Liputan6.com, Jakarta: Dicari dan dicaci. Itulah nasib Majalah Playboy versi Indonesia. Betapa tidak, majalah yang baru terbit dua pekan ini menjadi media yang paling banyak dibicarakan orang. Jangankan setelah terbit. Pada tahap rencana pun, majalah yang investasi awalnya sekitar Rp 3-4 miliar itu telah ramai dipergunjingkan. Namun dalam waktu singkat, sekitar 100 ribu eksemplar majalah Playboy laris. Padahal harga di pengecer bisa sampai Rp 120 ribu dari harga resmi Rp 39 ribu!
Pihak PT Velvet Silver Media sebenarnya sudah memprediksi akan menjadi cibiran sejumlah orang ketika membeli lisensi dari Playboy Amerika Serikat. Maklumlah, brand image Playboy sebagai ikon pornografi dunia tentu tak akan diterima oleh sebagian kalangan di Indonesia. Justru karena ingin mengubah citra seperti itulah Playboy Indonesia lahir. “Kita anak muda dengan visi bisnis yang nyeleneh,” kata Direktur Velvet Silver Media Ponti Carolus dalam debat terbuka Menimbang Moral Bangsa yang digelar SCTV di Jakarta, Sabtu (22/4).
Selain Ponti, hadir sebagai narasumber dalam dialog ini adalah Ketua Departemen Data dan Informasi Majelis Mujahidin Indonesia Fauzan Al Anshari. Hadir pula tamu dalam acara ini tokoh agama Ustad Jeffry Al-Buchory, Pendeta Nathan Setiabudi, pakar komunikasi dari Komisi Penyiaran Indonesia Ade Armando, serta anggota Dewan Pers Emir Effendi Siregar.
Ponti mengaku memilih Playboy karena namanya yang sudah mendunia. Karena itu, pihaknya tak perlu menghamburkan uang banyak untuk biaya promosi. Dia cukup mengantisipasi dampak buruk dari penerbitan majalah ini dengan sedikit penyesuaian agar tak terlalu menabrak budaya Indonesia. “Kita cukup aware dengan konsekuensinya,” tambah Ponti.
Sebagai gambaran, Ponti mengambil contoh McDonalds yang sukses diterima masyarakat Indonesia. Di negara aslinya, McDonalds menyajikan bacon yang terbuat dari daging babi sebagai hidangan utama. Tapi ketika masuk ke Indonesia yang mayoritas muslim, McDonalds tak menyuguhkan bacon. Tapi perusahaan ini bisa sukses dengan menjual menu daging ayam dan nasi yang hanya terdapat di Indonesia.
Karena itu, sebagian konsumen yang pola pemikirannya sudah terbentuk dengan citra Playboy di AS tentu akan kecewa. Tak ada gambar perempuan telanjang dalam majalah ini seperti layaknya versi bule. Bahkan isi Playboy Indonesia ini lebih “sopan” dibandingkan majalah khusus dewasa made in Indonesia.
Selain disesuaikan dengan kultur, norma, dan aturan yang berlaku, Ponti mengaku berencana menjadikan Playboy sebagai media pembelajaran bagi masyarakat. Rencananya, majalah ini akan menampilkan pula tulisan dari tokoh agama, politik, atau pihak kepolisian.
Rencana tersebut langsung disergah Ade Armando. Anggota KPI ini menilai Ponti tak perlu berkelit seperti itu. Pasalnya, majalah asal Chicago, AS, ini pada dasarnya adalah majalah hiburan plus bermuatan porno. “Saya rasa enggak perlu Anda bantah itu,” kata Ade.
Ketika sebagian kalangan masih bingung dengan batasan porno, tak demikian bagi MMI. Dengan tegas Fauzan menyatakan, 15 gambar yang terdapat dalam Playboy Indonesia bisa dikategorikan cabul. Karena itu pihaknya akan mensomasi Playboy Indonesia. Apalagi majalah khusus dewasa ini diperjualbelikan secara bebas. Berbarengan dengan ini, MMI juga akan mensomasi instansi yang memberi izin penerbitan Playboy versi Indonesia. “Majalah Playboy wajib ditutup demi kemaslahatan umat,” tegas Fauzan.
Kehadiran Playboy di tengah kontroversi Rancangan Undang-undang Antipornografi dan Pornoaksi memang ibarat menyiram bensin ke dalam api. Masyarakat uang antipornografi langsung menumpahkan amarahnya ke majalah yang awalnya berkantor di ASEAN Aceh Fertilizer (AAF), Jalan TB Simatupang, Cilandak, Jakarta Selatan itu [baca: FPI Menyerbu Kantor Majalah Playboy Indonesia].
Dalam forum ini, memang tak ada yang setuju dengan jalan kekerasan seperti yang dilakukan anggota Front Pembela Islam. Jeffry Al-Buchory menilai, reaksi ini timbul dari kekesalan terhadap sikap manajemen Playboy yang terkesan menantang. Sebelumnya, sejumlah kalangan meminta Velvet minimal menahan rencana penerbitan majalah Playboy. “Kenapa senang membentur-benturkan kepala ke tembok,” analogi ustad yang akrab disapa Uje ini.
Pendapat senada juga dilontarkan Nathan Setiabudi. Ketua Umum Persatuan Gereja Indonesia ini meminta manajemen Playboy tak hanya mementingkan kepentingan bisnis. Unsur memelihara moral bangsa juga tak bisa dikesampingkan. “Saudara jangan enteng mengatakan, nama dipisahkan dari isi. Playboy itu [identik dengan] perempuan tanpa busana,” tambah Nathan.
Muatan bisnis memang kental terasa di balik penerbitan Playboy versi Indonesia. Sebelum Playboy hadir di Indonesia, sudah ada sejumlah media yang mengeksploitasi fisik perempuan. Berdasarkan data Dewan Pers, ada sekitar 20 terbitan yang dikeluhkan masyarakat sebagai media pornografi. Ini secara tak langsung, menandakan permintaan pasar majalah khusus dewasa masih tinggi. Akan tetapi, karena alasan moral, terbitnya harus sembunyi-sembunyi.
Berkutat pada definisi pornografi tentu tak akan menyelesaikan masalah. Salah satu alternatif yang mencuat dalam forum ini adalah keputusan Dewan Pers yang akan mengeluarkan peraturan soal distribusi majalah dewasa. Dengan sistem yang diatur sedemikian rupa, diharapkan majalah yang dinilai merangsang sahwat tak lagi dipajang sembarangan sehingga terutama bisa dengan mudah dilihat anak-anak.
Berbarengan dengan itu, Ponti juga meminta rambu-rambu yang jelas bagi media khusus dewasa. Parameter ini kemudian diperkuat dengan UU Antipornografi dan Pornoaksi. “Kita meng-encourage undang-undang APP,” tutur Ponti yang mengaku sudah menahan rencana penerbitan Playboy edisi kedua.(YAN)
http://www.liputan6.com/view/8,121592,1,0,1145845844.html
no comment dech… coz ga jelas banget batasan yang dimaksud porno tuch gimana??? salah-salah malah jadi parno sendiri….