Betapa mahal harga yang harus dibayar untuk biaya sosial, biaya psikologis dan biaya kriminalitas akibat provokasi tayangan pornosentris.
Jika banyak negara barat tengah sibuk menggali kembali nilai spritualitas masyarakatnya, maka apa yang terjadi di Indonesia adalah kebalikannya. Para pebisnis media di negeri ini justru berlomba-lomba menenggelamkan masyarakatnya ke dalam jurang kenistaan.
Dengan alasan kebebasan berekspresi, mereka menjual tayangan dan gambar yang mengumbar birahi sebagai komoditi yang sangat menguntungkan. Padahal masyarakat pulalah yang menjadi korban akibat ekses negatif tayangan seperti ini. Dan korban terbesarnya adalah mereka yang berasal dari kelompok menengah ke bawah yang berpendidikan rendah.
Hal ini diungkapkan pakar komunikasi, Satriawan, yang menyatakan dampak buruk pornografi dan pornoaksi lebih dirasakan oleh kalangan menengah ke bawah yang tingkat pendidikannya masih rendah. Hal ini terjadi, ujar nya mengutip pakar komunikasi Hamish McRae, karena salah satu faktor yang menentukan selektifitas orang dalam memilih tayangan televisi adalah tingkat pendidikan.
‘’Semakin tinggi tingkat pendidikan, semakin berkurang jam menonton televisi,'’ ujar pria yang tengah melanjutkan program doktoralnya di Fakultas Ilmu Komunikasi, Unpad ini. Menurutnya, hal ini berlaku pula untuk sajian informasi, berita dan gambar lainnya, baik melalui media internet maupun media cetak. Jika pandangan McRae ini terbukti, paparnya, besar kemungkinan, kalangan yang kurang berpendidikan merupakan kelompok yang paling terkena imbas tayangan dan gambar yang menjurus pada pornoaksi dan pornografi. ‘’Parahnya lagi, jumlah kelompok inilah yang paling banyak di masyarakat kita,” tuturnya.
Maraknya tayangan dan gambar pornografi dan pornoaksi yang bisa diakses dengan mudah di masyarakat, papar Satriawan, sudah jelas menimbulkan banyak ekses negatif. ‘’Semua konsekuensi negatif yang telah dan sedang terjadi akibat eksploitasi tindakan pornoaksi dan pornografi di tengah masyarakat adalah fakta dan kebenaran yang tidak terbantahkan,'’ katanya. Lebih jauh, Satriawan menjelaskan apa yang terjadi saat ini tidak lepas dari peranan media yang sangat berkuasa. ‘’Perhatikan saja betapa konsep dramaturgis dan agenda setting tampak demikian kental dalam setiap tayangan program media,'’ jelasnya.
Pihak penguasa media menyetel panggung-panggung tayangan sedemikian rupa oleh media televisi sungguh membingungkan. ‘’Pasalnya, ada saat tertentu tayangan Islami disajikan, namun di saat lainnya televisi juga menayangkan acara yang mengumbar birahi,'’ ungkapnya.
Akibat tayangan yang begitu membabi buta, Widyaiswara pada Balai Besar Pendidikan dan Pelatihan Kesejahteraan Sosial (BBPPKS) ini menyatakan bahwa saat ini sebagian besar masyarakat Indonesia terlena dengan tampilan dan tayangan berbau seksual.
Hal ini membawa keuntungan besar bagi para pelakon peran pornoaksi dan pornografi dan juga penguasa media yang diuntungkan dengan bisnis di bidang itu. Namun, katanya, hal ini juga membawa sederet ekses negatif terhadap masyarakat yang menjadi korban. ‘’Betapa mahal harga yang harus dibayar untuk biaya sosial, biaya psikologis dan biaya kriminalitas akibat provokasi tayangan pornosentris,'’ ujarnya.
Satriawan menyatakan, nasib bangsa dan negara yang beragama ini ternodai akibat kehendak birahi dan komersialitas. ‘’Adakah agama yang mentoleransi eksploitasi aurat dan libido? Tentunya tidak ada agama yang demikian,'’ ujarnya. Keprihatinannya semakin menyeruak mengingat di belahan dunia lain gencar terjadi arus respiritualisasi.
‘’Di negara lain kembali pada agama, di negeri ini malah sebaliknya,'’ tuturnya. Menurut Satriawan, tidak ada jalan lain untuk menghadapi masalah ini, kecuali melakukan rekonstruksi kehidupan sosial dan agama yang lebih komprehensif. ‘’Ini harus dilakukan mengingat dampak pornografi dan pornoaksi telah membawa dampak serius hingga tataran sosial terbawah.'’
Terkait mereka yang menolak aturan tentang pornografi dan pornoaksi, Satriawan meminta mereka mendepankan pertimbangan akal sehat dan kebenaran nurani. ‘’Kepentingan sesaat dan justifikasi harus disingkirkan,'’ ujarnya. Ia mengingatkan bahwa pekerja media harus bijak, agar peran media dalam pembelajaran publik dapat efektif untuk menangkal epidemi globalisasi dan penularannya.
(uli/ant )
http://www.republika.co.id/koran_detail.asp?id=249547&kat_id=147
ass. wr. wb.
saya hanya murid sma biasa yang hanya tau sedikit sekali tentang peradaban indonesia, tapi saya tau betul kerusakan masyarakat di sekitar lingkungan saya. Generasi muda angkatan baru yang harusnya memajukan peradaban dan budaya Indonesia dengan karya luar biasa malah tetidur lelap di ninabobokan dengan video “bokep” berformat .3GP yang disimpan di HP mereka yang canggih bukan main. Sehingga membuat teman-teman sepermainan saya berubah menjadi budak syahwat yang tidak karuan pola pikirnya. ia menjadi korban dampak negatif globalisasi, yaitu maraknya pOrnOgrAfI dan pOrnOAksI . . .
mengapa hal itu bisa terjadi?
saya analogikan dengan seorang bocah yang membuka jendela kamarnya di malam hari akibat kepanasan. Pastinya ada 2 hal yang terjadi, yang pertama berakibat datangnya angin yang cukup segar tapi yang kedua nyamuk-nyamuk liar pun ikut masuk pula. yang apabila nyamuk itu menggigitnya dapat menyebabkan DB! apakah solusinya? menutup jendela? tentu saja bukan! tapi, si bocah harus segera melumuri badannya dengan lotion AntI-nyAmUk. . . . bukankah seperti itu . . . . . . ????
maka dari itu mari kita generasi emas yang lahir antara tahun 1980 sampai 2000 harus bangkit! membuat perbedaan antara id dan ego maupun superego (Sigmund Freud:Ilmu Psikoanalisa), jadilah KAMU (baca: ego)yang idealis, empati, kerja keras, suri tauladan, dan yang paling penting mencita-citakan masyarakat madani denagn MENDUKUNG RUU APP!!!!!!!!!!!!!!!!
dengan RUU ini, masyarakat yang BIADAP dapat berubah menjadi masyarakat BERADAB!
masihkah ada hati nurani dalam tiap jiwa generasi ini!!!!