Bono Budi Priambodo
Selamat datang di era informasi, alias era paska-industri, alias era posmodern! Gong telah ditabuh bersamaan dengan kemunculan mukjizat milenium, Internet! Dan seluruh masyarakat dunia bersuka cita menyambutnya! Kebebasan asasi semakin dekat, kesederajatan mutlak antar manusia telah menjelang, dan pornografi merajalela!
Apa yang demikian salah dengan pornografi? Bukankah itu semata-mata hanya masalah pilihan? Internet menyajikan keberagaman informasi yang belum pernah terbayangkan sebelumnya. Bahkan seorang tukang batu sekalipun, asalkan ada yang mau berbaik hati memberitahunya cara menggunakan Internet Explorer-nya Microsoft, dalam beberapa menit, voila! Selamat datang, hai Tukang Batu, jelanglah kebebasanmu! Tak ada lagi kebijakan pemerintah yang ditutup-tutupi. Silakan periksa sendiri berapa sebenarnya standar UMR-mu, lalu bandingkan dengan lain daerah, lain negara. Ada minat mau jadi TKI mungkin? UMR-mu di sini terlalu rendah? Oho, bukan itu yang diminta sang Tukang Batu, “Mas katanya di Internet bisa lihat.. he..he..he.. “itu”…” Dan Tukang Batu tersenyum penuh arti.
Dan warnet pun menjamur di seantero negeri, apalagi kalau dekat perguruan tinggi. Semua orang, adik-adik kita di SD dan SMP, dengan mudah mengakses Internet. Hanya dengan tiga ribu perak, silakan berselancar di mayantara satu jam lamanya. Uang jajan mereka-yang lahir dalam dekade ‘80-an-entah bagaimana caranya memang sepuluh sampai duapuluh kali lipat dari kakak-kakaknya dahulu. Matilah kalian anak jalanan yang semakin banyak saja. Yang beruntung dapat terus bersekolah tentu biasa main-main ke warnet. Dan, amboi, ternyata uh-oh.com bukan monopoli mahasiswa saja, adik-adiknya di SD pun tahu, dan mengaksesnya secara teratur pula!
Dan mengapa pula harus terperanjat? Ini sudah lebih dari modern, Bung! Bukan waktunya lagi tergagap-gagap, tak ada waktu bagi benteng perkubuan moral yang pengap! Kini adalah jamannya bebas menentukan pilihan bagi siapa saja, tak peduli usia dan jenis kelamin, miskin atau kaya, semua saja! Semboyannya: Liberty, Equality, Pornograffiti!
Atau masih juga belum cukup waktu 32 tahun dipaksa modern oleh Orde Baru? Serba dimodernkan, serba diindustrikan, serba diprofesionalkan, belum cukup itu semua? Masih merindukan hangatnya ditimang nilai-nilai tradisional kita yang sebagian besarnya menghambat pembangunan, kata Koentjaraningrat? Oho, jadi kita masih baru modern saja, khas hipokrisi masyarakat modern: Dibilang kolot malu, tapi kalau terlalu modern ya jangan juga! MTV ditonton, dengan J.Lo yang jarang pakai kutang, lalu kalau sekalian dibuka sama sekali seperti yang di uh-oh.com… ya ditonton juga sih, tapi dari sela-sela jari yang menutup mata.
Ini posmo, Bung! Posmodern! Sudah lewat dari modern. Dan yang namanya modern memang tidak ada batasannya, terus dan terus modern, jadi ya juga terus dan terus posmodern. Kalau tidak juga bisa menerima dengan ikhlas apa yang bisa ditawarkan oleh modernitas ya belum posmodern namanya. Lalu kapan mau selesai itu proses modernisasi? Tidak pernah selesai sebelum posmodernnya juga selesai!
Dapatkah kita menyalahkan saudara-saudara kita yang bersedia difoto ketika sedang berhubungan seks, dengan gayanya yang macam-macam itu? Atau orang-orang yang mengumpulkan foto-foto itu untuk kemudian menampilkannya dalam sebuah situs web? Atau orang-orang yang tergoda ketika melihat atau mendengar nama-nama domain yang provokatif, lalu mengaksesnya? Wah, masih kurang posmodern, cari lagi kambing lain yang lebih hitam!
Mungkin Bill Gates dengan Microsoft Internet Explorer dan Front Page-nya? Atau Macromedia dengan Dreamweaver Ultradev-nya? Atau justru yang kali pertama mengembangkan Internet itu sendiri? Nah, nah, ini baru agak posmo. Ayo kembangkan lagi, cari, selidiki bagian mana dari kambing-kambing ini yang paling hitam!
Teknologi, nilai tambah terbesar yang sejauh ini mampu dibayangkan manusia dalam perkembangan kapitalisme. Teknologi, masih harus dilembagakan lagi nilai tambahnya melalui konstruksi kekayaan intelektual. Teknologi, sapi emas paling besar dan paling megah yang mungkin diciptakan oleh anak cucu Samiri, pengikut Musa yang murtad (dan lebih dahsyat, karena bisa berkembang biak). Teknologi, penguasaan atasnya menjadi syarat mutlak pengendalian sumber daya dunia, bahkan penguasaan atas dunia itu sendiri. Teknologi, ampas proses berpikir manusia dalam menyikapi lingkungan sekitarnya. Teknologi, ampas, teknologi, tahi!
Ini dia yang paling hitam! Jadi buat apa meributkan pidana materiil, kalau masih saja berkutat di sekitar ketertiban umum dan standar kesusilaan umum? Buat apa meributkan penegakan hukum, kalau belum punya kapal induk minimal setengah lusin lengkap dengan minimal tujuh lusin pesawat tempur masing-masing di geladak utamanya? Buat apa bicara hukum, kalau modern saja sudah lewat? Ini posmodern, Bung! Ingat itu, posmodern! Kebebasan asasi semakin dekat, Kesederajatan mutlak antar manusia telah menjelang, dan pornografi merajalela!
Dan tahi kambing memang bulat-bulat, hitam pula… jadi apa yang paling hitam dari pornografi di internet? Internet itu sendiri? Bukan, Bung! Bukan! Yang paling hitam ya.. itu.. tahi kambing!
http://www.lkht.net/artikel_lengkap.php?id=5