Anti Pornografi

RUU APP BUKAN untuk menyeragamkan budaya,
BUKAN untuk menyeragamkan dalam berpakaian,
BUKAN untuk memaksakan aturan suatu agama.
RUU APP dapat mengangkat suatu kaum/suku yang masih berpakaian / pola hidup
yang tertinggal, dan BUKAN untuk menangkapnya. Kenapa ?
Karena mereka bukan dengan sengaja mempertontonkannya.
Tapi ini merupakan tugas kita untuk menjadikan mereka
lebih beradab dalam era globalisasi ini.

RUU APP ini justru untuk mendefinisikan Pornografi dan Pornoaksi,
karena TIDAK ADA satupun UU yang jelas mendefinisikan pornografi.
RUU APP ini hanya meminta warga negaranya berpakaian secara sopan,
TIDAK untuk memancing birahi lawan jenisnya (baik laki-laki dan perempuan),
TIDAK ada pemaksaan untuk berpakaian model Islami/Arab/Taliban.
RUU APP melindungi kaum perempuan Indonesia dari
pihak-pihak yang justru merendahkan kaum perempuan
dengan dijadikan objek yang laku dijual demi kaum laki-laki hidung belang.
RUU APP melindungi moral anak-anak kita dari bahaya pornografi
demi membangun masa depan bangsa dengan keilmuannya
bukan dengan mempertontonkan tubuhnya atau bahkan melacurkan dirinya.

Janganlah kalian EGOIS karena saat ini
kalian dapat menikmati keindahan tubuh perempuan.
Janganlah kalian EGOIS karena saat ini banyak job order
untuk tampil dan terkenal dengan mempertontonkan tubuh kalian.
Janganlah kalian mengeruk profit dari mempertontonkan tubuh perempuan
yang justru menghinakan/merendahkan kaum perempuan.

Lihatlah masa depan bangsa…
lihatlah masa depan anak-anak bangsa yang masih lucu,
lugu dan mereka sedang giat belajar.
Jangan ganggu dan usik mereka oleh media pornografi.
Jangan hinakan harga diri mereka karena
ibunya/ayahnya mempertontonkan keindahan tubuhnya.



Selamatkan anak-anak kita dari bahaya pornografi !

Mon 29th May, 2006, Berita

Pimpinan Ponpes Gontor Minta Pemerintah Sahkan RUU APP

Ponorogo-RoL– Pimpinan Ponpes Modern Darussalam Gontor Ponorogo, Dr KH Abdullah Syukri Zarkasyi MA meminta kepada pemerintah dan DPR untuk segera mengesahkan Rancangan Undang-Undang Anti Pornografi dan Pornoaksi (RUU APP).

Permintaan itu disampaikan Syukri Zarkasyi ketika memberikan sambutan Resepsi Syukuran 80 Tahun Pondok Modern Darussalam Gontor Ponorogo, Minggu, yang dihadiri Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, sejumlah menteri kabinet dan duta besar negara Islam.

“Pornografi yang ada di sekitar kita membuat kami ketar-ketir (was-was) dan ada memang yang rusak bahkan dirusak, karena itu para wali murid menyekolahkan anaknya di Gontor karena takut jika anaknya sekolah diluar akan rusak,” katanya.

Permintaan Syukri mendapat tepuk tangan ribuan santri Gontor, termasuk alumni Gontor yang kini menjadi Ketua Umum PP Muhammadiyah, Prof Dr Dien Syamsudin, yang dikenal gigih memperjuangkan RUU APP bersama Ketua Umum PBNU, KH Hasyim Muzadi, yang berhalangan hadir.

Putra salah seorang dari tiga pendiri Pesantren Gontor ini juga mengatakan, kalau santri-santri Gontor yang berasal dari seluruh pelosok Indonesia ikut serta dalam merebut kemerdekaan, karena itu pihaknya tidak rela NKRI dipecah-belah.

“Kami memandang NKRI sudah klimaks, pemerintah agar tidak segan-segan menindak segala bentuk upaya separatis untuk memecah-belah NKRI dengan menindaknya seperti teroris, bahkan terus terang salah seorang tokoh GAM alumni Gontor,” katanya.

Karena itu, ujar Syukri, dirinya telah membujuk tokoh GAM tersebut dan telah bertemu dengan tokoh-tokoh Indonesia dan sekarang masuk kembali ke NKRI.

Sementara itu Ketua Umum PP Muhammadiyah, Dien Syamsudin mengatakan, umat Islam memerlukan undang-undang untuk memberantas pornografi dan pornoaksi, sehingga RUU APP perlu segera disahkan. “Memang perlu didiskusikan dan pengesahannya tergantung DPR,” katanya.

Resepsi 80 tahun Pondok Gontor, selain dihadiri para pimpinan pondok juga Menteri Agama Maftuh Basyuni dan sejumlah menteri, Amir Besar Al Azhar dari Mesir yakni Muhammad Said Thontowi, para duta besar sejumlah negara Islam seperti Arab Saudi, Maroko, Mesir dan Iran.

Kemudian staf ahli Presiden, Yenny Wahid, Ketua Umum ICMI, Dr Marwah Daud Ibrahim, Rektor Universitas Syarif Hidayatullah, Prof Dr Azyumardi Azra dan sejumlah tokoh lainnya. antara/pur

http://www.republika.co.id/online_detail.asp?id=249844&kat_id=23

Comments »

Right Click Here for TrackBack URI

No comments yet.

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>


Anti-spam

Catatan:

  • Komentar tidak menggunakan kata-kata yang kotor, bukan spam dan iklan.
  • Moderator berhak mengedit bahkan menghapus setiap komentar tanpa pemberitahuan terlebih dahulu dan bersifat mutlak
  • Kami tidak melayani surat-menyurat untuk menanggapi tanggapan Anda di sini.
  • Sekedar mengingatkan, bahwa web blog ini dikhususkan untuk mendukung RUU APP dan prihatin atas bahaya pornografi yang bertebaran di negara kita ini.
  • Selamat berdiskusi!
No Porn