Artikel dibawah ini menunjukan perang antara kaum taat beragama dengan kaum tidak taat beragama di Huairoh Tahun 1995 lalu, hal ini saya angkat kembali mengingat hal ini hamper sama persis dengan peristiwa yang terjadi diindonesia dimana perang tersebut berulang pada RUU AP. Hal ini diangkat untuk menjadi renungan dan tambahan wawasan agar mengerti tentang masalah orientasi seksual yang semakin hari jauh menyimpang dari agama, budaya baik Indonesia.
Konflik Besar Tanpa Senjata
Kelompok taat agama dan kelompok liberal
Beberapa waktu yang lalu di kota Huairo, sekitar 50 km dari ibu kota Cina, Beijing, sekelompok kecil wanita muslim bangkit melawan arus. Dihadapan ribuan aktivis wanita peserta NGO forum (pertemuan internasional lembaga-lembaga swadaya masyarakat) dari lebih 170 negara, mereka unjuk rasa menentang beberapa bagian dalam dokumen Platform for Action (Rencana Aksi) yang tengah di diskusikan dalam fourth World Conference on Womrn dibeijing.
Mereka cemas bahwa dokumen tersebut, yang dianggap sebagai agenda dunia bagi pemberdayaan wanita, akan menggoncang pilar-pilar skral rumah tangga dan semakin merebak homoseksual.
Dalam waktu singkat, sejumlah aktivis pendukung kebebasan “Orientasi Seksual”, dan lesbian dating mengepung para muslimah tersebut. Lalu , di depan mata para muslimah itu, beberapa dari mereka mendemonstrasikan cara perzinahan mereka.
PERANG MAHAL
Insiden itu hanyalah satu dari ratusan demonstrasi yang terjadi baik di NGO forum di Huairo, yang berlangsung sejak 30 Agustus hingga 8 September, maupun Conference on Women yang dibuka di Beijing tanggal 4 sampai 14 September yang lalu.
Diperkirakan sekitar 25.000 orang aktivis LSM wanita ikut serta Huairou; jumlah ini bahkan meningkat menjadi 40.000 pada saat isteri presiden Amerika Hilary Rodham Clinton berpidato disana.
Konferensi itu sendiri, yang kabarnya mengorek kocek PBB dan pemerintah cina masing-masing sebesar US$ 2,5 Juta dan 250 Yuan (Rp 68,7 Milyar), dan dihadiri sekitar 17.000 orang termasuk 3.500 orang wartawan
Ratusan diskusi, workshop, demonstrasi dan acara lainnya di gelar di Beijing, sementara Main Commite, komisi khusus yang beranggotakan wakil semua badan dan peserta, bersidang marathon menggodok dokumen platform tersebut.
Saat meliput kegiatan tersebut, kesan yang mau tidak mau timbul dibenak saya adalah bahwa konferensi tersebut sebenarnya juga sebuah ajang “perang”. Disini setiap delegasi baikofficial maupun aktivis LSM dating membawa misi dan amunisi mereka sendiri
Walaupun perang ini dianggap kecil karena tidak ada luka dan senjata namun memiliki hikmah yang besar sebab yang berkonflik disini adalah ajaran agama dan ideology serta kepentingan politik masing-masing negara. (Ivan- secara khusus konflik antara kelompok yang taat agama dari islam, kristiani, katolik dsb dengan kelompok berpemahaman liberal orientasi seksual dari masing-masing agama tersebut)
Memang seperti apapun bentuk akhirnya dokumen Platform for Action itu tidak memiliki kekuatan yang mengikat negara manapun seperti halnya negara-negara islam termasuk negara mayoritas islam diindonesia. (maupun negara-negara Kristen, katolik dan sebagainya)
Khususnya Indonesia , karena bertentangan dengan nilai agama (apapun) dan adapt istiadat masyarakat. (Ivan-mungkin saat ini tahun 2006 nilai-nilai agama, adapt istiadat yang baik dari Indonesia mulai terkikis, dan peristiwa besar ini sudah ada dalam format yang kecil diindonesia yaitu masalah RUU AP)
Namun membayang sejumlah besar negara komunis dan kapitalis sudah segera berjanji untuk membaurkan anjuran-anjuran dokumen tersebut ke dalam kebijakan pembangunan mereka agaknya sudah cukup membuat kita memahami mengapa muslimin Huairou tadi menjadi cemas.
Dokumen tadi rencananya akan menjadi panduang paling tidak 180 Negara anggota PBB dalam “Memajukan wanita” (secara halus, kasarnya eksploitasi orientasi seksual wanita). Mengandung sejumlah pernyataan yang membuat sebagian besar negara-negara yang memiliki masyarakat taat terhadap agamanya semisal negara islam, kelompok Vatikan dsb menjadi jengkel misalnya salah satu kalimat naskah asli dokumen itu menyatakan bahwa hak asasi wanita, termasuk juga kebebasan menentukan orientasi seksualnya (Orientasi sesame jenis, pra nikah, berganti-ganti pasangan dsb) harus dilindungi. Adapula kalimat yang mengingingkan perlindungan hak asasi remaja dalam memperoleh pendidikan seksual tanpa campur tangan orang tua.. (Memberikan perlindungan remaja untuk bereksperimen dengan orientasi seksual sendiri tanpa disertai nilai agama dan moral)
Negara-negara anggota PBB diminta meninjau kembali hokum mereka menindak wanita yang menjalankan aborsi illegal
Pemerintah masing-masing negara diminta untuk memberikan pada pemuda dan remaja informasi lengkap dan akurat mengenai perilaku seksual dan reproduktif yang aman dan bertanggung jawab, termasuk metode-metode efektif untuk mencegah HIV/AIDS dan penyakit menular seksual lainnya..memberi latihan untuk meningkatkan perilaku seksual yang aman dan bertanggung jawab, termasuk absitensi sukarela dan penggunaan Kondom (Kalimat yang secara halus mengajak untuk berperilaku reproduktif yang aman dan dilihat dari jauh mengajak untuk berperilaku seks bebas bahkan menjerumuskan ke penyakit HIV/AIDS karena sampai saat ini kondom hanya berfungsi menghambat sperma bukan virus HIV dikarenakan partiekl dari virus HIV sendiri lebih kecil dari kondom manapun saat ini).
Pemerintah juga diminta untuk memastikan tidak ada tindakan diskriminasi terhadap wanita dan “mempertimbangkan” tindakan hukum yang mungkin dibutuhkan untuk mencegah diskriminasi berdasarkan orientasi seksual dan gaya hidup
AGAMA DAN LIBERALISME.
Kalimat-kalimat diatas inilah yang kemudian melatar belakangi perdebatan keras dalam siding-sidang di konferensi wanita antara kelompok Islam, Vatikan dengan kelompok Liberal yang bersikap “Everything goes” yang mereka sebutkan hak asasi di atas segala-galanya termasuk homoseksualitas, aborsi dan seks bebas (Mana hak Asasi Tuhan Sebagai Pencipta dengan Agama?)
Menurut sejumlah aktivis berbagai kelompok agama terutama aktivis muslim berbagai negara itu memang sengaja diusahakan agar elemen-elemen berbagai agama, moral dan budaya yang baik terutama isla tergusur habis. Mereka sendiri dengan tegas hadir untuk mendukung bagian-bagian yang baik dalam Platform dan mengikis elemen-elemen non agamais, non moralis.
Ketua Himpunan Dokter Muslim Inggris Dr Majid El Katne, megatakan bahwa kalimat dalam dokumen itu perlahan tapi pasti merusak lembaga pernikahan dan mengurangi hak-hak wanita yang sudah dijamin dalam Islam.
Bayangkan bila ratusan negara melaksanakan rekomendasi agar pendidikan seksual dikaitkan dengan penggunaan kondom diberikan pada remaja tanpa campur orang tua, maka agama dipastikan rusak oleh kaum liberal.
Laporan dari konferensi Dunia IV tentang Wanita di Huairou Beijing 1-15 September 1995, oleh santi WR soekanto- Suara Hidayatullah, edisi 06/Oktober 1995.
http://ivanalbar.multiply.com/journal/item/41