Anti Pornografi

RUU APP BUKAN untuk menyeragamkan budaya,
BUKAN untuk menyeragamkan dalam berpakaian,
BUKAN untuk memaksakan aturan suatu agama.
RUU APP dapat mengangkat suatu kaum/suku yang masih berpakaian / pola hidup
yang tertinggal, dan BUKAN untuk menangkapnya. Kenapa ?
Karena mereka bukan dengan sengaja mempertontonkannya.
Tapi ini merupakan tugas kita untuk menjadikan mereka
lebih beradab dalam era globalisasi ini.

RUU APP ini justru untuk mendefinisikan Pornografi dan Pornoaksi,
karena TIDAK ADA satupun UU yang jelas mendefinisikan pornografi.
RUU APP ini hanya meminta warga negaranya berpakaian secara sopan,
TIDAK untuk memancing birahi lawan jenisnya (baik laki-laki dan perempuan),
TIDAK ada pemaksaan untuk berpakaian model Islami/Arab/Taliban.
RUU APP melindungi kaum perempuan Indonesia dari
pihak-pihak yang justru merendahkan kaum perempuan
dengan dijadikan objek yang laku dijual demi kaum laki-laki hidung belang.
RUU APP melindungi moral anak-anak kita dari bahaya pornografi
demi membangun masa depan bangsa dengan keilmuannya
bukan dengan mempertontonkan tubuhnya atau bahkan melacurkan dirinya.

Janganlah kalian EGOIS karena saat ini
kalian dapat menikmati keindahan tubuh perempuan.
Janganlah kalian EGOIS karena saat ini banyak job order
untuk tampil dan terkenal dengan mempertontonkan tubuh kalian.
Janganlah kalian mengeruk profit dari mempertontonkan tubuh perempuan
yang justru menghinakan/merendahkan kaum perempuan.

Lihatlah masa depan bangsa…
lihatlah masa depan anak-anak bangsa yang masih lucu,
lugu dan mereka sedang giat belajar.
Jangan ganggu dan usik mereka oleh media pornografi.
Jangan hinakan harga diri mereka karena
ibunya/ayahnya mempertontonkan keindahan tubuhnya.



Selamatkan anak-anak kita dari bahaya pornografi !

Mon 29th May, 2006, Artikel

MUNGKINKAH MEMBASMI PORNOGRAFI DI INTERNET TANPA MEMBASMI INTERNET?

Bono Budi Priambodo

Selamat datang di era informasi, alias era paska-industri, alias era posmodern! Gong telah ditabuh bersamaan dengan kemunculan mukjizat milenium, Internet! Dan seluruh masyarakat dunia bersuka cita menyambutnya! Kebebasan asasi semakin dekat, kesederajatan mutlak antar manusia telah menjelang, dan pornografi merajalela!

Apa yang demikian salah dengan pornografi? Bukankah itu semata-mata hanya masalah pilihan? Internet menyajikan keberagaman informasi yang belum pernah terbayangkan sebelumnya. Bahkan seorang tukang batu sekalipun, asalkan ada yang mau berbaik hati memberitahunya cara menggunakan Internet Explorer-nya Microsoft, dalam beberapa menit, voila! Selamat datang, hai Tukang Batu, jelanglah kebebasanmu! Tak ada lagi kebijakan pemerintah yang ditutup-tutupi. Silakan periksa sendiri berapa sebenarnya standar UMR-mu, lalu bandingkan dengan lain daerah, lain negara. Ada minat mau jadi TKI mungkin? UMR-mu di sini terlalu rendah? Oho, bukan itu yang diminta sang Tukang Batu, “Mas katanya di Internet bisa lihat.. he..he..he.. “itu”…” Dan Tukang Batu tersenyum penuh arti.

Dan warnet pun menjamur di seantero negeri, apalagi kalau dekat perguruan tinggi. Semua orang, adik-adik kita di SD dan SMP, dengan mudah mengakses Internet. Hanya dengan tiga ribu perak, silakan berselancar di mayantara satu jam lamanya. Uang jajan mereka-yang lahir dalam dekade ‘80-an-entah bagaimana caranya memang sepuluh sampai duapuluh kali lipat dari kakak-kakaknya dahulu. Matilah kalian anak jalanan yang semakin banyak saja. Yang beruntung dapat terus bersekolah tentu biasa main-main ke warnet. Dan, amboi, ternyata uh-oh.com bukan monopoli mahasiswa saja, adik-adiknya di SD pun tahu, dan mengaksesnya secara teratur pula!

Dan mengapa pula harus terperanjat? Ini sudah lebih dari modern, Bung! Bukan waktunya lagi tergagap-gagap, tak ada waktu bagi benteng perkubuan moral yang pengap! Kini adalah jamannya bebas menentukan pilihan bagi siapa saja, tak peduli usia dan jenis kelamin, miskin atau kaya, semua saja! Semboyannya: Liberty, Equality, Pornograffiti!

Atau masih juga belum cukup waktu 32 tahun dipaksa modern oleh Orde Baru? Serba dimodernkan, serba diindustrikan, serba diprofesionalkan, belum cukup itu semua? Masih merindukan hangatnya ditimang nilai-nilai tradisional kita yang sebagian besarnya menghambat pembangunan, kata Koentjaraningrat? Oho, jadi kita masih baru modern saja, khas hipokrisi masyarakat modern: Dibilang kolot malu, tapi kalau terlalu modern ya jangan juga! MTV ditonton, dengan J.Lo yang jarang pakai kutang, lalu kalau sekalian dibuka sama sekali seperti yang di uh-oh.com… ya ditonton juga sih, tapi dari sela-sela jari yang menutup mata.

Ini posmo, Bung! Posmodern! Sudah lewat dari modern. Dan yang namanya modern memang tidak ada batasannya, terus dan terus modern, jadi ya juga terus dan terus posmodern. Kalau tidak juga bisa menerima dengan ikhlas apa yang bisa ditawarkan oleh modernitas ya belum posmodern namanya. Lalu kapan mau selesai itu proses modernisasi? Tidak pernah selesai sebelum posmodernnya juga selesai!

Dapatkah kita menyalahkan saudara-saudara kita yang bersedia difoto ketika sedang berhubungan seks, dengan gayanya yang macam-macam itu? Atau orang-orang yang mengumpulkan foto-foto itu untuk kemudian menampilkannya dalam sebuah situs web? Atau orang-orang yang tergoda ketika melihat atau mendengar nama-nama domain yang provokatif, lalu mengaksesnya? Wah, masih kurang posmodern, cari lagi kambing lain yang lebih hitam!

Mungkin Bill Gates dengan Microsoft Internet Explorer dan Front Page-nya? Atau Macromedia dengan Dreamweaver Ultradev-nya? Atau justru yang kali pertama mengembangkan Internet itu sendiri? Nah, nah, ini baru agak posmo. Ayo kembangkan lagi, cari, selidiki bagian mana dari kambing-kambing ini yang paling hitam!

Teknologi, nilai tambah terbesar yang sejauh ini mampu dibayangkan manusia dalam perkembangan kapitalisme. Teknologi, masih harus dilembagakan lagi nilai tambahnya melalui konstruksi kekayaan intelektual. Teknologi, sapi emas paling besar dan paling megah yang mungkin diciptakan oleh anak cucu Samiri, pengikut Musa yang murtad (dan lebih dahsyat, karena bisa berkembang biak). Teknologi, penguasaan atasnya menjadi syarat mutlak pengendalian sumber daya dunia, bahkan penguasaan atas dunia itu sendiri. Teknologi, ampas proses berpikir manusia dalam menyikapi lingkungan sekitarnya. Teknologi, ampas, teknologi, tahi!

Ini dia yang paling hitam! Jadi buat apa meributkan pidana materiil, kalau masih saja berkutat di sekitar ketertiban umum dan standar kesusilaan umum? Buat apa meributkan penegakan hukum, kalau belum punya kapal induk minimal setengah lusin lengkap dengan minimal tujuh lusin pesawat tempur masing-masing di geladak utamanya? Buat apa bicara hukum, kalau modern saja sudah lewat? Ini posmodern, Bung! Ingat itu, posmodern! Kebebasan asasi semakin dekat, Kesederajatan mutlak antar manusia telah menjelang, dan pornografi merajalela!

Dan tahi kambing memang bulat-bulat, hitam pula… jadi apa yang paling hitam dari pornografi di internet? Internet itu sendiri? Bukan, Bung! Bukan! Yang paling hitam ya.. itu.. tahi kambing!

http://www.lkht.net/artikel_lengkap.php?id=5

Comments »

Right Click Here for TrackBack URI

No comments yet.

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>


Anti-spam

Catatan:

  • Komentar tidak menggunakan kata-kata yang kotor, bukan spam dan iklan.
  • Moderator berhak mengedit bahkan menghapus setiap komentar tanpa pemberitahuan terlebih dahulu dan bersifat mutlak
  • Kami tidak melayani surat-menyurat untuk menanggapi tanggapan Anda di sini.
  • Sekedar mengingatkan, bahwa web blog ini dikhususkan untuk mendukung RUU APP dan prihatin atas bahaya pornografi yang bertebaran di negara kita ini.
  • Selamat berdiskusi!
No Porn