Anti Pornografi

RUU APP BUKAN untuk menyeragamkan budaya,
BUKAN untuk menyeragamkan dalam berpakaian,
BUKAN untuk memaksakan aturan suatu agama.
RUU APP dapat mengangkat suatu kaum/suku yang masih berpakaian / pola hidup
yang tertinggal, dan BUKAN untuk menangkapnya. Kenapa ?
Karena mereka bukan dengan sengaja mempertontonkannya.
Tapi ini merupakan tugas kita untuk menjadikan mereka
lebih beradab dalam era globalisasi ini.

RUU APP ini justru untuk mendefinisikan Pornografi dan Pornoaksi,
karena TIDAK ADA satupun UU yang jelas mendefinisikan pornografi.
RUU APP ini hanya meminta warga negaranya berpakaian secara sopan,
TIDAK untuk memancing birahi lawan jenisnya (baik laki-laki dan perempuan),
TIDAK ada pemaksaan untuk berpakaian model Islami/Arab/Taliban.
RUU APP melindungi kaum perempuan Indonesia dari
pihak-pihak yang justru merendahkan kaum perempuan
dengan dijadikan objek yang laku dijual demi kaum laki-laki hidung belang.
RUU APP melindungi moral anak-anak kita dari bahaya pornografi
demi membangun masa depan bangsa dengan keilmuannya
bukan dengan mempertontonkan tubuhnya atau bahkan melacurkan dirinya.

Janganlah kalian EGOIS karena saat ini
kalian dapat menikmati keindahan tubuh perempuan.
Janganlah kalian EGOIS karena saat ini banyak job order
untuk tampil dan terkenal dengan mempertontonkan tubuh kalian.
Janganlah kalian mengeruk profit dari mempertontonkan tubuh perempuan
yang justru menghinakan/merendahkan kaum perempuan.

Lihatlah masa depan bangsa…
lihatlah masa depan anak-anak bangsa yang masih lucu,
lugu dan mereka sedang giat belajar.
Jangan ganggu dan usik mereka oleh media pornografi.
Jangan hinakan harga diri mereka karena
ibunya/ayahnya mempertontonkan keindahan tubuhnya.



Selamatkan anak-anak kita dari bahaya pornografi !

Sat 27th May, 2006, Artikel

Arabisasi dan Amerikanisasi

SALAH apa Ketua DPR Agung Laksono sehingga pagar gedung DPR itu dirobohkan oleh massa buruh? Salah apa pedangdut Inul Daratista yang oleh sekelompok pengunjuk rasa memintanya keluar dari Jakarta? Jika tidak karena Rancangan Undang Undang Anti Pornografi Pornoaksi (RU APP) yang dianggap menafikan realitas yang majemuk di negeri ini, tidak akan Inul resah gelisah. Tiba-tiba RUU APP ‘’senasib’’ dengan revisi UU Nomor 13/2003 yang membuat pagar gedung DPR itu roboh. Keduanya adalah sistem yang ‘’dimusuhi’’ atau ‘’dibela’’ oleh kepentingan yang berbeda.

Nampaknya, yang dikumandangkan Clifford Geertz dan Herbert Feith tentang kaum abangan dan santri dalam fenomena politik aliran telah didaur ulang dalam bentuk baru. Abangan berubah menjadi sekuler dan liberal, inikah Amerikanisasi, dan salah satunya terwujud dalam draft revisi UU tentang Ketenaga-kerjaan yang menguntungkan pengusaha domestik dan asing? Kemudian, santri menjadi Islam politik dan Islam sosial budaya, inikah Arabisasi yang menjelma dalam RUU APP?

Sebetulnya, Arabisasi dan Amerikanisasi kedengaran abstrak. Arab yang pro dan kontra Amerika sama-sama ada di Arab. Amerika pun tak identik dengan George Bush yang memusuhi Irak dan Iran. Toh di sana ada ‘’Black Moslem’’ dan Hollywood. Pengaruh Arab dan Amerika tentu saja ada di Indonesia. Nama-nama seperti Goenawan Mohamad, M Yusuf Kalla, Amien Rais jelas dipengaruhi Bahasa Arab. Albert (Hasibuan) dan Miranda (Goeltom) beraura Barat. Nama Susilo B Yudhoyono beraroma Sansekerta. Nama Kwik Kian Gie berasal dari Cina. Keragaman agama dan kebudayaan kita bahkan juga datang dari negeri-negeri asing.

Realitas yang berbeda itu alamiah saja. Bagai gado-gado yang enak, walau pedas tapi menggairahkan. Tetapi jika dikotomikan dan saling konflik, pluralitas dapat terancam. Karena itu terdengar ajakan berbau solusi: kembalikan ke jati diri bangsa, nasionalisme baru yang bukan Arabisasi dan bukan Amerikanisasi. Tapi nasionalisme baru ini pun terasa semu. Jika harus anti segala yang asing, setelah format ‘’gado-gado’’ telanjur diukir oleh sejarah, rasanya menjadi mustahil.

Konstituante hasil Pemilu 1955 yang demokratis dan liberal, meskipun sarat dengan politik aliran adalah contoh ‘’gado-gado’’ yang menggairahkan itu. Namun, Presiden Soekarno tak suka, lalu ia bubarkan Konstituante, disusul pembubaran Partai Masyumi dan PSI. Belakangan, musik rock and roll, Amerikanisasi masa itu pun dilarang. Orde Baru juga mengoreksi politik aliran dengan azas tunggal Pancasila, setelah membubarkan PKI. Dari berorientasi ideologi beralih ke program, tapi dinodai oleh KKN. Toh, AM Fatwa dan komunitas Tanjung Priok, Komando Jihad dan GPK Warsidi Bandarlampung muncul melakukan resistensi. Gerakan kaum sosialis demokrat dan dianggap kekiri-kirian meski bukan komunisme juga tampil justru di era pengasas-tunggalan.

SEKALI banjir datang, sekali tepian berubah. Terbukti ketika Presiden BJ Habibie mengumumkan sistem multipartai, ratusan partai baru berdiri dan meneguhkan diri dengan pelbagai politik aliran. Alamiah dan historis. Reformasi Habibie yang mengoreksi Orde Baru bagai mengulangi Maklumat Wakil Presiden Nomor X/1945 tentang pembentukan partai politik setelah sempat dilarang di masa fasis Jepang.

Tapi munculnya politik aliran pada Pemilu 1999 dan 2004, nampaknya hanya romantisme Pemilu 1955 dan dijadikan sebagai alat daya pikat massa, identitas dan alat dakwah untuk meraih kursi di parlemen walapun sah saja. Partai yang mengusung nama besar Bung Karno mestinya satu saja. Tapi nyatanya ada PDIP, hingga partai Eros Jarot, Sukmawati dan Rachmawati, walau demokratis belaka. Partai Islam selain PPP juga berdiri, bukan pula karena faktor ideologi. Politik aliran di masa ini pun unik. PKS dan PPP yang partai Islam bisa berkoalisi dengan Partai Demokrat, Partai Golkar, PKB dan PAN yang pluralistis, seperti nampak dalam susunan kabinet. PPP yang Islam dan PDS yang Kristen pernah berteman dengan Partai Golkar dalam Koalisi Kebangsaan. Tapi dalam soal kenaikan harga BBM pada 2005 lalu sebagai implementasi dari liberalisasi ekonomi dan dengan sendirinya sejenis Amerikaniusasi, ternyata PKS dan PAN lebih berhampiran dengan PDIP daripada ke Golkar.

Secara sosiologis, Hizbuz Tahrir, FPI, FBR, MUI dan sejenis di satu kubu meski belum tentu bersekutu, seperti berseteru dengan kelompok masyarakat yang modern dan liberal. Fenomena itu mencuat dalam polemik RUU APP yang dianggap Arabisasi. Isu Amerikanisasi muncul dalam kasus revisi UU Nomor 13/2003, Freeport dan Blok Cepu. Uniknya, peta prokontra bersilih-ganti. Jika PDIP menolak RUU APP dan berseberangan dengan Hizbuz Tahrir tapi dalam soal Blok Cepu, keduanya sependapat.

TIADA kawan dan lawan yang abadi. Metafora ini pernah diluncurkan oleh William Liddle (1992) sebagai ‘’sungai budaya’’. Bagaikan anak-anak sungai yang memisah dari ibunya, kadang bertemu dan pisah lagi. Bedanya dinamika sungai berlangsung alami. Tapi sungai politik selalu dilandasi oleh kepentingan yang berbeda. Arabisasi dan Amerikanisasi pun sesungguhnya diragukan bisa 100 persen menyulap negeri ini. Mempengaruhi, mungkin saja. Bahkan, sudah berlangsung lama. Jangan-jangan, keduanya hanya ‘’momok’’ yang paranoid. Mengapa ‘’Arabisasi’’ dan ‘’Amerikanisasi’’ tidak dianggap sebagai keberbedaan yang indah? Sepanjang demi penguatan nation state, pencerdasan dan pemakmuran rakyat, biarkan sajalah.

Kita ingat sajak Taufiq Ismail berjudul ‘’Berbeda Pendapat’’ yang melukiskan bagaimana Isa Ansyari (Masyumi) dan DN Aidit (PKI) di atas podium bak bertikam-tikaman. Tapi waktu makan siang, mereka duduk satu meja. Bung Karno dan Natsir juga berpolemik keras. Tapi bila keduanya berjumpa, wajah cerah bagai abang dan adik. Begitu juga dengan Wilopo (PNI), Mohammad Roem (Masyumi) dan Kasimo (Katolik) selalu akrab bertegur sapa. ***

Bersihar Lubis, pemerhati sosial politik.

http://www.riaupos.com/web/content/view/12122/1/

Sat 27th May, 2006, Berita

KH MARUF AMIN: TIDAK ADA PENUNGGANGAN AKSI SEJUTA UMAT

JAKARTA (HTI PRESS). KH Maruf Amin dari MUI Pusat dalam konferensi pers bersama di Jakarta kemarin (26/05/2006) menegaskan aksi sejuta umat menentang pornograpi dan pornoaksi (Ahad 21/05/2006) tidak ditunggangi pihak ketiga. Ketua Tim Pengawal RUU APP MUI ini malah balik menantang pihak-pihak yang menuduh untuk memberikan bukti. KH Maruf Amin menyatakan ini ketika ditanya tentang tuduhan Gus Dur di Purwakarta bahwa Aksi Sejuta Umat di bayar oleh pihak ketiga.

KH Muhammad Al Khaththat yang juga pengurus MUI menyatakan hal yang sama. Menurutnya, aksi sejuta umat kemarin adalah murni muncul dari hati nurani dan tekad umat Islam untuk menentang pornograpi dan pornoaksi yang semakin marak belakang ini di Indonesia. Semua ini untuk menciptakan masyarakat yang bersih, bertakwa dan beradab.

KH Muhammad Al Khaththat juga menambahkan acara ini dihadiri oleh hampir seluruh komponen umat Islam termasuk dua ormas terbesar di Indonesia Nahdhatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah. Ormas Islam lain yang hadir antara lain Persis, Hizbut Tahrir Indonesia, Majelis Tafsir Alqur’an, Front Pembela Islam, Aisyiyah, Pesantren Darut Tauhid, MUI se-Jabodetabek, FBR, Ikadi, PKS, PPP, GPMI, sekolah-sekolah Islam, Majelis Adzikra, BKMT, FPIS, Majelis Mujahidin, jamaah masjid, dan banyak lagi.

Hadir juga sebagai pembicara ulama dan tokoh-tokoh nasional KH Zainudin MZ, Rhoma Irama, Jeffry Al Bukhori, Habib Rizieq Shibab, Arifin Ilham, Din Syamsudin, Inneke Koesherawati, KH Rasyid Abdullah Syafii, Ismail Yusanto, KH Ma’ruf Amin, Agung Laksono. “Sekali lagi saya tegaskan ini adalah murni aspirasi umat’’, tandas pengurus MUI ini.

Ketika ditanya tentang tudingan pihak sekuler yang menentang RUU APP bahwa fatwa MUI menjadi pemicu kekerasan, dengan tegas KH Maruf Amin mengatakan: tidak benar. Fatwa MUI merupakan pedoman dan penuntun umat dan bangsa ini untuk menangkal paham, keyakinan, dan aqidah yang sesat. Justru menurut KH Maruf Amin yang sering menuduh Fatwa MUI sebagai sumber kekerasaan merupakan pihak yang gerah terhadap Fatwa MUI yang ingin melindungi umat dari kehancuran dan kekacauan. Kyai dari NU ini juga mengatakan MUI menolak segala bentuk kekerasaan atas nama apapun.

Dalam kesempatan yang sama pengacara FUI Muhammad Lufthie Hakim meminta pihak yang selama ini sering mengeluarkan pernyataan yang menodai Islam dan menyakiti umat Islam agar menghentikan pernyataannya. Tuduhan bahwa Al Quran adalah kitab suci porno dan ormas Islam merupakan preman berjubah, merupakan tuduhan yang tidak berdasar dan merupakan fitnah keji. Karena itu FUI menyatakan kalau hal ini terus berlanjut Forum Umat Islam yang menjadi wadah berbagai ormas Islam dan Partai Islam akan memikirkan untuk melakukan somasi.

Lutfhie juga menyesalkan media massa yang memberitakan secara tidak seimbang. Insiden Purwakarta yang dikesankan sebagai pengusiran paksa Gus Dur di ekspose berulang-ulang. Sementara pernyataan Gus Dur yang menyakitkan umat Islam dan tuduhannya terhadap ormas Islam yang sebenarnya menjadi pemicu tidak diberitakan secara seimbang. (FW)

http://hizbut-tahrir.or.id/main.php?page=news&id=587

Sat 27th May, 2006, Berita

FUI Desak DPR-RI Segera Bahas RUU APP

Jakarta-RoL — Ketua Front Umat Islam (FUI), Mashadi mendesak anggota DPR-RI segera membahas Rancangan Undang Undang Anti Pornografi dan Pornoaksi (RUU-APP) yang sekarang ini sudah pada tahap pembentukan panitia kerja.

Menunda-nunda pembahasan RUU-APP semakin memperluas pro dan kontra di tengah masyarakat, yang dikhawatirkan akan berkembang menjadi konflik antar-umat,” katanya seusai menghadiri acara konferensi pers “Klarifikasi Kasus Purwakarta” di Jakarta, Jum`at.

Menurut dia, sekarang ini ditenggarai mulai ada upaya pemecahbelahan umat Islam dan pembelokan isu dari persoalan pemberantasan pornografi dan pornoaksi menjadi isu sektarianisme dan anarkisme kelompok.

Sebagai contoh Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) dan Tim Pengawal RUU APP-Majelis Ulama Indonesia (MUI) serta sejumlah Ormas Lembaga Islam dituding kelompok anti-RUU APP menggelar Aksi Sejuta Umat pada 21 Mei 2006 adalah aksi bayaran, padahal tudingan itu tidak benar dan tidak ada buktinya, ujarnya. “Semakin lama RUU APP dibahas dan disyahkan menjadi UU, akan semakin banyak pihak yang berseteru,” ujarnya.

Ia mengatakan, untuk mencegah terjadinya pemecahbelahan umat Islam, diserukan seluruh umat merapatkan barisan dan tetap menjaga persaudaraan. Dengan bersatu diharapkan perjuangan umat Islam untuk memberantas pornografi dan porno aksi demi mewujudkan Indonesia yang bermartabat tidak dinodai dengan pertikaian, ujarnya.

Sementara mengenai adanya kelompok tertentu yang tidak setuju dengan pembahasan RUU APP menurut Mashadi, hal itu muncul karena mereka berprasangka pendukung RUU tersebut bertujuan untuk menegakkan syariat Islam.

Padahal FUI beserta sejumlah Ormas Lembaga Islam dan Tim Pengawal RUU APP-Majelis Ulama Indonesia (MUI) mendukung segera disyahkannya RUU itu menjadi UU APP bertujuan murni mewujudkan Indonesia yang bermartabat, tambahnya. antara/pur

http://www.republika.co.id/online_detail.asp?id=249700&kat_id=23

Sat 27th May, 2006, Berita

Warga DKI Resah Akibat Maraknya Penjualan VCD Porno

Jakarta-RoL — Warga Jakarta, khususnya yang mempunyai anak usia remaja, mengaku resah dengan masih maraknya penjualan video compact disc (VCD) porno terutama di pusat perpelanjaan Glodok, Jakarta Barat.

“Iya tuh, saya heran mengapa VCD porno begitu bebasnya dijual di Glodok ini, padahal jelas sangat berbahaya apalagi kalau ditonton oleh anak-anak remaja,” kata Ny. Yenny Anggraeni, saat ditemui di pasar Glodok, Jakarta Barat, Jumat. Yenny yang mempunyai anak laki-laki remaja yang kini duduk di bangku kelas dua sebuah SMU di Jakarta itu, mengaku sangat khawatir kalau buah hatinya juga tergiur untuk membeli dan menonoton VCD tersebut.

Yang lebih mengkhawatirkan lagi, kata Yenny, dampak yang ditimbulkan setelah menyaksikan adegan “panas” dari VCD tersebut. “Kita sering menyaksikan tayangan berita di televisi, dimana ada anak yang masih bawah umur melakukan perbuatan asusila setelah menyaksikan video porno. Buktinya kan sudah konkret tapi mengapa belum juga ditertibkan,” ujarnya.

Ia berharap, aparat keamanan segera melaksanakan penertiban dan merazia VCD porno tersebut serta melakukan pengawasan agar tidak ada penjualan barang illegal itu. “Kalau hanya razia tapi tidak ada pengawasan, percuma saja, karena setelah dirazia mereka pasti menjual kembali VCD tersebut,” katanya.

Kekhawatiran serupa juga dikemukakan Willy, warga Pejaten, yang mengaku heran dengan aktivitas para penjual VCD porno yang seperti bebas menjajakan dan menawarkan barang dagangannya itu. “Coba lihat mereka begitu agresif menawarkan VCD porno pada orang yang datang ke pasar Glodok ini,” kata Willy sambil menunjuk pada salah seorang penjual VCD porno yang sedang menawarkan dagangannya pada salah seorang pengunjung.

Penjualan VCD porno merupakan pemandangan biasa di pasar Glodok, Jakarta Barat, bahkan para penjual memajang dan menawarkannya dengan leluasa layaknya penjual barang legal lainnya seperti elektronik atau pakaian. Bahkan, para penjual tidak segan-segan menarik tangan pendatang sambil menunjukkan kaset bergambar adegan mesum.

Mamat, salah seorang penjual mengaku sudah setahun berjualan VCD porno, jadi sudah tidak canggung lagi menawarkan barang dagangannya tersebut. Pedagang yang menjajakan dagangannya di emperan pasar Glodok itu juga mengaku sudah sering dirazia aparat keamanan.

“Razia sering, tapi hari ini dirazia, besoknya kami jualan lagi. Barang yang dirampas anggap saja sebagai buang sial,” katanya sambil menawarkan jualannya pada salah seorang laki-laki yang lewat di hadapannya. antara/pur

http://www.republika.co.id/online_detail.asp?id=249680&kat_id=23

Sat 27th May, 2006, Artikel

Bukan Sektarian

Bismillah.

Pro-kontra terhadap RUU APP makin panas aja. Akhirnya mayoritas diam –mengutip tajuk Republika- bersuara juga. Aku yang kebetulan gak ikut aksi sejuta ummat ahad lalu itu, nungguin beritanya dari tivi. Metro TV, yang jadi stasiun favoritku untuk versi berita, tumben-tumbenan gak nayangin. Aku sampe heran sendiri, kok gak ada ya? Padahal biasanya Metro yang paling up to date. Berita siang gak sempet kutonton, pun berita petang. Yang bikin aku makin kaget, besoknya aku dengerin diskusi di radio kalo seharian kemarin aksi sejuta ummat mendukung pengesahan RUU APP sama sekali gak disiarkan stasiun televisi swasta manapun!

Aku gak abis pikir…
Kok segitunya ya?
Ini bukan masalah fair dan tidak fair. Tahulah kita siapa aja orang-orang di belakang layar tivi itu. Wajar kalau (mungkin) kemudian mereka punya sentiment tertentu. Tapi ini bagiku jadi lucu banget. Gak masuk akal aja ada event yang begitu besar gak diliput sama sekali. Bener-bener gak masuk akal. Namanya wartawan, pasti kalau ada kejadian menarik dikit aja, insting jurnalistiknya akan jalan. Tapi…ini…?!?

Waktu ikutan diskusi sama Jaringan Kerja RUU APP bareng Bu Inke Maris (wartawati senior, yg dulu jadi penyiar TVRI itu lho..), Mbak Azimah Subagjo (Masyarakat Tolak Pornografi), Pak Elmir, Bu Elly Risman (pemerhati anak) dan orang-orang penting lainnya, kita sampe bolak-balik ngeributin mau dibawa kemana isu APP ini. Aku pribadi dan teman-teman dari BEM UI gak sepakat kalo isu ini diusung dengan bendera agama. Jatoh-jatohnya bakalan jadi isu sektarian, dan tentu ini akan sulit diterima banyak kalangan. Buntut-buntutnya, yang pro akan kekeuh sama pendapatnya, yang kontra juga makin kontra. Gak akan ada titik temu. Akibatnya bisa panjang juga, karena bersinggungan dengan isu SARA. Gak heran orang-orang yang kontra jadi pada phobi duluan, takut Indonesia mau dijadikan negara Islam-lah, takut yang pake koteka ditangkepin-lah, takut Indonesia pecah-lah…

Padahal menurutku, isu pornografi-pornoaksi bukan isu sektarian atau agama. Jelas, karena korbannya gak pandang bulu. Taruhlah perkosaan yang terjadi karena pelaku terangsang gara-gara abis nonton goyang ngebor Inul, atau abis nonton komedi cabul, baca-baca majalah porno, dll. Korbannya jelas bukan dari agama Islam saja. Mau dia islam kek, kristen, budha, hindu, kejawen, atau atheis sekalipun, tetap terancam menjadi korban.
So, apakah dampak pornografi menimpa orang Islam saja sehingga kemudian orang Islam beramai-ramai mendukung RUU ini?

Ini, yang dari kemarin agaknya belum di fahami oleh pihak yang kontra.
Pornografi-pornoaksi itu mengancam kita semua, Bung!
Mau jadi apa adik-adik dan anak-anak kita kalau mereka bisa dengan bebas membaca bacaan porno sejak usia dini? Tahu tidak, ada puluhan jenis komik yang memuat gambar bagaimana melakukan hubungan seks, bagaimana memasukkan alat kelamin pria ke alat kelamin wanita, bermacam gaya berhubungan seksual… Yang kayak gini jadi santapan harian bocah-bocah SD! Sudah berapa banyak kasus perkosaan yang dilakukan bocah umur 10 tahun terhadap tetangganya sendiri yang masih berusia 3 tahun, karena mereka penasaran ingin mencoba memperagakan apa yang mereka tonton dalam film porno?
Mau dibawa kemana masa depan bangsa ini kalau banyak yang berpikiran ngeres abis ngeliat tayangan-tayangan mengundang birahi? Iya kalau mereka punya pelampiasan yang halal (udah nikah gitu maksudnya). Kalau enggak?

Fuh! Perlu dibeberin berapa kasus perkosaan akibat pengaruh pornografi-pornoaksi sih, supaya semuanya bisa pada nyadar???

Makanya aku sedih aja kalau isu ini makin mengerucut jadi isu sektarian. Sama sekali tidak, dan bukan maksud kami menghubung-hubungkannya dengan isu agama… :( (
(Yang paling bikin miris dan geregetan, ada segolongan orang yang teriak-teriak, “Tegakkan syariat Islam dengan UU APP!”. ini bukan masalah setuj-tidak setuju dgn syariat…tapi yakin efektif gak, kalau bukan malah nambah phobi orang-orang yang emang udah antipati sama agama ini?!?!?)

Sulit…sulit sekali kalau isu APP ini dikait-kaitkan dengan agama. Yang harus kita lakukan justru meyakinkan pihak yang kontra kalau isu ini adalah demi kebaikan bersama, bukan (menyiratkan) akan menguntungkan sebagian golongan. Yang harus kita usahakan adalah menyadarkan pihak yang kontra bahwa pornografi dan pornoaksi adalah musuh bersama, tidak beda dengan narkoba!

C’mon…
Jernihlah, teman…
Semua ini demi kebaikan kita…kebaikan generasi muda bangsa ini…
Bukan, APP sama sekali bukan isu sektarian.
Please, dibaca dulu itu RUU-nya sebelum komentar macem-macem. Ada kok pengecualian buat daerah-daerah yang punya budaya tertentu macam koteka, kemben, dan sebagainya.
Lihat dan buka mata lebar-lebar, sudah terlalu banyak korban perkosaan atau pelecehan yang terjadi akibat pornografi dan pornoaksi. Apakah kita akan terus ribut sementara korban terus berjatuhan? Bagaimana jika anak-anak kita, adik-adik, atau saudara perempuan kita yang jadi korban?

Jernihlah…
Jernihlah melihat persoalan…
Katakan tolak pornografi dan pornoaksi.
Mari kita dukung RUU APP demi kebaikan bersama.

Sumber: fathiana.blogspot.com

No Porn