Anti Pornografi

RUU APP BUKAN untuk menyeragamkan budaya,
BUKAN untuk menyeragamkan dalam berpakaian,
BUKAN untuk memaksakan aturan suatu agama.
RUU APP dapat mengangkat suatu kaum/suku yang masih berpakaian / pola hidup
yang tertinggal, dan BUKAN untuk menangkapnya. Kenapa ?
Karena mereka bukan dengan sengaja mempertontonkannya.
Tapi ini merupakan tugas kita untuk menjadikan mereka
lebih beradab dalam era globalisasi ini.

RUU APP ini justru untuk mendefinisikan Pornografi dan Pornoaksi,
karena TIDAK ADA satupun UU yang jelas mendefinisikan pornografi.
RUU APP ini hanya meminta warga negaranya berpakaian secara sopan,
TIDAK untuk memancing birahi lawan jenisnya (baik laki-laki dan perempuan),
TIDAK ada pemaksaan untuk berpakaian model Islami/Arab/Taliban.
RUU APP melindungi kaum perempuan Indonesia dari
pihak-pihak yang justru merendahkan kaum perempuan
dengan dijadikan objek yang laku dijual demi kaum laki-laki hidung belang.
RUU APP melindungi moral anak-anak kita dari bahaya pornografi
demi membangun masa depan bangsa dengan keilmuannya
bukan dengan mempertontonkan tubuhnya atau bahkan melacurkan dirinya.

Janganlah kalian EGOIS karena saat ini
kalian dapat menikmati keindahan tubuh perempuan.
Janganlah kalian EGOIS karena saat ini banyak job order
untuk tampil dan terkenal dengan mempertontonkan tubuh kalian.
Janganlah kalian mengeruk profit dari mempertontonkan tubuh perempuan
yang justru menghinakan/merendahkan kaum perempuan.

Lihatlah masa depan bangsa…
lihatlah masa depan anak-anak bangsa yang masih lucu,
lugu dan mereka sedang giat belajar.
Jangan ganggu dan usik mereka oleh media pornografi.
Jangan hinakan harga diri mereka karena
ibunya/ayahnya mempertontonkan keindahan tubuhnya.



Selamatkan anak-anak kita dari bahaya pornografi !

Wed 24th May, 2006, Artikel

Kejahatan Keji di Antara Kita

PRESIDEN GORDON B. HINCKLEY

[Pornografi] seperti badai besar, yang menghancurkan individu dan keluarga, secara menyeluruh merusak apa yang dahulu pernah alami dan indah.

PRESIDEN GORDON B. HINCKLEY Saudara-saudara yang terkasih, senang berada di sini bersama Anda dalam pertemuan besar imamat ini. Saya rasa ini merupakan perkumpulan imamat terbesar yang pernah diadakan. Sangat berbeda dengan peristiwa yang diuraikan oleh Wilford Woodruff ketika semua imamat di dunia berkumpul di sebuah ruangan di Kirtland, Ohio, untuk menerima petunjuk dari Nabi Joseph.

Kita telah mendengar nasihat istimewa malam ini, dan saya memercayakannya kepada Anda.

Saat memberikan ceramah penutup, saya agak enggan membahas tema yang sebelumnya saya bahas. Saya melakukannya dengan semangat perkataan Alma: “Inilah kemegahanku, bahwa barangkali aku boleh menjadi alat di dalam tangan Allah untuk membawa satu atau beberapa jiwa kepada pertobatan” (Alma 29:9).

Dengan semangat itulah saya berbicara kepada Anda malam ini. Apa yang harus saya sampaikan bukanlah hal baru. Saya telah berbicara mengenai hal ini sebelumnya. Majalah Ensign dan Liahona edisi September meliput ceramah yang saya berikan beberapa tahun yang lalu mengenai hal yang sama. Brother Oaks telah menyinggung hal itu malam ini.

Sementara hal yang saya bicarakan merupakan sebuah masalah pada saat itu, sekarang itu pun menjadi masalah yang jauh lebih serius. Masalah ini berkembang semakin besar. Ini seperti badai besar, yang menghancurkan individu dan keluarga, secara menyeluruh merusak apa yang dahulu pernah alami dan indah.

Saya melakukannya karena surat-surat yang ditujukan untuk saya dari para istri yang sakit hati.

Saya ingin membacakan sebagian surat yang saya terima hanya beberapa hari yang lalu. Saya melakukannya atas izin dari penulis. Saya telah menghapus apa pun yang mungkin dapat mengungkap pihak yang bersangkutan. Saya telah membuat beberapa perubahan untuk kejelasan dan alur bahasanya.

Saya kutip sekarang:

“Presiden Hinckley yang terkasih,

Suami saya yang berusia 35 tahun meninggal dunia belum lama berselang .… Dia mengunjungi uskup kami yang baik hati secepat mungkin setelah operasi terakhirnya. Kemudian dia datang kepada saya malam itu juga untuk memberitahu saya bahwa dia telah kecanduan pornografi. Dia ingin saya memaafkannya sebelum dia meninggal. Kemudian dia mengatakan bahwa dia sudah bosan hidup dalam dua dunia. [Dia telah melayani dalam banyak pemanggilan penting] di Gereja sementara mengetahui [pada saat yang sama] bahwa dia berada di bawah kendali ‘tuan lain.’

Saya terkejut, sakit hati, merasa dikhianati dan tidak dihargai. Saya tidak dapat menjanjikan pengampunan kepadanya pada saat itu tetapi meminta waktu .… Saya dapat meninjau kembali kehidupan pernikahan saya dan bagaimana pornografi telah … memberi dampak yang buruk sejak awal pernikahan kami. Kami baru menikah beberapa bulan ketika dia membawa pulang ke rumah majalah [porno]. Saya menguncinya di dalam mobil, karena saya sakit hati dan marah .…

Selama beberapa tahun pernikahan kami … dia kasar sekali dalam banyak tuntutannya. Saya tidak pernah cukup baik untuknya .… Saya merasa sangat tertekan pada saat itu sampai stres berat .… Sekarang saya tahu kalau saya dibanding-bandingkan dengan model pornografi terkini .…

Suatu hari kami pergi untuk memperoleh nasihat dan … suami saya terus menyerang saya dengan kritikan dan penghinaannya .…

Saya bahkan tidak mau masuk ke dalam mobil bersamanya setelah itu, melainkan berjalan-jalan ke kota … selama berjam-jam, bermaksud bunuh diri. [Saya pikir], mengapa tetap hidup jika itu semua yang dipikirkan ‘rekan kekal’ saya terhadap saya.

Saya tetap hidup, tetapi melindungi diri saya sendiri dari sakit hati. Saya hidup untuk alasan-alasan lain, bukan karena dia, dan menemukan sukacita pada diri anak-anak saya, pada proyek-proyek dan keberhasilan yang dapat saya lakukan sendirian .…

Setelah pengakuan di ‘akhir ajalnya’ dan [setelah meluangkan waktu] untuk merenungkan kehidupan saya, saya mengatakan kepadanya, ‘Tidak tahukah kamu apa yang telah kamu lakukan?’… Saya mengatakan bahwa saya membawa hati yang murni dalam pernikahan kami, menjaganya tetap murni selama pernikahan kami, dan bermaksud untuk menjaganya tetap murni sesudahnya. Mengapa dia tidak dapat melakukan hal yang sama terhadap saya? Yang saya inginkan hanyalah agar dapat merasa dihargai dan diperlakukan dengan tutur kata serta tindakan baik sekecil apa pun … dan bukannya diperlakukan seperti budak.

Saya sekarang ditinggal dan berdukacita bukan hanya karena kepergiannya tetapi juga karena hubungan yang seharusnya [indah, tetapi tidak]….

Mohon ingatkan para brother (dan sister). Pornografi bukanlah sesuatu yang memberi kepuasaan sesaat pada saat melihatnya. [Tetapi] pornografi memiliki dampak merusak hati serta jiwa mereka yang terdalam, menghancurkan hubungan yang seharusnya kudus, menyakiti sampai ke lubuk hati mereka yang seharusnya paling Anda kasihi.”

Dan dia menandatangani surat itu.

Sungguh kisah yang menyedihkan dan tragis. Saya telah menghilangkan detilnya, tetapi telah cukup membacakannya sehingga Anda dapat merasakan perasaannya yang terdalam. Dan suami macam apa itu? Dia telah meninggal, kematian yang menyakitkan karena kanker, kata-kata pengakuan menjelang ajalnya dipenuhi dengan dosa.

Pornografi adalah dosa. Itu merupakan kejahatan. Sangat tidak selaras dengan roh Injil, dengan kesaksian pribadi akan hal-hal dari Allah, dan dengan kehidupan seseorang yang telah ditahbiskan pada imamat kudus.

Itu bukanlah satu-satunya surat yang saya terima. Ada cukup banyak sehingga saya merasa diyakinkan bahwa ini adalah masalah serius di antara kita. Masalah ini timbul dari banyak sumber dan menyatakan diri dalam berbagai cara. Sekarang pornografi bertambah melalui Internet. Internet itu tersedia tidak hanya bagi orang dewasa, tetapi juga para remaja.

Saya diberitahu bahwa pornografi telah menjadi industri yang bernilai 57 milyar dolar di seluruh dunia. Dua belas milyar dibuat di Amerika Serikat oleh “perbuatan jahat dan orang-orang yang bersekongkol” (lihat A&P 89:4) yang mencari kekayaan dari orang-orang yang mudah tertipu. Dilaporkan bahwa pornografi telah mengeruk keuntungan lebih besar di Amerika Serikat daripada keuntungan gabungan organisasi sepak bola, baseball, dan basket atau keuntungan gabungan tiga koperasi jaringan media utama di Amerika Serikat, ABC, CBS, dan NBC. (“Internet Pornography Statistics: 2003,” Internet,http:/www.healthymind.com/5-port-stats.html).

Pornografi merampas waktu dan bakat karyawan di tempat kerja. “Dua puluh persen pria mengakui mengakses pornografi di tempat kerja. Tiga belas persen wanita [melakukannya]. Sepuluh persen remaja dewasa mengaku kecanduan seks internet” (“Internet Pornography Statistics: 2003”). Itu adalah pengakuan mereka, tetapi angka sebenarnya mungkin jauh lebih besar.

Koalisi Nasional bagi Perlindungan Anak-anak dan Keluarga menyatakan bahwa “Sekitar empat puluh juta orang di Amerika Serikat secara seks terlibat dengan internet”.…

“Satu dari lima anak berusia 10–17 tahun [telah] menerima penawaran yang bersifat seksual melalui Internet ….

Tiga juta pengunjung dewasa situs jaringan pada bulan September 2000 berusia 17 tahun atau lebih muda.

Seks adalah topik utama yang dicari-cari di Internet” (NCPCE Online, “Current Statistics,” Internet, http:/www.nationalcoalition.org/stat.html).

Saya dapat terus membacakan, tetapi Anda juga cukup tahu keseriusan masalah ini. Cukup untuk mengatakan bahwa Anda semua yang terlibat adalah korban. Anak-anak dimanfaatkan dan kehidupan mereka dirusak dengan keji. Pikiran remaja dikacaukan dengan konsep yang salah. Penyingkapan yang terus-menerus menuntun pada kecanduan yang hampir mustahil untuk dihentikan. Begitu banyak pria mendapati bahwa mereka tidak dapat meninggalkannya. Tenaga serta kesejahteraan mereka terkuras dalam pencarian hal-hal yang biadab dan menjijikkan yang tidak memberi hasil yang baik.

Alasan-alasan yang diberikan adalah bahwa sulit untuk menghindarinya, bahwa ini dengan mudah didapat dan tidak ada jalan keluar.

Bayangkan ada badai menghantam dan angin menderu serta salju menerpa Anda. Anda mendapati diri Anda tidak dapat menghentikannya. Tetapi Anda dapat berpakaian dengan semestinya dan mencari perlindungan maka badai tidak akan memberi dampak apa-apa.

Juga, walaupun Internet dipenuhi dengan materi yang menjijikkan, Anda tidak harus menontonnya. Anda dapat lari ke dalam perlindungan Injil dan ajarannya tentang kebersihan dan kebajikan serta kemurnian hidup.

Saya tahu bahwa saya berbicara secara langsung dan terus terang. Saya melakukannya karena Internet membuat pornografi lebih leluasa diakses, dan DVD serta video sudah siap tersedia. Pornografi terdapat dalam program televisi dan majalah. Ini menuntun pada fantasi serta merusak harga diri. Ini membawa pada hubungan yang amoral, penyakit, dan tindakan kriminal perundungan.

Saudara-saudara, kita dapat melakukan hal-hal yang lebih baik dari ini. Ketika Juruselamat mengajarkan kepada orang banyak, Dia berkata, “Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah” (Matius 5:8).

Dapatkah siapa pun juga mengharapkan berkat yang lebih besar dari ini? Jalan kehidupan yang lebih baik, disiplin diri, serta kehidupan sehat yang lebih baik adalah jalan bagi pria, baik muda maupun tua, yang memegang imamat Allah. Bagi remaja putra saya mengajukan pertanyaan ini, “Dapatkah Anda membayangkan Yohanes Pembaptis, yang memulihkan imamat yang Anda pegang, terlibat dalam tindakan seperti ini?” Bagi Anda para pria, “Dapatkah Anda membayangkan Petrus, Yakobus, Yohanes, Rasul-rasul Tuhan, terlibat dalam hal ini?”

Tentu saja tidak. Nah saudara-saudara, waktunya telah tiba bagi siapa pun juga yang terlibat dalam hal ini untuk menarik diri Anda keluar dari lumpur ini, untuk mengalahkan hal-hal yang jahat, untuk “memandang kepada Allah dan hidup” (Alma 37:47). Kita tidak perlu melihat majalah cabul. Kita tidak perlu membaca buku yang berisi materi yang tidak senonoh. Kita tidak perlu menonton televisi yang di bawah standar alami kita. Kita tidak perlu menyewa film yang menggambarkan hal-hal yang kotor. Kita tidak perlu duduk di de-pan komputer dan bermain dengan materi pornografi yang ditemukan di Internet.

Saya ulangi, kita dapat melakukan hal-hal yang lebih baik daripada ini. Kita harus melakukan lebih baik dari ini. Kita adalah pria imamat. Ini merupakan karunia yang paling menakjubkan dan kudus, bernilai lebih dari semua sampah dunia. Tetapi ini akan menjadi akhir dari keefektifan imamat bagi siapa pun juga yang melibatkan diri dalam praktik mencari materi pornografi.

Jika ada yang mendengar suara saya yang melakukan hal itu, maka semoga Anda memohon kepada Tuhan dari lubuk jiwa Anda agar Dia akan menghilangkan dari Anda kecanduan yang memperbudak Anda. Dan semoga Anda memiliki keberanian untuk mencari bimbingan yang penuh kasih dari uskup Anda, dan jika perlu, nasihat dari profesional yang peduli.

Biarlah siapa pun yang mungkin berada dalam cengkeraman kejahatan ini, berlutut di dalam kamar pribadi dan memohon pada Tuhan pertolongan untuk membebaskan diri mereka dari makhluk jahat yang mengerikan ini. Jika tidak, maka noda biadab ini akan tinggal sepanjang kehidupan dan bahkan sampai kekekalan. Yakub, saudara laki-laki Nefi, mengajarkan: “Maka akan terjadi bahwa apabila semua orang yang telah melalui kematian pertama ini menuju kehidupan, sedemikian rupa sehingga mereka menjadi baka .… Mereka yang benar akan tetap benar dan mereka yang kotor, akan tetap kotor” (2 Nefi 9:15, 16).

Presiden Joseph F. Smith, dalam penglihatannya mengenai kunjungan Juruselamat di antara roh orang-orang mati, melihat bahwa “kepada yang durhaka Dia tidak pergi, dan di antara yang tidak hidup seperti Tuhan dan yang tidak mau bertobat yang telah mengotori diri selagi dalam daging, suara-Nya tidak diangkat-Nya” (Joseph F. Smith – Penglihatan Mengenai Orang yang Telah Mati:20).

Nah, saudara-saudara, saya tidak ingin berpikiran negatif. Pada dasarnya saya optimis. Tetapi untuk hal seperti itu, saya realistis. Apabila kita terlibat dalam tindakan seperti ini maka sekaranglah waktunya untuk berubah. Jadikan ini keputusan bulat. Marilah kita berbalik ke jalan yang lebih baik.

Tuhan berfirman: “Biarlah kebajikan tak henti-hentinya menghiasi pikiranmu, maka keyakinanmu akan menjadi kuat di hadirat Allah; dan ajaran mengenai keimamatan akan meresap ke dalam jiwamu bagaikan embun dari surga.

Roh kudus akan menjadi temanmu yang setia dan tongkat kerajaanmu merupakan suatu tongkat keadilan dan kebenaran yang tak berubah; dan kerajaanmu adalah kerajaan abadi dan tanpa maksud-maksud paksaan, semua ini akan mengalir kepadamu untuk selama-lamanya”(A&P 121:45–46).

Bagaimana bisa pria mana pun berharap lebih banyak? Berkat-berkat ilahi ini dijanjikan kepada mereka yang berjalan dalam kebajikan di hadapan Tuhan, dan di hadapan semua orang.

Betapa indahnya jalan Tuhan kita. Betapa mulianya janji-janji-Nya. Ketika tergoda, kita dapat menggantikan pikiran jahat dengan pikiran tentang Dia dan ajaran-Nya. Dia telah berkata: “Dan bila pandanganmu hanya tertuju kepada kemuliaan-Ku, seluruh tubuhmu akan dipenuhi dengan terang, dan di dalam tubuhmu tidak akan ada kegelapan; dan dia yang dipenuhi dengan terang memahami segala hal.

Karena itu, persucikanlah dirimu agar pikiranmu hanya tertuju kepada Allah, dan harinya akan datang tatkala kamu akan menyingkapkan selubung wajah-Nya kepadamu” (A&P 88:67–68).

Bagi Anda para diaken dan pengajar serta imam yang bersama kita malam ini, Anda adalah pria muda yang istimewa yang berurusan dengan sakramen, Tuhan telah berfirman kepada Anda: “Bersihlah kamu yang menyangkut perkakas Tuhan” (A&P 133:5).

Kepada semua pemegang imamat, pernyataan wahyu jelas dan pasti: “Hak keimamatan berhubungan erat tak terpisahkan dengan kekuasaan surga, dan bahwa kekuasaan surga tidak dapat diatur ataupun ditangani hanya berdasarkan asas-asas kebenaran saja” (A&P 121:36).

Sekarang saya tahu, saudara-saudara, bahwa sebagian besar dari Anda tidak terlibat dengan kejahatan ini. Saya mohon maaf kepada Anda karena menyita waktu Anda dalam permasalahan ini. Tetapi apabila Anda adalah presiden wilayah atau uskup, atau presiden distrik atau cabang, Anda mungkin harus membantu mereka yang terpengaruh. Semoga Tuhan memberi Anda hikmat, bimbingan, ilham serta kasih bagi mereka yang memerlukannya.

Dan kepada Anda semua, muda atau tua, yang tidak terlibat, saya mengucapkan selamat serta meninggalkan berkat saya bagi Anda. Betapa indahnya kehidupan yang memiliki pola sesuai dengan ajaran-ajaran Injil-Nya yang tanpa dosa. Pria seperti itu berjalan tanpa cela dalam terang kebajikan dan kekuatan.

Semoga berkat-berkat surga menyertai Anda, saudara-saudara terkasih. Semoga kita semua menjangkau siapa saja yang memerlukan pertolongan, saya berdoa, dalam nama kudus Yesus Kristus, amin.

http://www.lds.org/conference/talk/display/0,5232,89-11-489-20,00.html

Wed 24th May, 2006, Artikel

Pegiat bicarakan cegah pornografi ana-anak di internet

Di Bangkok, para pakar internasional hari ini memulai pertemuan dua hari guna membicarakan langkah langkah menangani pelecehan anak melalui teknologi interaktif.

Pihak panitia mengatakan pertemuan ini adalah konperensi pertama yang membawa para pakar dunia dalam teknologi termasuk internet, permainan interaktif dan telepon tangan.
Mereka berharap pertemuan ini akan meungkap langkah baru untuk melindungi anak
Pertemuan dua hari itu diprakarsai oleh ECPAT, organisasi non pemerintah yang menangani prostitusi anak, pornografi dan perdagangan anak.

Walaupun ada debat sebelumnya tentang penyalahgunaan internet dan pengaruhnya terhadap pelecehan anak, diperkirakan langkah ini adalah yang pertama dalam mengumpulkan semua pakar dari berbagai bidang.
Topik-topik yang akan dibicarakan termasuk cara sebagian anak diganggu dengan menggunakan teknologi telpon genggam atau cara pelecehan lain oleh orang dewasa melalui chat room internet.

Pertemuan ini juga akan membahas berbagai bentuk pornografi anak di internet dan games komputer serta pelecehan seksual anak melalui internet dan aspek lain yang disebut cybersex.

Banyak gambar anak-anak dilecehkan
Direktur eksekutif ECPAT mengatakan kepada BBC penggunaan teknologi ini berkembang di seluruh dunia dan dan juga gambar gambar anak anak yang disiksa.

Saat ini, katanya, teknologi tidak memiliki kerangka sosial. ECPAT menginginkan industri itu sendiri lebih aktif dalam menangani pelecehan anak dan pemerintah di berbagai negara memperketat undang undang yang menjadikan pornografi anak sebagai satu kejahatan.

Disebutkan pula, saat ini tidak banyak pendidikan dan pengetahuan bahwa pelecehan itu memang terjadi.

Kesimpulan dari pertemuan dua hari ini akan dimasukkan dalam satu proyek besar dunia yang diprakarsai oleh PBB tentang kekerasan terhadap anak.

http://www.depsos.go.id/modules.php?name=News&file=print&sid=140

Wed 24th May, 2006, Berita

Australia Akan Blokir Pornografi Internet?

Annisa M. Zakir - detikInet

Jakarta, Keresahan tentang pornografi di Internet juga dirasakan negeri kangguru Australia. Bahkan sampai memunculkan rencana memblokir pornografi di Internet.

Hal itu menjadi rencana pihak oposisi pemerintahan federal Australia. Kim Beazley, pemimpin oposisi dari Partai Buruh, mengatakan bahwa pemerintahan yang dikuasai Partai Buruh akan menghadang masuknya pornografi internet ke pengguna rumahan.

Pemerintahan tersebut, ujar Beazley, akan menghadirkan undang-undang yang mengharuskan Internet Service Provider (ISP) setempat untuk menyediakan saluran internet yang bersih dari pornografi dan kekerasan (”clean feed”). Demikian yang diberitakan ABC News dan dikutip detikINET, Selasa (21/03/2006).

Beazley mengatakan peraturan itu merupakan perwujudan keinginan orang tua di Australia. “Para orang tua menginginkan anaknya untuk bisa belajar di Internet, bukan membuka pornografi dan kekerasan,” Beazley menjelaskan.

Nantinya, ujar Beazley, peraturan itu tetap memberi ruang pada pengguna yang ingin berlangganan akses internet yang tak dibatasi. Namun akses bebas itu baru bisa didapatkan jika pelanggan meminta. (amz/wsh)

Sumber : Detikinet.com

Wed 24th May, 2006, Artikel

Waspadalah, Situs Pornografi Semakin Menghantui Anak-Anak

KapanLagi.com - Kita selalu membayangkan internet seperti sebuah lautan luas yang dipenuhi banyak sekali mutiara yang menunggu untuk ditemukan. Bagi anak-anak, internet juga bisa menjadi sebuah lautan yang dipenuhi hiu-hiu ganas dalam wujud pornografi.

Sebuah hasil survei tentang pornografi di kalangan anak-anak di laporkan oleh lembaga Third Way. Dalam laporan tersebut disebutkan bahwa anak-anak sangat rentan mengakses situs pornografi sejak berusia 11 tahun.

Bayangkan, pada tahun 1998 saja terdapat tidak kurang dari 14 juta situs porno milik pribadi. Sekarang jumlahnya sudah berlipat ganda hingga 420 juta, dan bukan tidak mungkin akan mencapai angka 1 miliar.

Hal yang lebih mengejutkan lagi, ternyata kalangan terbesar yang paling banyak mengakses situs-situs porno bukanlah remaja dewasa berusia 19-25 tahun, melainkan para ABG yang rata-rata berusia 12-17 tahun. Mereka yang notabene masih mencari jati diri itu secara tidak langsung menerima nilai-nilai yang salah, bahwa kecanduan situs pornografi adalah normal dan sudah lumrah.

Banyak diantara mereka yang berubah cara pemikiran dan perilakunya gara-gara sering membuka situs-situs porno. Sikap mereka terhadap gadis-gadis sebayanya pun sudah bergeser 360 derajat. Itu karena pornografi sangat merendahkan derajat kaum wanita.

Tidak mengherankan bila orang-orang yang sering mengakses situs porno biasanya hampir tidak punya rasa malu lagi. Pornografi bahkan sudah menjadi bahan tertawaan dalam acara-acara sitkom keluarga. Walaupun seks itu adalah hal yang alami, tetapi industri pornografi tidak pernah bertujuan mendidik orang tentang seks, melainkan mengeksploitasi seks demi alasan komersial belaka.

Pada tahun 2000, DirecTV, sebuah anak usaha dari General Motors (GM) dilaporkan sudah menjual film-film porno lebih banyak dibandingkan Larry Flynt (industri pornografi terbesar di Amerika). Betapa ironisnya, perusahaan sekelas GM yang memiliki visi menjamin keselamatan keluarga, bisa menjalankan usaha lain yang justru meracuni hati dan pikiran anggota keluarga. Akhirnya pada tahun 2003, GM menjual saham-sahamnya di DirecTV kepada Rupert Murdoch’s News Corp.

Masih banyak perusahaan berskala besar lainnya yang juga mengambil keuntungan dengan menyediakan layanan pornografi, termasuk AT&T, Time Warner, Comcast, Marriott International, Holiday Inn, Sheraton dan Hilton. Dan mereka semua tidak cukup bodoh untuk mempublikasikan hal tersebut dalam laporan keuangan tahunan mereka.

Akses kepada situs-situs porno juga sangat mudah. Hampir semua situs porno menggunakan sebuah sistem yang bisa dimanipulasi oleh siapapun, termasuk anak kecil sekalipun. Biasanya para pengunjung situs-situs porno akan dimintai konfirmasi bahwa mereka berusia minimal 18 atau 21 tahun, tergantung di negara mana mereka tinggal. Tentu saja anak-anak dapat membodohi sistem yang sangat sederhana seperti itu.

Lalu ada pula sistem ‘porn-napping’ yaitu sebuah strategi program internet yang dirancang untuk menjerumuskan anak-anak. Sehingga apabila mereka salah mengeja nama domain seperti Disneyland, Pokemon atau Teletubbies, mereka bisa saja langsung terkoneksi dengan beragam situs porno yang tidak karu-karuan.

Pada saat artikel ini ditulis, masih sangat banyak halaman-halaman pornografi yang diposting melalui internet. Semua ini mengarah pada satu pertanyaan besar: Apa yang anak-anak Anda lihat lewat internet di dalam atau di luar rumah, dan apa rencana Anda untuk mengarahkan mereka supaya tidak menjadi pecandu pornografi? (ftw/dni)

http://www.kapanlagi.com/a/0000002445.html

Wed 24th May, 2006, Artikel

Sensor Internet, Upaya Sia-sia Meredam Pornografi

oleh : Rapin Mudiardjo, S.H. *

Belakangan, gencar isu akan dilakukan sensor terhadap internet sebagai media publik. Gagasan ini justru berangkat dari berbagai organisasi masyarakat yang dengan lantang menyuarakan perang terhadap pornografi. Mereka beranggapan bahwa internet adalah “sarang” pornografi. Lalu jalan satu-satunya untuk meredam pornografi internet adalah melakukan sensor dengan cara melakukan filterisasi terhadap situs-situs porno. Namun, masalahnya menjadi tidak sederhana. Karena ternyata, pengalaman di beberapa negara yang melakukan filterisasi ternyata tidak sepenuhnya membuahkan hasil. Secara teknologi, sangat mungkin melakukan filterisasi pada ISP (internet service provider) bahkan juga pada backbone.

Namun bila pemerintah selaku pengambil kebijakan tidak berhati-hati dalam menelurkan kebijakan, bukan tidak mungkin akan menghambat masyarakat dalam mengakses informasi. Jika kebijakan yang dibuat hanya berpijak pada satu sisi, imbasnya tidak hanya informasi pornografi saja yang terkena dampaknya, tapi juga informasi lainnya. Beberapa software bisa di-download untuk mengontrol laju informasi, tetapi tidak membatasi kesempatan dan kebebasan untuk memperoleh informasi pada internet.

Misalkan filter yang berbayar, www.cyberpatrol.com , www.cybersitter.com , www.netnanny.com . Namun di samping itu, ada beberapa software yang bisa di-download gratis seperti, www.we-blocker.com , www.safekids.com , dan masih banyak lagi. Dengan software tersebut, situs-situs yang masuk dalam kategori porno tidak bisa diakses oleh pengguna. Namun secanggih-canggihnya teknologi, tetap saja buatan manusia dan tetap memiliki kelemahan. Demikian juga dengan sensor terhadap pornografi internet, tetap saja pengguna akan menemukan jalan untuk mengakses informasi tersebut.

Perdebatan semantik

Masalahnya, kembali pada kebijakan mana yang dipilih oleh si pengguna untuk menyiasati pornografi internet. Pengguna di sini, termasuk di dalamnya pemerintah dan masyarakat. Hal tersebut akan menjadi faktor penentu dalam kegiatan internet di Indonesia. Hingga kini, belum ada upaya nyata dari pemerintah untuk mengontrol kegiatan internet, terutama yang berkaitan dengan content porno. Dalam setiap diskusi mengenai hal ini, selalu berujung pada perdebatan semantik yang melulu didasarkan pada keyakinan dari masing-masing kelompok.

Beberapa situs penyedia software mungkin akan membatasi dan mampu meredam seseorang untuk mengakses situs porno. Namun, masalahnya tidak berhenti sampai di situ. Sensor hanyalah sebuah mekanisme untuk mengontrol pornografi dan bukan menghilangkan pornografi itu sendiri. Satu hal yang perlu dipertegas adalah apa yang akan dan harus diatur kemudian dalam undang-undang yang memiliki ketegasan sekaligus menjamin hak kebebasan publik untuk mengakses informasi.

Kuncinya, jangan sampai undang-undang pornografi nantinya akan membatasi pengguna internet lain yang tidak mengakes situs-situs porno. Karena itu, perlu dicari satu titik moderat bagaimana menyikapi pornografi internet tanpa harus membatasi aktifitas internet itu sendiri. Selaku regulator, pemerintah cukup memberikan panduan bagi masyarakat, khususnya pengguna internet. Terutama, dalam memberikan satu pendidikan bagi masyarakat untuk menggunakan internet sebagaimana mestinya. Pengalaman beberapa negara menunjukkan, hingga kini belum diketemukan jurus mujarab yang benar-benar ampuh untuk menyensor pornografi internet.

Dimulai dari masyarakat

Kebijakan sensor di beberapa negara, justru dimulai dari masyarakat dan bukan dari pemerintah. Negara maju seperti Amerika Serikat, Inggris, dan Jerman yang lebih dahulu mengenyam internet, ternyata lebih memilih internet dikembangkan secara self regulating. Misalnya, yang dilakukan oleh Bertelsman Foundation yang sudah meluncurkan ICRA Filter. ICRA Filter adalah software yang diluncurkan oleh Internet Content Rating Association. Dengan software yang diluncurkan tersebut, keluarga dan guru dapat melindungi anak-anak dan remaja dalam pemanfaatan internet sebagaimana mestinya.

Mungkin yang bisa dilakukan oleh masyarakat adalah mencari satu persepsi yang sama bagaimana menyikapi pornografi internet itu sendiri. Berbagai jenis software mungkin bisa dikembangkan untuk meredam pornografi. Toh, bisa dipastikan norma yang dianut akan kembali pada masyarakat. Masyarakatlah yang pada akhirnya akan menentukan bagaimana persoalan pornografi ini diatur.
Masyarakat di sini lebih difokuskan pada pengguna internet selaku pihak yang langsung berhadapan dengan objek tersebut. Pemerintah tidak lagi menjadi regulator, melainkan beralih wujud menjadi fasilitator. Pemerintah tidak lagi mengontrol, melainkan membatasi mana yang menjadi pokok perhatian dalam pornografi internet.

Diskusi bisa diawali dengan adanya pengakuan akan eksistensi dari pornografi yang disebarluaskan. Masyarakat adalah kunci dari segala-galanya, terutama dalam membangun hukum sebagai sikap tindak itu sendiri. Norma yang dianut masyarakat bisa menjadi titik awal mengulas lebih jauh bagaimana pornografi internet ini diatur dalam hukum positif (tertulis). Percuma saja jika pemerintah mengharuskan filterisasi dengan menggunakan berbagai cara, termasuk penggunaan software dan penutupan akses pada backbone. Sementara masyarakat sendiri tidak mengakui peraturan atau ketentuan yang dibuatnya. Usaha membangun kesadaran bagaimana mengunakan internet secara bijak mungkin butuh waktu yang tidak sedikit.

Secanggih apapun sensor internet dilakukan, tetap akan dikembalikan pada nilai yang dianut oleh masyarakat itu sendiri. Dalam konteks ini, internet menjadi bebas nilai dan tidak adil jika dipersalahkan sebagai sarang dari pornografi. Karena itu, masyarakat dan pemerintah harus lebih bijak dalam memandang internet itu sendiri. Kemudian, bagian yang tidak kalah pentingnya adalah keterlibatan penyedia jasa internet (PJI) sebagai pihak yang menyediakan akses internet pada masyarakat. Terutama, sebagai stakeholder dalam pengembangan dan pemanfaatan teknologi informasi, khususnya internet di Indonesia.

Sebagai penyedia jasa, sudah selayaknya PJI bertanggungjawab atas penayangan gambar, tulisan, suara, atau paduan yang disimpan dalam database. Sudah semestinya, yang bersangkutan melakukan kontrol terhadap content yang bernuansa porno tersebut. Akibatnya, informasi yang disediakan pasti akan terkategorisasi. Tampaknya, ini yang harus dilakukan oleh pemerintah, bagaimana menyeleraskan kebutuhan masyarakat dengan kepentingan bisnis yang juga memiliki kewajiban untuk meningkatkan penetrasi internet. Misalkan, dengan membuat peraturan yang mewajibkan pada para ISP untuk membuat program atau paket bagi keluarga.

Jika pilihan tersebut akan membatasi dunia usaha berkembang, setidak-tidaknya setiap ISP diwajibkan untuk menyertakan software filter yang bisa di-download oleh keluarga.
Dengan begitu, hak masyarakat untuk memperoleh informasi tidak dikorbankan dan begitu juga dengan kepentingan bisnis. Masing-masing bertanggung jawab atas apa yang dilakukan.

Hapus badan sensor

Mandulnya badan sensor selama ini boleh jadi menjadi salah satu sebab tidak berfungsinya mekanisme sensor. Pemotongan beberapa adegan, baik kekerasan maupun seks mungkin terkadang bertentangan dengan kebebasan ekspresi dari produsen. Lantas bagaimana dengan keberadaan badan sensor dikaitkan dengan internet itu sendiri yang secara alamiah lahir dalam nuansa liberal. Sejauh mana badan sensor yang sudah demikian mandulnya harus menggenjot langkahnya untuk mengontrol internet?

Internet tidak gampang diatur karena memiliki keunikan tersendiri. Sebagai media content, internet perlu diregulasi. Namun dari sisi media informasi, internet tidak perlu diregulasi. Pasalnya, internet sendiri terbangun dengan kesepakatan. Demikian pula dengan aturan yang ada didalamnya, juga dijalin dengan kesepakatan. Konstitusi pun sudah memberikan jaminan atas hak masyarakat untuk mendapatkan dan memanfaatkan informasi. Di sini jelas, informasi merupakan hak azasi publik dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Demikian juga dengan keberadaan lembaga sensor yang praktis akan menghambat masyarakat untuk menghasilkan, menyimpan, dan mendistribusikan informasi. Alternatifnya, membangun kesadaran masyarakat untuk menggunakan internet secara bijak. Pendapat ini pasti akan mendatangkan kritik tajam, terutama dari kalangan relijius yang sejak awak menolak keberadaan pornografi dalam masyarakat. Sebagai bagian dari informasi, pornografi juga merupakan hak masyarakat yang harus dilindungi. Dalam konteks ini, terjadi perubahan paradigma dari pornografi itu sendiri. Pornografi yang tadinya hak pribadi beralih sebagai bagian hak publik.

Satu hal yang krusial dalam diskursus pornografi sebagai hak publik tentunya menyangkut nilai dan perspektif dari masyarakat. Wacana ini mesti dikembangkan dalam berbagai sisi dan pandangan dari berbagai kelompok masyarakat. Hal ini mengingat pornografi tidak saja bersentuhan dengan nilai moral saja, tetapi telah menjadi komoditas tersendiri.

Ringkasnya, badan sensor tidak lagi diperlukan untuk melakukan pengekangan terhadap ekspresi dalam berkomunikasi dan berinformasi. Namun, yang penting bagaimana menciptakan sensor sendiri dari setiap pribadi pada saat terkoneksi dengan internet. Pasalnya, keberadaan badan sensor hanya akan menyebabkan pertentangan yang selalu berakhir dengan perdebatan ideologi dari masing-masing kelompok. Pornografi memang akan sulit untuk dihapuskan karena telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari perkembangan masyarakat itu sendiri. Pekerjaan rumah terbesar dari masyarakat adalah menerima keberadaan internet secara alamiah tanpa harus mematikan kesempatan untuk memperoleh akses informasi.

*) Penulis adalah Legal Director ICT Watch dan pengacara. Dapat dihubungi melalui e-mail rapin@ictwatch.com. Tulisan ini pernah dimuat oleh Hukumonline.com, 21 Mei 2002. Tulisan ini bebas dikutip asal menyebutkan sumbernya.

http://free.vlsm.org/v17/com/ictwatch/paper/paper023.htm

No Porn