Oleh : Muhammad Amin
Sejak bangsa ini mengalami multi krisis yang berkepanjangan, jiwa bangsa yang terkoyak akibat krisis multi dimensi ini belum juga sembuh. Berbagai harga bahan makanan hingga bahan bakar konsisten naik. Belum lagi rencana tarif dasar listrik (TDL) yang terus menjadi ancaman ‘laten’ krisis-krisis baru.
Seharusnya dalam kondisi demikian, akan lahir para ‘pahlawan’ bangsa yang banyak untuk kebangkitan bangsa ini. Namun itu relatif tak banyak terjadi di Indonesia. Para pahlawan bangsa pun satu persatu berguguran karena permintaan ‘pasar’ yang berkehendak lain. Bangsa Indonesia tetap menjadi bangsa yang sakit. Kondisi krisis ekonomi tak mengurangi minat orang untuk melakukan penyimpangan, korupsi, manipulasi dan tindakan amoral lain termasuk pornografi dan porno aksi.
Bahkan terjadi kecenderungan anak bangsa untuk semakin larut dalam euforia reformasi. Kebebasan diartikan dengan tindakan liberal yang benar-benar tak terbatas, bebas sebebas-bebasnya. Termasuklah di sana bebas menjarah, melakukan korupsi, bebas mendedahkan pornografi dan porno aksi. Moralitas bangsa benar-benar tercabik. Bahkan ketika ada niat untuk menerbitkan Undang-undang Anti Pornografi dan Pornoaksi (APP) pun- untuk memperbaiki moralitas itu-, tantangan keras menghadang.
Seolah-olah, selama lebih dari separuh dekade ini- dengan kebebasan pornografi dan porno aksi di sembarang tempat-, bangsa ini sudah berada pada jalur yang benar. Padahal, jiwa bangsa sudah benar-benar tercabik. Berbagai cara pun sudah dilakukan, mulai dari sentuhan agama, moral, hingga politis dengan cara menerbitkan berbagai undang-undang yang berhubungan dengan moralitas.
Pendidikan diharapkan dapat menjadi salah satu obat mustajab untuk menyembuhkan bangsa yang tengah ‘sakit’ ini. Dunia pendidikan diharapkan akan dapat melahirkan tak saja insan-insan yang memiliki pengetahuan dan kepintaran eksak yang mantap, namun juga harus memiliki dedikasi dan akhlak yang baik.
Pendidikan sangat menentukan masa depan suatu bangsa. Satu generasi yang terdidik akan dapat melahirkan pemimpin yang terdidik, berakhlak, tidak korup. Sementara pendidikan yang salah, akan menghancurkan juga satu generasi: menjadikannya generasi yang salah urus, generasi yang ‘pandai’ hanya memanfaatkan situasi untuk kepentingan pribadi.
Bisa dikatakan, pendidikan adalah benteng terakhir untuk memperbaiki kondisi bangsa yang carut-marut sekarang ini, jika aturan tak lagi digubris, norma dalam masyarakat tetap dilanggar. Pendidikan yang baik bagi anak, akan menjadikan mereka tak lagi tergoda oleh kebebasan yang sudah terlanjur dialami bangsa ini, tapi cenderung tak terarah. Ibarat ikan di laut, jika anak sudah terdidik dengan baik, dia tak terpengaruh oleh asinnya lingkungan air laut. Ikan tak menjadi ikut asin karena lingkungannya.
Jika diperhatikan, kemajuan suatu bangsa dapat dilihat dari pertumbuhan dan perkembangan pendidikan masyarakatnya. Hal ini menunjukkan bahwa pendidikan merupakan kunci dasar dari suatu negara. Pendidikan sering diibaratkan sebagai lambang kebesaran dari suatu bangsa di mana pun di dunia ini. Pendidikan pada hakikatnya merupakan suatu kebutuhan asasi manusia, tak terkecuali di Indonesia.
Namun ironisnya, pengakuan dari penulis buku ini justru menunjukkan bahwa pendidikan di negara ini tak beranjak menuju lebih baik. Banyak persoalan pendidikan yang tak tuntas dan tak ada solusi yang pasti. Bahkan juga disebutkan bahwa jika memang pendidikan disebut sebagai jiwa bangsa, maka kondisinya sat ini boleh dikatakan sedang terkoyak.
Buku Menjahit Jiwa Bangsa yang Terkoyak ini memaparkan mengenai seluk beluk dunia pendidikan dalam hubungannya untuk kembali merajut koyak-moyak jiwa bangsa. Buku ini berisi tulisan bunga rampai tentang dunia pendidikan. Awalnya, berbagai tulisan dalam buku ini terserak-serak dalam berbagai makalah, tulisan di seminar, lokakarya, bahan kuliah dan sebagainya. Berbagai tulisan itu kemudian dikumpulkan dan akhirnya terbitlah buku ini. Terdapat setidaknya delapan tulisan dalam buku ini, mulai dari topik bagaimana mempersiapkan SDM yang tangguh hingga pendidikan untuk membangun kesadaran bangsa.
Sebagai seorang profesor sejarah yang juga pendidik, Suwardi MS cukup berkompeten menulis tentang berbagai tema di dalam buku ini. Tulisan-tulisannya juga cukup mengalir dan memiliki bobot ilmiah yang mapan. Tidak seperti sementara profesor yang ‘mandul’ dalam menulis, cukup banyak tulisan yang dihadirkan dari Suwardi, khususnya mengenai dunia pendidikan dan sejarah. Buku ini merupakan salah satu bukti bahwa Suwardi MS tetap merupakan penulis produktif yang dimiliki Riau saat ini. Suwardi tetap eksis di dunia perbukuan, khususnya di Riau.
Tentang buku ini, judul yang diambil agaknya terlalu besar dan ambisius untuk isi dan tulisan yang ada. Anak-anak judul yang ditampilkan dalam buku ini, juga berbagai pembahasannya tak mampu merekatkannya menjadi sebuah karya yang utuh untuk menyamai judul yang diberikan bagi buku ini. ‘Pakaian’ untuk judul buku ini, terlalu agung dan terlalu besar untuk isinya. Lagi pula, perekat antar masing-masing anak judul tampak kurang greget sehingga rangkaian tulisan ini tidak saling mengisi, apalagi jika dikaitkan dengan judul buku ini. Namun fenomena seperti itu memang menjadi karakter umum suatu buku bunga rampai. Merupakan suatu hal yang sangat sulit untuk merangkai tulisan bunga rampai menjadi bacaan yang utuh dan lengkap, kecuali memang ada perencanaan matang sebelumnya. Terlepas dari itu, buku ini termasuk karya yang baik, khususnya untuk membangkitkan kesadaran dunia pendidikan di Riau.***
http://www.riaupos.com/web/content/view/9647/27/