oleh : achmad syaiful bachri
Kontroversi seputar pembahasan RUU Anti Pornografi dan Pornoaksi (APP) nampaknya makin meruncing. Ibarat pagelaran Indonesian Idol, belum audisi saja ramenya udah berasa. Begitu juga RUU APP ini, belum pada tahap pembahasannya aja ributnya udah berasa. Ada yang pro terhadap RUU APP dan ada yang kontra terhadap RUU ini.
Pihak pro sebagian besar digawangi oleh organisasi-organisasi Islam yang nampaknya sudah geregetan dengan tayangan-tayangan syur yang ditampilkan oleh media. Mereka hadir di jalanan menyatakan dukungannya terhadap DPR agar RUU itu digolkan.
Sedangkan pihak yang kontra digawangi oleh para artis dan kaum seniman Pihak yang kontra nampaknya tidak mau kalah dengan yang pro. Mereka mulai unjuk kekuatan dengan hadir di jalanan menumpahkan aspirasi ketidaksepakatan terhadap pembahasan RUU APP di parlemen.
Pulau Dewata yang selama ini menjadi surga bagi kaum seniman pun meradang dengan mengambil tema nafsuku bukan nafsumu untuk memprotes RUU APP. Mereka menganggap bahwa RUU APP mengancam kebebasan berekspresi mereka dalam mengepresiasikan seni dan mengancam keberlangsungan dunia pariwisata di Bali. RUU APP kemudian dianggap akan membunuh keberlangsungan perekonomian dan kehidupan sosial. Mereka juga menganggap bahwa hadirnya RUU APP merupakan intervensi agama terhadap keberadaan seni.
Artis-artis dan para model pun juga latah ikut menentang RUU APP ini. RUU APP dianggap mengancam profesi mereka. Mereka mengungkapkan bahwa apa yang mereka lakukan adalah sebuah ekspresi dalam bentuk seni dan tidak ada maksud mengumbar syahwat bagi audien yang menyaksikan mereka, seakan-akan mereka menyepakati tema nafsuku dan nafsumu yang diusung oleh rekan-rekannya di Pulau Dewata.
Nafsuku Bukan Nafsumu?
Tema nafsuku bukan nafsumu yang mereka usung nampaknya ingin menunjukkan bahwa pandangan mereka tentang nafsu berbeda dengan pandangan Islam, dimana dalam Islam secara tegas menyatakan bahwa segala bentuk adegan syur akan senantiasa menimbulkan gejolak nafsu birahi. Tema tersebut juga menunjukkan bahwa seakan-akan para pekerja seni ini tidak pernah memandang dengan nafsu tatkala mereka menyaksikan adegan syur ataupun pose-pose wanita yang menantang tersebut. Lalu kita berpikir apakah para pekerja seni ini tidak mempunyai nafsu?. Seandainya mereka menganggap bahwa nafsu mereka berbeda dengan yang lainnya, lalu yang manakah yang normal.
Kita ini, secara fitrah diciptakan sebagai manusia. Saya manusia dan saya yakin pekerja seni juga manusia. Secara fitrah Allah menciptakan seluruh manusia ini dengan memberikan potensi berupa naluri, nafsu maupun kecenderungan. Salah satunya adalah kecenderungan untuk tertarik dengan lawan jenis. Apalagi Allah juga menegaskan bahwa perhiasan dunia yang paling disukai oleh laki-laki adalah wanita. Seorang laki-laki normal pasti syahwatnya akan bergejolak tatkala melihat adegan-adegan syur, entah itu yang namanya pornoaksi maupun pornografi sebab secara fitrah mereka mempunyai kecenderungan seperti itu, sehingga tak jarang timbul ungkapan wah sexy banget wanita itu. Seorang perempuan yang normal pun pasti juga akan memiliki ketertarikan dengan seorang laki-laki, sehingga timbul ungkapan-ungkapan wuih macho bener cowok itu tatkala seorang cowok melintas di depannya.
Nafsu atau naluri seseorang ini akan senantiasa timbul tatkala dipicu oleh faktor eksternal. Misalkan tatkala laki-laki melihat wanita seksi (sebagai factor eksternal) pasti nafsunya akan bergejolak, begitu juga sebaliknya. Dan tatkala bergejolak, semuanya itu pasti membutuhkan pemenuhan, kalau tidak dipenuhi pasti akan gelisah. Bagi yang sudah memiliki pasangan mungkin no problem karena dia akan datang kepada istrinya maupun suaminya untuk dipenuhi hasratnya. Tapi bagi yang belum mempunyai pasangan yang sah, maka dia akan gelisah dan akhirnya timbullah free sex, perkosaan dan kriminal yang lainnya.
Disinilah maka suatu keanehan seandainya para pekerja seni menyatakan bahwa mereka tidak memiliki kecenderungan ke arah itu tatkala adegan syur dan pose-pose menantang itu disuguhkan kepada mereka. Kita juga akan mempertanyakan kenormalan mereka sebagai manusia, karena seandainya mereka mengingkari fitrahnya sebagai seorang manusia yang memiliki naluri untuk tertarik pada lawan jenis, apalagi kalau bagian aurat lawan jenisnya tersingkap maka berarti dia termasuk manusia abnormal.
Syndrom Kapitalisme
Jelas bahwa secara fitrah mereka (kaum pekerja seni) masih memiliki nafsu atau kecenderungan tersebut dan mereka tidak dapat memungkiri hal itu, hanya saja standar yang mengarahkan nafsunya adalah standar kapitalis dan bukan standar Islam. Patut diketahui pula bahwa Negeri ini bertahun-tahun telah lekat dengan kapitalisme yang dipaksakan oleh barat. Sindrom kapitalisme ini pun mengakar kuat di tubuh rakyatnya. Padahal kapitalisme telah melahirkan sosok-sosok yang opportunis, sosok-sosok yang materialistik, dan sosok-sosok yang individualistik. Hal ini dikarenakan sistem kapitalisme senantiasa terpaku pada asas manfaat dan bukan halal-haram. Jadi selama barang itu masih memiliki manfaat atau masih bisa digunakan untuk mereguk keuntungan meskipun dalam Islam haram maka barang itu tetap dihalalkan dalam kapitalis.
Sikap opportinis telah ditunjukkan pemilik media. Pemilik media ini lebih suka membuat tayangan yang mampu menarik sponsor daripada tayangan yang memperhatikan moralitas generasi muda. Tentu saja para sponsor ini lebih suka membiayai tayangan yang akan menyedot perhatian penonton. Ironisnya tayangan-tayangan yang berbau eksploitasi sex dan wanitalah yang paling banyak diminati oleh penonton. Padahal media massa, baik itu elektronik maupun cetak seharusnya mampu memberikan tayangan-tayangan yang memberikan edukasi positif bagi masyarakat.
Artis-artis maupun model-model adalah sosok-sosok yang materialistik, mereka rela menggratiskan kemolekan tubuh mereka untuk dinikmati kaum Adam hanya demi segepok uang dan berbagai bentuk materi.
Mereka semua hanya berpikir individualistik, dalam pikiran mereka yang penting dapat mereguk materi yang melimpah, meskipun harus tega merusak moralitas ribuan generasi muda di negeri ini dengan adegan-adegan yang berbau eksploitasi sex dan wanita. Yang ada dipikiran mereka hanyalah duit.
Sehingga tak heran apabila mereka menolak pembahasan RUU APP ini. Karena RUU APP dianggap mengekang profesi bejat mereka.
Kita sebagai seorang muslim wajib untuk kembali kepada Islam sebagai tolak ukur untuk mengendalikan nafsu atau kecenderungannya. Islam telah melarang segala bentuk pornografi maupun pornoaksi.
Oleh karena itu marilah kita tolak sistem kapitalisme yang hanya akan menumbuh suburkan pornoaksi dan pornografi di negeri ini.
*)Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang
Ketua Umum GEMA Pembebasan UMM
http://www.gemapembebasan.or.id/?pilih=lihat&id=109