(Dari Tragedi Palestina hingga RUU APP)
Oleh : Yoyoh Yusroh
Wakil Ketua Komisi VIII DPR RI
Sebuah bangsa sejatinya adalah sebuah jiwa. Sebuah bangsa sesungguhnya tak punya apa-apa kecuali semangat kebersamaan yang merengkuh warganya. Dan sebuah bangsa takkan pernah menjadi lebih besar melampaui visinya. Hari-hari ini sebuah pelajaran berharga tentang ‘’kebesaran'’ bangsa disuguhkan dengan gamblang di depan kita. Palestina. Sebuah bangsa dan negara yang tak henti dari konflik dan tekanan. Setelah Hamas memenangi pemilu beberapa waktu silam melalui sebuah proses pemungutan suara yang amat demokratis, berbagai reaksi keras muncul terutama dari Amerika Serikat dan Uni Eropa. Mereka memboikot negeri tua yang tercatat dalam berbagai Kitab Suci ini. Pemboikotan itu jelas mengancam nyawa penduduk Palestina. Seratus enam puluh lima ribu lebih pegawai Pemerintah Otoritas Palestina sudah 66 hari belum jua menerima gaji mereka. Tak ada bantuan yang dapat masuk, tak ada transaksi yang dapat dilakukan.
Jutaan dolar yang berhasil digalang oleh Pemerintah Otoritas Palestina dari negara-negara Arab dan Muslim tertahan di luar tapal batas negara mereka. Banyak Bank yang tak berani mentransfer dana-dana itu ke Palestina karena khawatir akan mendapat ‘’hukuman'’ dari Amerika dan sekutunya, karena mengabaikan himbauan untuk tidak membantu HAMAS.
Cut off! Enyahkan Palestina dari peta sejarah! Demikian seolah pesan implisit yang disuarakan oleh para pemimpin negara-negara Barat. Lepas dari berbagai hujah yang dibangun, sikap para petinggi Barat yang menepis aspirasi enam puluh persen rakyat Palestina dalam menentukan pilihan politiknya secara demokratis dengan sebuah pemboikotan, adalah paradoks kemanusiaan yang memprihatinkan.
Bagaimana mungkin sebuah bangsa harus menderita karena pilihan merdeka yang mereka buat dalam menentukan masa depan negaranya? Berapa banyak bayi-bayi, ibu-ibu hamil, para janda syuhada dan anak-anak yatimnya, serta para lansia yang harus kelaparan kini?
Mengapa Palestina harus berubah menjadi kamp konsentrasi raksasa ala Nazi di saat demokratisasi menemukan titik ungkitnya di negeri itu? Mengapa ada bangsa lain yang begitu jumawa menjadi algojo kemerdekaan dan harkat sesama bangsa penghuni bumi, melampaui pemahaman kita bersama tentang adab-adab bertetangga masyarakat internasional? Inikah yang kita sebut sebagai kemajuan dalam peradaban kemanusiaan?
Namun Palestina memang nyata sebuah bangsa yang tahu menakar masa depan. Pilihan politik demokratis mereka adalah sebuah jiwa bangsa yang harus dibela. Atau bangsa ini akan mati selamanya, kehilangan identitas dan harga diri. Sebuah bangsa yang tak berkarakter–meminjam istilah Dr Ratna Megawangi. Palestina tak mau enyah dari muka bumi.
Maka bergeraklah ribuan orang di Tepi Barat, meneriakkan konsistensinya pada pilihan merdeka bangsanya. Lalu diserbulah toko-toko perhiasan oleh para gadis belia dan ibu-ibu, mereka melego perhiasannya untuk dana solidaritas sosial bagi anak-anak yang kelaparan.
Bahkan Ismail Haniya–sang pemimpin pilihan rakyat–tak lagi mengonsumsi lauk-pauk, cukup sedikit garam menemani santapannya, mendahulukan balita generasi masa depan bangsa tercinta. Puluhan ribu orang menyediakan makanan bagi puluhan ribu keluarga lainnya, dan para pegawai swasta menginfakkan separoh gajinya bagi saudara-saudara sebangsa, pegawai pemerintah yang belum memperoleh gaji karena kas negara kosong. What a nation! Sebuah bangsa yang sungguh berjiwa.
Ujian bagi Indonesia
Kita pun merasakan betapa merdu senandung kemerdekaan yang mereka lantunkan kini. Menyapa relung-relung hati yang terkotori oleh prasangka dan angkara murka, mengajarkan tetangga-tetangga bangsanya tentang hidup penuh kehormatan yang lebih saling menghormati.
Di negeri tercinta Nusantara, jiwa bangsa inipun kini mengalami ujian. RUU Anti Pornografi dan Pornoaksi (APP) adalah satu di antara ujian itu. Bila kita cukup berbesar hati untuk menengok realitas permasalahan di negeri ini, kita tahu bahwa moralitas adalah salah satu faktor signifikan untuk membuat bangsa ini tegak berdiri. Kita yang cukup terpukul dengan status sebagai negara terkorup papan atas, masih harus menanggung tempelak keras sebagai salah satu surga pornografi dunia. Urutan kedua tepatnya, setelah Rusia dan Swedia. Saudaraku sebangsa, dengan apa kita akan mewarisi generasi penerus? Modal pun kita tak punya lagi. Hutang kita belum tertutupi entah sampai berapa lapis generasi. Setidaknya, dengan moral dignity, kita bisa berbicara setara dengan berbagai bangsa di dunia.
Dengan berbesar hati kita harus mengakui bahwa selama ini kita alpa. Pembangunan moralitas bangsa kita pinggirkan, tidak sungguh-sungguh kita kerjakan, lebih sebagai sekedar slogan. Kemudian tiba-tiba kita terpana. Kasus demi kasus yang memerihkan rasa kemanusiaan dan kehormatan bangsa menoreh satu-satu. Mulai dari media porno yang tak jengah lagi tampil dan dapat dikonsumsi oleh siapa saja termasuk anak-anak di bawah umur, ekspose kebugilan yang membuang jauh-jauh penghormatan pada keluhuran manusia sebagai makhluk berbudi, hingga praktek-praktek seks bebas yang memorakporandakan nilai dan tatanan sosial bangsa beragama. Korbannya amat jelas: perempuan, anak-anak, dan generasi muda penerus cita-cita bangsa.
Multiplier effect dari merosotnya kualitas moral dalam bentuk kepornoan yang kian merusak itu adalah makin rentannya keselamatan perempuan dan anak. Banyak kasus yang menjadi bukti nyata. Ambil contoh kasus seorang kakek yang kecanduan VCD porno di Mataram hingga akhirnya memperkosa pembantu rumah tangga dan tukang pijit….
Dapatkah kita bayangkan betapa sedih anak cucunya karena rumah tangga yang dibina puluhan tahun akhirnya harus kandas?? Tak hanya keretakan dan hancurnya rumah tangga, penurunan capaian akademis pelajar dan mahasiswa, makin rendahnya etos kerja karyawan, kekerasan dan pelecehan pada perempuan, serta masih banyak lagi kasus-kasus lain yang memprihatinkan.
Terjaga dari dekadensi
Pada titik ini kita butuh garansi. Kita butuh kepastian hukum yang adil, agar moralitas bangsa tak tergadai. Tak mengapa kita bukan negara kaya, asalkan kekayaan asasi kita, yaitu sumber daya manusia yang menjunjung tinggi keluhuran kemanusiaan, tetap kita miliki.
Law enforcement kita butuhkan dalam hal membangun moralitas bangsa ini, karena kita ingin membangun bangsa yang berbudi dan menghormati hukum. Laiknya bangsa yang cerdas dan beradab. Kita ingin membangun sistem yang adil dan berwibawa. Warisan kita pada anak-cucu yang kita harap akan menjadi modal membangun kebesaran bangsa ini kembali, di kelak kemudian hari.
RUU APP, adalah salah satu bukti, bahwa jiwa bangsa kita terjaga dari dekadensi. Bahwa Indonesia tetaplah bangsa yang punya jatidiri, punya karakter. Siapapun sepakat, sejak ribuan tahun manusia menghuni bumi, bahwa pornografi adalah penyakit yang menggerogoti kebesaran bangsa. Virus yang menyesap kegemilangan generasi muda, dan menjadikannya lumpuh layu, tak bersisa.
Mengapa kita masih harus meragukan signifikansinya untuk masa depan bangsa? Ada kekhawatiran tentang kebebasan berekspresi sebagai salah satu bentuk hak asasi manusia yang akan terpasung. Kiranya tak ada alasan yang cukup kuat untuk menjadikannya sebagai penghambat lahirnya produk hukum yang akan menyemai manusia-manusia yang lebih manusiawi. Bahkan seorang Kartini, lebih dari seratus tahun silam, telah mengingatkan kita bahwa kebangsawanan yang sesungguhnya adalah keningratan budi. Dari keluhuran inilah lahir kreasi anak manusia yang akan mengukir kecemerlangan sejati peradaban.
Memang kita hanya butuh sebongkah nurani untuk menyadari arti semua pelajaran yang Allah berikan hari ini. Pemboikotan Palestina di Timur Tengah, dan penolakan RUU APP di negeri tercinta ini. Hanya kejujuran hati pada Ilahi yang akan membantu kita memahami.
Solidaritas kita sebagai bangsa yang punya tanggung jawab melahirkan generasi yang jauh lebih baik dari generasi kita, amat bergantung pada jawaban kita atas pertanyaan, ‘’Adakah kita–sebagai bangsa–masih punya jiwa?'’. Saudaraku tercinta, semua ini kita perjuangkan bukan hanya untuk masa kini, tapi untuk masa depan. Untuk kehidupan yang jauh lebih baik bagi anak-cucu kita.
Ikhtisar
* Sikap Barat menepis proses demokrasi–yang menghasilkan aspirasi politik 60 persen rakyat Palestina mendukung HAMAS–dengan sebuah pemboikotan (ekonomi), adalah paradoks kemanusiaan yang memprihatinkan.
* Indonesia juga menghadapi ujian berat. Setelah terpukul status negara terkorup, kini menanggung citra sebagai salah satu surga pornografi dunia.
* Korban paling menderita dari pengingkaran demokrasi ala Barat dan merajalelanya industri pornografi amat jelas: perempuan, anak-anak, dan generasi muda penerus cita-cita bangsa.
TIDAAAAAK SETUJU RUU APP