”Moga-moga kami mendapat rahmat, dapat bekerja membuat umat agama lain memandang agama Islam patut disukai.’’ (Surat Kartini kepada Ny Van Kol, 21 Juli 1902)
Kami awali dengan sebuah kisah, kalau kami tidak salah pernah dibacakan oleh dr Susiana Tabrani dalam sebuah pertemuan. Kisah ini juga terpampang manis di salah satu sudut Rumah Sakit Tabrani. Judulnya: Rabbi, Mengapa Bundaku Menangis? Begini kisahnya, seorang anak kecil bertanya kepada Tuhannya, ‘’Rabbi, mengapa Bundaku sering menangis?’’ Allah menjawab, ‘’Karena ibumu seorang perempuan. Aku menciptakan perempuan sebagai makhluk istimewa. Aku kuatkan bahunya untuk menyangga dunia, Aku lembutkan hatinya untuk memberi rasa aman, Aku kuatkan rahimnya untuk melahirkan benih manusia, dan Aku tabahkan pribadinya untuk terus berjuang saat orang lain menyerah, Aku berikan dia rasa sensitif untuk mencintai putra-putrinya. Aku tanamkan rasa sayang yang akan meninabobokkan anaknya, dan berbagi cerita dengan putra-putrinya yang beranjak dewasa. Aku beri dia kekuatan memikul beban keluarga tanpa mengeluh. Aku kuatkan batinnya untuk tetap menyayangi walau disakiti. Aku berikan keindahan untuk melindungi batin suaminya. Aku berikan dia kebijaksanaan untuk mengerti bahwa suami yang baik tak akan pernah menyakitinya. Tapi kadang itu hanya ujian, apakah dia wanita setia. Bundamu, makhluk yang sangat kuat, jika kau lihat bundamu menangis, karena dia Kuberi air mata, yang bisa digunakan sewaktu-waktu untuk membasuh luka batinnya dan memberikan kekuatan baru.’’
Adalah sebuah fitrah dalam hidup, sesuatu yang berharga dalam kehidupan ini diletakkan pada tempat yang sesuai. Mutiara yang berkualitas akan terjaga dengan rapi pada cangkang tiram yang kokoh dan kuat, perhiasan mahal, biasanya akan dibungkus dan diletakkan pada kotak dan ruang yang aman, begitu pula brangkas dengan yang kuat diperlukan buat menyimpan surat berharga, atau ruang terbaik dari sebuah show room digunakan untuk meletakkan mobil yang termahal.
Penempatan kalimat bahwa kaum Hawa sangatlah istimewa tentu saja tidak menafikan para kaum Adam yang juga merupakan makhluk yang istimewa. Kita sama-sama mengetahui bahwa Allah menciptakan segala sesuatu ini dengan berpasang-pasangan dan setara. Perumpamaan ini dapat kita ibaratkan dengan penciptaan adanya siang dan malam, hitam dan putih, baik dan buruk serta lainnya.
Beralih dari ilustrasi di atas, kami ingin sedikit mengulas dan membicarakan tentang diskriminasi dan emansipasi yang sering didengungkan dan diangkat oleh kaum perempuan. Namun, karena hari ini adalah hari kelahiran Ibu Kartini, maka kami ingin mengatakan bahwa kaum perempuan sering kali salah dan terbata-bata dalam membaca cita-cita Kartini itu sendiri. Sebagai contoh, emansipasi sering diartikan sebagai bentuk yang menyamaratakan posisi perempuan dengan laki-laki. Emansipasi lebih mirip dengan tingkah polah liberal yang sangat jauh dari syar’i. Bukankah perempuan dan laki-laki telah diberikan Allah peran masing-masing dan jika hal ini kita lakoni dengan baik, maka pahalanya sama di sisi Allah.
Di sisi lain, Kartini sendiri dalam kumpulan suratnya Door Duisternis tot Licht yang diartikan oleh cucu tirinya sebagai Dari Gelap menuju Cahaya, atau dalam bahasa Arabnya, Minazh-Zhulumaati ilan-Nur adalah merupakan inti dari panggilan Islam itu sendiri, yang maksudnya membawa manusia dari alam kegelapan atau kejahiliyahan menuju ke tempat yang terang benderang (petunjuk atau kebenaran al Haq) QS. 2: 257.
Hal ini tergambar dalam suratnya kepada Van Kol yang kami ilustrasikan di atas. Namun sayang, ketika Kartini masih dalam proses menuju cahaya itu, beliau telah menghadap Yang Kuasa. Kartini kembali pada Pencipta, Penguasa dan Pemiliknya, tempat kembali semua umat manusia. Upayanya memang tidak mudah, karena pada masanya dia harus melawan usaha westernisasi dan tradisi yang sangat kuat. Belum lagi perang pemikiran (gazul fikri) yang sampai pada Kartini lewat korespondensinya dengan beberapa orang yang notabene bukan seiman.
Ya, begitulah, emansipasi yang sering dikaitkan dengan perjuangan Kartini ini sebenarnya tidakklah seperti yang kebanyakan para perempuan tuntut. Emansipasi adalah bagaimana seorang perempuan dan laki-laki untuk saling besinergi dalam memerankan amanah yang diberikan Allah kepada kaum perempuan itu sendiri.
Perempuan dibatasi oleh fitrah, demikian pula para kaum laki-laki. Mereka juga memiliki batas-batas yang harus disepakati. Berbicara tentang RUU APP yang katanya adalah salah satu bentuk diskriminasi terhadap kaum perempuan, kami rasa itu tidaklah beralasan. Bukankah kaum perempuan adalah mutiara yang memang harus dibungkus dengan rapi? Perempuan memiliki tubuh yang sangat indah sehingga Allah memberi batasan aurat dalam Alquran itu sangatlah jelas (QS Al Ahzab 59) dan bukan untuk dipertontonkan, dipamerkan, dan diperjualbelikan secara obral. Apakah itu bentuk diskriminasi? Tentu tidak. Hal ini tentu saja sejalan pula dengan fitrah kaum lelaki yang memang diberikan potensi senang dengan perempuan dan tahta. Namun kesenangan laki-laki terhadap perempuan harus disalurkan melalui jalan yang telah diatur secara hukum legal, benar, dan terhormat, untuk menunjukkan bahwa perempuan itu memang makhluk yang terhormat, sama seperti laki-laki. Perempuan bukanlah barang dagangan —apa lagi produk industri— yang seenaknya bisa dieksploitasi untuk kepentingan syahwat dan materi.
Oleh karena itu, kami heran dan sangat menyayangkan, mengapa banyak kaum perempuan yang mengaku-ngaku sebagai pembela hak-hak kaum perempuan yang terjajah, malah bertindak sebaliknya. Dengan argumen yang dicari-cari mencari pembenaran mereka malah memberikan kesempatan luas kepada masyarakat agar kaum perempuan dieksploitasi. Mereka putar balik RUU APP hanya akan mengekang kebebasan kaum perempuan untuk berekpresi.
Mereka tuding RUU ini anti demokrasi dan melanggar HAM. Mereka perjuangkan kebebasan perempuan secara tidak terbatas, kebebasan tanpa norma-norma, kebebasan tanpa aturan. Seakan-akan perempuan itu tidak memerlukan laki-laki dan bisa hidup menyendiri. Mereka tampilkan contoh-contoh yang tidak relevan, sementara fakta bahwa banyak dieskploitasi dan ternistakan akibat pornografi dan porno aksi mereka abaikan. Bukankah banyak orang yang berteriak-teriak demokrasi, HAM, kebebasan, akan tetapi tingkahlakunya malah kebalikannya? Sebuah sikap yang malah memancing pertanyaan, agenda apa sebenarnya yang mereka usung?***
Yuslenita Muda, dosen Matematika FST UIN Suska, anggota Yayasan Pusaka Riau. Siska MSi, dosen FE UIR.
http://www.riaupos.com/web/content/view/11011/1/