Banyak juga perempuan yang menolak RUU APP, terutama dikalangan artis dan aktivis perempuan sekuler. Kenapa?
Kalau dipikir-pikir, sebenarnya -sekali lagi- hak mereka untuk tampil ‘apa adanya’ atau ‘apa-apanya ada’ toh tidak merugikan siapa pun. Terbitnya majalah Playboy pun sebenarnya kalau mau jujur tidak merugikan FPI. Apalagi dengan batasan segmentasi pembaca semakin ‘mengamankan’ efek yang ditimbulkan.
Benar gak sih?
Sekarang lupakan pornografi dan segala ketelanjangannya. Sekarang mari lihat artis kita yang lain, Roy Martin yang kena delik hukum gara-gara mengkonsumsi narkoba. Apa sih masalahnya kalau dia mengkonsumsi narkoba? Apakah Jendral Polisi Sutanso jadi sakit kepala? Toh dia yang ‘make’, dia yang bayar, dan dia pula yang beresiko kehancuran fisik. Kita semua tidak apa-apa. Trus, kenapa pula dia harus kena hukuman?
Faktanya, banyak orang yang takut narkoba dikonsumsi secara umum sehingga merusak pemakainya. Walau pun sebenarnya -sekali lagi- ini pilihan, tidak merugikan siapa pun kecuali pemakainya. Tapi negara melihat lain, dan masyarakat beradab melihatnya berbeda. Semua takut, orang-orang terdekat kita tidak bisa menahan nafsunya untuk tidak mengkonsumsi narkoba. Semua takut, konsumsi narkoba -sekali pun pada orang lain- akan mengurangi hak kita.
Polisi yang mengkonsumsi narkoba akan menurun prestasi pelayanannya. Suami yang mengkonsumsi narkoba akan menurun kualitas kepemimpinannya, dst. Semua takut, semua khawatir.
Maka logika yang sama juga pada pornografi.
Lelaki yang melihat tubuh polos Isabel terus membayangkan tubuhnya kemana ia pergi dan mengasosiasikan tubuh isabel pada wanita yang ia temui. ini seperti kasus pemerkosaan anak SMP kepada bocah dibawah umur: terangsang film porno! Akibatnya seperti yang terjadi di AS, banyak wanita AS yang pernah mengalami pelecehan seksual. Apakah ada yang bercita-cita adik/kakak perempuan kita termasuk di dalamnya bila itu terjadi di Indonesia? Ataukah Anda sendiri wahai ‘kartini’ pejuang hak-hak perempuan?
Faktanya tingkah orang berawal dari pikiran. Imajinasi. Mimpi tentang pergi ke bulan berawal dari imajinasi, pun tentang hubungan seksual! Adapun imajinasi tumbuh dari informasi panca indera. Apa yang dilihat, didengar, dicium, dan dirasa semua terekam dan terolah dalam benak kita dan terlahir keputusan meniru. Itulah belajar.
Maka sangat wajar keluhan yang disampaikan seorang peserta pada acara BBM di Indosiar Senin malam lalu (24 April 2006) bahwa banyak wanita yang mengalami penindasan seksual dari pasangannya seperi -maaf- memasukkan wortel atau mentimun ke vagina. Para lelaki belajar dari apa yang dia lihat sebelumnya! Dia melihat cara seperti itu di media lain lalu mempraktekannya pada wanita yang paling dekat dengan lingkaran hidupnya.
Bila wanita sayang pada diri sendiri seharusnya mereka mencegah informasi sesat macam itu bukannya mendukung. Orang yang pertama harus dilindungi dari porografi adalah gadis-gadis di bawah umur, ia akan menjadi pelampiasan lelaki yang dekat dengan lingkaran hidupnya. Mencoba mengasosiasikan tubuh polos yang pernah ia lihat dan melampiaskan seluruh khayalannya pada tubuh yang tak melawan. Puaskah?
Namun ternyata ini bukan sekedar kepuasan, seperti yang mengemuka dalam opini di koran Tribun edisi Jum’at 28 April 2006, pornografi masalah kesejahteraan. Memajang tubuh sendiri di depan publik untuk mencari makan, mumpung ada yang mau beli. Tak peduli ada yang menanggung derita karena itu atau tidak. Ini seperti bisnis narkoba yang beromzet miyaran, bukan semata-mata ingin menghancurkan generasi muda, namun jalan cepat menjadi kaya.
So, apalagi yang harus dibela?
Jujur, Inul gak perlu cemas akan terjadi pelecehan seksual karena goyangan erotisnya, pun artis-artis lain yang ‘menjual’ daya tarik seksual karena mereka punya pengawal pribadi. Tapi wanita penjual jamu yang menyusuri kampung jauh dari keamanan? Gadis-gadis sekolah yang pulang sekolah? Karyawati yang pulang malam? Atau bahkan Anda sendiri? Itukah yang dicari?
Sekali lagi, pornografi masalah uang seperti narkoba. Bila pornografi dibolehkan, tolong, bebaskan pula narkoba lalu sama-sama menjual diri. Mau?
http://bulan-purnama.blogspot.com/2006/04/pornografi-vs-narkoba.html