Kenapa koran Jylland Posten Denmark membuat karikatur Nabi Muhammad? Jawab mereka kebebasan menyatakan opini.
Kenapa karikatur itu dibuat untuk mempropagandakan opini bahwa Islam yang dibawa Nabi Muhammad adalah agama terorisme? Jawab mereka tentu kebebasan pers. Mengapa ketika umat Islam di seluruh dunia menyatakan protes dan meminta pemerintah Denmark minta maaf kepada dunia Islam? Jawab mereka, kebebasan pers tidak bisa diganggu gugat.
Masya Allah, ternyata sekarang kebebasan sudah menempati kedudukan yang paling tinggi bagi manusia. Karena yang paling tinggi itu seharusnya adalah Tuhan, maka bagi Jylland Posten, bagi pemerintah dan bangsa Denmark, bagi bangsa-bangsa Barat, bagi duni Barat, kebebasan memang telah menjadi tuhan dan sekaligus agama mereka. Inilah yang kemudian terus-menerus mereka jajakan dan kampanyekan ke seluruh penjuru dunia.
Kebebasan menyatakan pendapat, kebebasan berekspresi harus dihormati. Tidak boleh ada ajaran apapun selain ajaran kebebasan itu sendiri, yang boleh membatasi apalagi membredel kebebasan menyatakan pendapat dan berekspresi itu. Itulah satu firman paling utama dalam agama kebebasan yang datang dari tuhan kebebasan yang bersemayam di benak para penganutnya.
Ketika ada ajaran agama lain, yang mencoba keberatan terhadap praktik kebebasan yang mereka ekspresikan, maka para penganut agama kebebasan itu akan ramai-ramai tampil melakukan pembelaan. Agama apapun, selain agama kebebasan tidak boleh membatasi kebebasan
menyatakan pendapat atau kebebasan berekspresi.
Itulah akibatnya sekarang, yaitu pemuatan karikatur Nabi Muhammad yang dibuat oleh Jylland Posten Denmark yang diprotes oleh dunia Islam sekarang. Ummat Islam sedunia tidak terima pemuatan karikatur itu karena menyinggung keyakinan keagamaan umat Islam. Lebih-lebih lagi, karena karikatur itu bukan sekadar ingin menggambarkan sosok Nabi Muhammad, tapi mencitrakan beliau secara negatif dengan simbol sorban yang dilekati bom.
Tapi paradigma agama kebebasan itulah pula yang selama ini tiap hari kita serap dan praktikkan dalam kehidupan kita. Kebebasan berekspresi tidak boleh dipasung. Kebebasan seni tidak boleh dihambat. Kitapun telah menganutnya. Lihat saja, misalnya, ketika Rancangan Undang-Undang Pornografi dan Pornoaksi dibahas. Silang pendapat ramai mengemuka, karena akhirnya apa yang disebut porno sulit didefinisikan.
Mau pakai definisi dari agama? Tunggu dulu kata yang lain, itu tidak boleh dipakai, karena hanya menyangkut kepercayaan agama tertentu saja. Bahkan katanya, di antara pemeluk agama yang sama, bisa tidak ada kesepakatan mana yang porno mana yang tidak. Penganut agama kebebasan ramai-ramai angkat bicara, menempatkan kebebasan nomor pertama dan segala macam tabu dan larangan agama menjadi nomor dua bahkan nomor sekian.
Belum lagi undang-undang itu keluar, lalu muncul pula berita majalah Playboy rencana mau beredar di Indonesia dalam edisi Indonesia. Ribut-ribut silang pendapatpun bermunculan lagi. Demo meruyak sebelum majalah Playboy sempat terbit.
Pemuatan karikatur Nabi Muhammad di media Barat yang bahkan sekarang ini sudah meluas sampai ke gambar kancing, dasi, topi, gelas, souvenir karena dimanfaatkan oleh pebisnis kapitalis penganut agama kebebasan, memang harus diprotes tegas tanpa harus dilakukan secara anarkis.
Tapi sesudah itu, kita juga perlu sejenak merenung. Bukankah itu akibat dari akibat dari kebebasan yang dijunjung tinggi tanpa batas? Bukankah itu, diam-diam kita juga sudah mulai mengimpornya ke negeri kita, bahkan masuk ke benak dan sanubari kita sendiri? (*)
http://www.fajar.co.id/kolom/news.php?newsid=334