bambu, tapi juga meruncingkan pikiran, mengasah otak melalui kata-kata, baik di meja Volksraad maupun di media cetak. Kebangkitan Nasional tak bisa lepas dari perjuangan emansipasi dua pahlawan perempuan di atas, yang sering disebut sebagai perjuangan emansipasi perempuan.

Kini sepertinya emansipasi selalu diidentikkan dengan emansipasi perempuan, dari persoalan yang kecil-kecil hingga persoalan besar sampai harus dibuat kementrian Peranan Wanita, Pemberdayaan Wanita, atau apapun istilahnya seolah-olah perempuan Indonesia itu tidak berperan, tidak berdaya. Faktanya, perempuan Indonesia sudah berdaya, mempunyai keberdayaan tinggi meskipun kadang sering diiringi dengan kesalahkaprahan terhadap makna emansipasi perempuan terhadap laki-laki itu sendiri, buruknya emansipasi perempuan dijadikan excuse untuk hal-hal yang tidak esensial. Hal buruk lainnya adalah emansipasi perempuan menjadi kedok eksploitasi perempuan itu sendiri yang kadang tidak disadari para perempuan. Gegar emansipasi, lupa jati diri.

Kita tak perlu mencontoh Playboy untuk sebuah konsep emansipasi, karena itu adalah eksploitasi. Bahkan sebelum Playboy Indonesia dicetak kita sudah berada pada dunia eksploitasi perempuan, baik dalam bentuk tabloid-tabloid syur hingga ke acara-acara gosip selebritas yang didominasi perempuan atau pada konteks soal perempuan. Tak hanya dalam dunia informasi dan media; dunia industri pun bisa dikatakan telah mengeksploitasi perempuan, sebagai obyek sekaligus sebagai pasar industri kecantikan berkedok kesehatan yang sering merusak dan mengubah paradigma kecantikan.

Faktor ekonomi pun menjadi potensi pemberdayaan perempuan. Perempuan bekerja mencari nafkah adalah wajar dipandang dari kesetaraan antar manusia, kurang dan sulitnya penghasilan telah berhasil mendongkrak emansipasi tersebut. Perempuan dianggap bernilai dan berharga tinggi menjadi penghias etalase, iklan dan pemasar. Laki-laki puas melihat keindahan, perempuan pun senang dan mengidolakan, uang beredar berputar, ekonomi naik, semua sejahtera. Eksploitasi pun akhirnya dimaafkan, semua benar, atau semua salah, dan statistik yang menang.

Ini persoalan rumit, sistem telah mengarahkan laki-laki dan perempuan dalam eksploitasi berkedok emansipasi, keduanya tidak hanya obyek tetapi juga sebagai pelaku. Kita, baik laki-laki atau perempuan sedang dieksploitasi, oleh kita sendiri.

Selamat Hari Emansipasi!

http://yulian.firdaus.or.id/2006/04/21/emansipasi/

1 Comment »

Right Click Here for TrackBack URI

  1. Comment by shahzad ar rumi, 20 August 2008 @ 2:41 pm

    assalamualaikum………………..emansipasi ada karena sistem tidak berjalan sesuai sunatullah. tapi di sisi lain sunatullah memberi peluang untuk tumbuh emansipasi….itu lah sunatullah dan takdir ada di rumah kita ditangan kita. benar berhentilah menjarah diri sendiri.naikilah perahu kebahagianmu, kebahagian yang hakiki

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>


Anti-spam

Catatan:

  • Komentar tidak menggunakan kata-kata yang kotor, bukan spam dan iklan.
  • Moderator berhak mengedit bahkan menghapus setiap komentar tanpa pemberitahuan terlebih dahulu dan bersifat mutlak
  • Kami tidak melayani surat-menyurat untuk menanggapi tanggapan Anda di sini.
  • Sekedar mengingatkan, bahwa web blog ini dikhususkan untuk mendukung RUU APP dan prihatin atas bahaya pornografi yang bertebaran di negara kita ini.
  • Selamat berdiskusi!
No Porn