JAKARTA–Aksi unjuk rasa ribuan perempuan menolak Rancangan Undang-Undang Antipornografi dan Pornoaksi (RUU APP) yang digelar Aliansi Bhineka Tunggal Ika, dinilai sangat tidak logis. Di satu sisi, mereka menyatakan menolak pornografi, namun sekaligus menentang RUU APP.
‘’Saya melihat langsung aksi unjuk rasa itu. Menurut saya, aksi itu mengandung ketidakwajaran dan sangat tak logis,'’ ujar Koordinator Aksi Tim Pengawal RUU APP Majleis Ulama Indonesia (MUI) dan Ormas Islam, KH Muhammad Al Khaththath kepada Republika, di Jakarta, Senin (24/4). Selain itu, kebanyakan dari massa yang ikut aksi itu hanya ikut-ikutan dan tak mengetahui RUU APP secara pasti.
Al Khaththath mengaku mencoba mewawancarai langsung sejumlah orang yang terlibat dalam aksi tersebut. ‘’Ada seorang ibu berjilbab mengaku tak tahu kalau aksi unjuk rasa itu untuk menolak RUU APP,'’ ungkapnya. Kehadiran sang ibu tersebut, ternyata dirayu untuk melihat artis, bukan untuk menolak RUU APP.
Kontradiksi lain, disatu sisi istri Gus Dur, Siti Nuriah Wahid, dalam aksi menolak aksi RUU APP itu menyerukan pelarangan tayangan acara berbau forno di televisi, tapi seorang mahasiswi Institut Kesenian Jakarta, mengaku tak setuju dengan pernyataan sikap itu.
‘’Saya juga mencoba berbicara dengan penari dari Papua. Ternyata orang itu mengaku bahwa di Papua, yang pake koteka hanya orang yang tinggal di pedalaman dan miskin,'’ imbuh Al Khaththath. Salah satu argumentasi penentang adalah membenturkan RUU APP sebagai ancaman terhadap ‘budaya’ koteka.
Tim Pengawal RUU APP MUI menilai aksi penolakan tersebut sah-sah saja sebagai bentuk aspirasi. Namun menyesalkan pernyataan beberapa artis yang menuding penyusun RUU APP sebagai orang bodoh.
Pernyataan itu bisa memperkeruh suasana. Kalu menolak, ya menolak saja, tutur Al Khaththath. Pihaknya mengungkapkan, kehadiran RUU APP adalah untuk melindungi ahlak dan moral bangsa, tudingan RUU APP bisa merusak bangsa sangat tak rasional.
Ia berharap kepada para seniman, artis, dan beberapa tokoh Islam yang bergabung dalam aksi penolakan untuk merenungkan kembali sikap dan tindakannya. ‘’Kita juga minta agar pro kontra yang terjadi jangan sampai mengonfrontasikan agama,'’ tegasnya.
MUI dan ormas Islam yakin, DPR akan konsisten untuk membahas RUU APP. Sekjen Forum Umat Islam ini juga berharap agar subtansi RUU APP bisa distandardisasikan sesuai dengan keyakinan umat Islam sebagai penduduk mayoritas di Indonesia. Ia pun menegaskan, Injil sebagai kitab suci umat Nasrani sangat tegas dan ekstrim menolak pornografi. ‘’Coba lihat Mathius 5 ayat 28,29 dan 30,'’ ucapnya.
Secara terpisah kemarin di Jakarta, Pengurus Pusat Relawan Perempuan dan beberapa ormas mendukung proses pembahasan RUU APP. Ketua Umum Relawan Perempuan, Tuti Maryani, menegaskan, pihaknya akan terus mengawal proses pembahasan RUU APP dengan memberi beberapa masukan.
Relawan Perempuan pun berharap agar RUU APP bisa disahkan pada Juni 2006. ‘’Kami minta hendaknya ditegaskan secara eksplisit bahwa disahkan dan diberlakukannya RUU APP itu untuk melindungi kehormatan, harkat, dan martabat kaum perempuan, serta bisa melindungi moralitas dan akhlak anak-anak sebagai penerus bangsa,'’ tuturnya Tuti.
(hri )
http://republika.co.id/search_act.asp?keywords=ruu+app
JELAS SANGAT TIDAK LOGIS !
KENAPA ?
Slogan dan tindak lakunya jelas bertentangan. Acara itu dimeriahkan dengan memamerkan payudara !
Lihat berita foto di detik.com
Lihat berita lengkap di detik.com:
Hanya detik.com yang meliput berita ini. Kami salut dengan detikcom yang memposisikan dirinya tanpa memihak. Tapi bagaimana dengam media cetak dan elektronik lainnya ? Mereka diam, seakan-akan tidak melihatnya, karena mereka memang berkepentingan dengan ditolaknya RUU APP