Dari komentar di jiwamerdeka
Dahulu terdapat sebuah negeri yang luas, namanya Andalusia. Ia negeri yang kaya dan makmur, penuh dengan kebaikan. Penduduknya berada dalam kenikmatan besar, kemakmuran menyeluruh. Mereka mempunyai musuh yang bertetangga dengan mereka dari golongan kafir. Mereka ingin menguasai negeri dan kerajaan Andalusia.
Raja memanggil menterinya dan berkata, “Buatlah strategi untukku wahai menteri.”
Sang menteri berkata kepada raja, “Siap, wahai raja penguasa zaman.”
Raja berkata kepadanya, “Kita ingin menguasai negeri Islam yang bertetangga dengan negeri kita. Bagaimana pendapatmu?”
Menteri berkata, “Pendapatku, Anda harus mengutus seseorang untuk mengelilingi negeri tersebut, menggali informasi. Ia akan kembali kepada kita. Setelah itu kita lihat permasalahannya.”
Raja berkata, “Engkau telah mengajukan pendapat yang benar. Perkataanmu tidak layak dicela.”
Sang raja pun langsung mengirim mata-mata yang sangat profesional ke Andalusia untuk mendapatkan informasinya.
Mata-mata ini berjalan siang malam, mengarungi daratan dan lembah sampai ia tiba di ibukota negeri. Ternyata ia adalah negeri yang agung, pagar yang mengelilinginya sangat kokoh, tugu-tugunya kuat, benteng-bentengnya kokoh. Ia memasukinya dengan berkedok sebagai pedagang. Ia mulai menyusuri jalan-jalannya, merenungkan kebersihan dan keindahan sistemnya, hingga ia dikejutkan oleh tangisan memilukan seorang anak yang ditemuinya di jalan. Ia menanyai sebab menangisnya dengan pertanyaan lembut agar ia mendapat manfaat darinya.
Sang anak menjawab, “Lihatlah wahai tuan kesebuah pohon yang Anda lihat sejauh mata memandang. Lihatlah burung pipit yang berada di atas dahannya.” Mata-mata ini pun melihatnya. Ternyata ia adalah pohon besar yang ada di kejauhan. Di atasnya terdapat burung pipit yang susah dilihat karena jaraknya yang jauh. Ia pun memandangi sang anak dan berkata kepadanya, “Kenapa dengan pohon ini, Nak?”
Sang anak menjawab, “Aku menembak burung ini dengan sebuah panah dari busurku, namun tidak mengenainya. Aku menangis karena kegagalan yang menimpaku ini.”
Sang mata-mata ini berkata kepadanya, “Ambilah harga panah ini, dan jangan menangis.”
Sang anak berkata kepadanya, “Tuan, aku tidak memperdulikan harga panah ini. Namun yang aku pedulikan adalah kesalahanku menembak, padahal seharusnya aku tidak salah menembak.”
Orang ini memandang dengan heran tentang semangatnya, keberanian dirinya. Ia pun kembali ke negerinya. Raja berkata kepadanya, “Apakah yang membuat Anda cepat pulang wahai utusan?”
Ia menjawab, “Wahai tuan raja! Mereka itu adalah kaum yang tidak dapat dikalahkan selamanya.” Ia pun menceritakan yang ia ketahui tentang seorang anak kecil. “Apabila anak kecilnya saja seperti dia, bagaimanakah kehebatan para pahlawan dan prajurit mereka?”
Raja merasa puas dengan perkataan utusannya. Ia memanggil menterinya dan menceritakan kisah yang dibawa utusan.
Sang menteri berkata kepadanya, “Wahai tuan raja. Biarkanlah aku membuat strategi yang dapat merusak mereka, nanti engkau dapat menguasai kerajaan mereka.”
Raja berkata kepadanya, “Lakukanlah apa yang engkau inginkan.”
Menteri tidak menampakkan diri selama beberapa hari. Ketika ia kembali menemui raja, ia berkata, “Wahai tuan raja, saya telah menemukan strategi yang dapat mengalahkan mereka, meruntuhkan kerajaan dan kewibawaan mereka.”
Raja berkata, “Kemukakanlah hai menteri.”
Menteri berkata, “Wahai tuan raja, strategi itu adalah menghilangkan semangat mereka, menguasai kejantanan mereka, merusak akhlak mereka, mengalahkan pendapat mereka. Semua itu hanya dapat kita lakukan dengan menampakan kecintaan dan loyalitas kepada mereka. Kita hadiahkan kepada mereka gadis-gadis remaja dan anak-anak, para tawanan yang cantik, khamar dan minuman keras, alat-alat musik, para penyanyi wanita dan hamba sahaya. Ketika mereka terbiasa dengan hal yang melalaikan dan permainan, tenggelam dalam kesia-siaan dan syahwat, semua itu akan memalingkan mereka adri kesungguhan dan urusan kerajaan. Lalu engkau utus kepada mereka orang yang dapat mengadu domba di antara mereka, merusak ikatan mereka, sampai hancur persatuan mereka. Pada saat itulah, mengalahkan mereka adalah urusan yang paling mudah.
Raja berkata, “Sebaik-baik pendapat adalah pendapat Anda. ” Kemudian raja merealisasikan strategi tersebut: mengirimkan berbagai macam hadiah, berbagai model gadis remaja,. Di antara mereka terdapat intel dan mata-mata, para pelacur dan perusak. Suasana lalai telah merajalela, manusia sibuk dengan syahwat, terjadi perselisihan di antara penguasa negeri. Musuh pun masuk di tengah-tengah mereka, mengharuskan membayar upeti kepada mereka dan menghancurkan mereka dengan kekuatannya.
Yang terlihat dari penduduk adalah tindak lalai dari kewajiban, rela dengan kehinaan, lemah semangat, hancurnya persatuan. Mereka diserbu dengan tentara berkuda dan tentara infantri. Para lelakinya menemui kebinasaan, negeri menjadi hancur. Mereka diusir dari tempat tinggalnya, mereka dijajah dengan kesombongan dan kezaliman.
“Semua itu disebabkan mereka membuat Allah murka, sibuk dengan hal-hal yang melalaikan, meninggalkan kewajiban kepada Tuhan, agama, negeri dan kemuliaan mereka.”
Semoga semua dapat memperoleh hikmahnya, karena di dalamnya terdapat pelajaran yang bermanfaat, peringatan yang sangat merenyuhkan, pelajaran yang paling menyakitkan dalam kehidupan ini.