Buah kebebasan di Indonesia bukan hanya berpengaruh pada politik saja. Kebebasan sudah mempengaruhi integritas budaya sehingga banyak umat yang lambat laun menanggalkan prinsip-prinsip etika dan moral. Tambah lagi penggerusan budaya menjadi ancaman kedepan.
Umat Islam Indonesia kini menghadapi tantangan budaya yang sangat berat. Budaya yang sedang berkembang sekarang tampak semakin gencar mengejar kesenangan duniawi semata (hedonis ) dan longgarnya terhadap norma aturan nilai agama dan etika (permisif ). Demikian halnya dengan media penyiaran gemar menayangkan tayangan yang bersifat pornografi dan pornoaksi yang kian menjadi-jadi. Visualisasi amoralitas yang disuguhkan kedalam media kini sudah pada pembuatan karakter dan bentuk budaya liberal pada remaja kita. Sangat mengherankan sekali dari transformasi budaya yang berkembang, kini telah berubah membentuk glamorisasi sebagai apresiasi kebebasan yang menjadi dogma bagi kaum remaja. Sedangkan etika dan tatanan filosofis kehidupan yang berjalan dan menjadikan pegangan dalam hidup. Lama-lama mengalami penggerusan budaya dan sengaja ditinggalkan untuk mengikuti selera kaum pasar liberal yang selalu memuja ‘berhala globalisasi yang kini menjadi ideologi mereka.
Media penyiaran yang menjadi corong masyarakat dan berisi tentang pendidikan dan alat untuk mempertahankan citra budaya, telah berubah menjadi alat propaganda sekuler barat. Banyak program acara TV yang kini ditayangkan baik berupa senetron, iklan dan film lebih terasa dalam visualisasinya penuh dengan aroma-aroma pornografi dan kehalalan melakukan free Sex. Misalnya, senetron Montir-Montir Cantik yang pernah ditayangkan stasiun Indosiar, pornografi begitu melekat disetiap episode-episode ceritanya. Serta para artis-artis pemainya seperti Sarah Azhari dengan pakaian-pakaian yang memperlihatkan auratnya. Stasiun TV RCTI pada senetron Cowok-Cewek Keren juga sama memberikan citra kebebasan antar insan manusia untuk melakukan pergaulan bebas serta lebih mengedepankan prakmatisme dari segi sikap dan tindakan. Kemudian stasiun Lativi dalam program acara 17 th Keatas, yang selalu ditayangkan pada tengah malam film-filmnya cenderung mengkampanyekan sexs dan hubungan intim.
Acara AFI (Akademi Fantasi Indosiar), KDI TPI dan Indonesia Idol RCTI yang sebenarya kalau dilihat acaranya memberikan kesempatan untuk berekspresi dalam mengembangkan minat dan bakat. Serta untuk mencari bibit unggul dalam olah tarik suara. Akan tetapi kenyataanya dibalik acara itu ada penyisipan budaya liberal yang bersifat eufemisme. Sehingga pemirsa dilarutkan dengan alunan musik dan keimpatian pada salah satu kontestan. Pada hal jika ditelusuri secara mendalam acara AFI, KDI dan Indonesia Idol sama saja, kampanye hedonis.
Itu bisa dilihat dari segi pakaian-pakain yang membuka aurat yang ditampilkan oleh kontestan, ujungnya akan mempengaruhi pada masyarakat untuk meniru. Belum juga dari segi etika, ketika salah satu kontestan AFI, KDI atau Indonesia Idol kalah. Seraya para kontestan lain yang berlawanan muhrim itu memeluk sambil menciumi pipi. Peragaan ini hampir sama yang terjadi di negara sekuler semacam Amerika dalam programnya Hollywood.
Bina Barlentyna aktifis perempuan muslim, berpendapat, memang acara-acara seperti AFI, KDI dan Indonesia Idol sangat digemari oleh sebagian masyarakat, akan tetapi masyarakat harus paham kalau ujung-ujungnya acara ini akan seperti sama dengan program acara Hollywood di Amerika. ‘Lebih jauh lagi masyarakat akan meninggalkan identitas budaya yang dia miliki, karena pengaruh media tersebut tutur Bina.
Hal yang sama dikatakan oleh Ketua Umum Pimpinan Pusat Persatuan Islam (Persis), Drs. K.H. Shiddiq Amien, M.B.A, yang mengatakan, bahwa saat ini banyak pihak yang lebih mementingkan urusan bisnis daripada permasalahan moral di tengah kondisi bangsa yang krisis multidimensi. Ini semua merupakan cerminan kondisi bangsa Indonesia benar-benar sedang ’sakit kronis.
Kekhawatiran masyarakat atas penggerusan budaya dengan melangengnya hedonisasi sering dilakukan, seperti yang dilakukan MUI (Majelis Ulama Indonesia) yang memprotes Film Buruan Cium Gue (BCG) pada Lembaga Sensor Film (LSF) (18/Agustus) bersama KH Abdulah Gymnastiar, Tuty Alawiyah serta para artis muslim. Din Syamsudin sebagai sekjen MUI sekaligus sebagai juru bicara, mengatakan, film itu telah menyinggung rasa susila masyarakat, menimbulkan rasa ketakutan dikalangan orang tua dan pendidik, menimbulkan ancaman gangguan ketertiban umum, serta kemungkinan munculnya reaksi-reaksi yang tak terkendali. Dengan dilolosnya film tersebut menurut Din, film itu memang secara sengaja bermaksud menghina, melecehkan dan menertawakan pihak-pihak yang konservatif dan kolot karena berpegang pada nilai-nilai budaya yang luhur, nilai norma agama dan pendidikan sekolah.
Dilihat dari judul film tersebut terkesan vulgar, berani dan mengajak orang berciuman pada orang-orang yang bukan muhrimnya. AA Gym yang hadir bersama MUI, menafsirkan bahwa, ketika orang sudah berciuman, maka orang tersebut akan terus melanjutkan untuk berzina.
Entah kenapa media dan perfilman kita lebih suka menayangkan program-program yang membentuk karakter manusia untuk menjadi manusia ‘hedonis. Menjauhkan diri pada rasionalisi dan etika budaya. Sedangkan media yang merupakan komunikasi publik sudah keluar sebagai alat informasi masyarakat yang mampu mempertebal moralitas.
Maka dalam hal ini ada indikasi kekuatan dari pihak tertentu yang sengaja membuat setingan agenda yang mengkampanyekan perusakan moral dan penggerusan budaya pada masyarakat Indonesia. Kemudian disatu sisi juga ada titipan kapitalisme barat yang bertujuan menciptakan masyarakat yang cenderung pada materialisme. Sehingga dari sudut ekonomi akan membentuk pola-pola konsumerisme, sekaligus mempercepat tujuan kolonialisme modern. Yaitu menciptakan pola ketergantungan, mematikan produktifitas lokal serta mematikan sekat-sekat integritas individu dengan beralih pada perilaku egois.
Ketercerabutnya akar budaya bangsa inilah yang sangat dikhawatirkan oleh semua pihak. Kendati peran gerakan moral yang dilakukan oleh tokoh masyarakat atau ormas dengan kritikan-kritikannya yang tajam pada televisi dan media lain, namun itu hanya dianggap angin lalu.
Chairul Umam, budayawan dan seniman muslim, saat bersama Tabligh mengatakan, hedonisasi yang terjadi saat ini merupakan akses dari kebebasan yang kita dapatkan tidak mampu kita batasi. Masih seperti ‘kemaruk (kebebasan yang tak memiliki batas-batasnya) yang selama ini di tekan dan kemudian dilepas. Hampir semua kelompok memanfaatkan. ‘Golongan politikus juga memanfaatkan ini dengan trik-trik politik yang rendah mutunya. Golongan kapitalis memanfaatkan modal murah dengan mendapatkan untung yang sebesar-besarnya, kata Chairul.
Banyaknya kelompok yang bermain dalam pemanfaatan kebebasan tersebut sehingga format kebebasan yang dibuka di Indonesia tak memiliki arah yang jelas. Hingga akhirnya tanggung jawab nilai sulit untuk diraih. Sedangkan artis juga yang sesunguhnya memiliki tanggungjawab nilai karena bagian dari publik figure tak memilki patokan yang jelas sebagai publik figure yang bertanggung jawab pada masyarakat.
Hal ini juga diakui oleh Chairul Umam, selain itu faktor pendidikan artis Indonesia itu tidak mempunyai latar belakang pendidikan keartisan. Sangat sedikit artis yang memiliki bakat seni. Misalnya artis pemain banyak yang tidak memilki pengetahuan akting. Juga penyanyi, tiba-tiba jadi penyanyi tidak memiliki dasar olah vokal. Saya pikir logis kalau artis untuk terkontaminasi dengan glamorisasi dan menjual memamerkan tubuh. ‘Saya rasa semua harus kembali pada ajaran agama apa benar kebebasan ini sesuai dengan prinsip-prinsip dari agama. Kalau kita benar-benar menyadari ajaran agama yang kita anut, kata Chairul.
Apa yang dikatakan oleh Chairul Umam merupakan pelurusan terhadap fenomena yang berkembang saat ini. Sehingga hedonisasi yang hampir mencerabut akar budaya dan moralitas bangsa bisa diantisipasi. Sedangkan etika yang menjadikan integritas bangsa bisa terus dipertahankan.
Laporan: Agus Yuliawan
http://www.muhammadiyah-tabligh.or.id/baru/index.php?option=com_content&task=view&id=733&Itemid=1