Anti Pornografi

RUU APP BUKAN untuk menyeragamkan budaya,
BUKAN untuk menyeragamkan dalam berpakaian,
BUKAN untuk memaksakan aturan suatu agama.
RUU APP dapat mengangkat suatu kaum/suku yang masih berpakaian / pola hidup
yang tertinggal, dan BUKAN untuk menangkapnya. Kenapa ?
Karena mereka bukan dengan sengaja mempertontonkannya.
Tapi ini merupakan tugas kita untuk menjadikan mereka
lebih beradab dalam era globalisasi ini.

RUU APP ini justru untuk mendefinisikan Pornografi dan Pornoaksi,
karena TIDAK ADA satupun UU yang jelas mendefinisikan pornografi.
RUU APP ini hanya meminta warga negaranya berpakaian secara sopan,
TIDAK untuk memancing birahi lawan jenisnya (baik laki-laki dan perempuan),
TIDAK ada pemaksaan untuk berpakaian model Islami/Arab/Taliban.
RUU APP melindungi kaum perempuan Indonesia dari
pihak-pihak yang justru merendahkan kaum perempuan
dengan dijadikan objek yang laku dijual demi kaum laki-laki hidung belang.
RUU APP melindungi moral anak-anak kita dari bahaya pornografi
demi membangun masa depan bangsa dengan keilmuannya
bukan dengan mempertontonkan tubuhnya atau bahkan melacurkan dirinya.

Janganlah kalian EGOIS karena saat ini
kalian dapat menikmati keindahan tubuh perempuan.
Janganlah kalian EGOIS karena saat ini banyak job order
untuk tampil dan terkenal dengan mempertontonkan tubuh kalian.
Janganlah kalian mengeruk profit dari mempertontonkan tubuh perempuan
yang justru menghinakan/merendahkan kaum perempuan.

Lihatlah masa depan bangsa…
lihatlah masa depan anak-anak bangsa yang masih lucu,
lugu dan mereka sedang giat belajar.
Jangan ganggu dan usik mereka oleh media pornografi.
Jangan hinakan harga diri mereka karena
ibunya/ayahnya mempertontonkan keindahan tubuhnya.



Selamatkan anak-anak kita dari bahaya pornografi !

Tue 20th Jun, 2006, Berita

Pemerintah Tidak akan Bubarkan Ormas Islam

Muhammad Atqa - detikcom

Jakarta - Pemerintah tidak akan membubarkan sejumlah ormas Islam. Pemerintah hanya menginginkan situasi yang ada saat ini tidak berujung pada konflik nasional.

Demikian klarifikasi yang disampaikan Dirjen Kesatuan Bangsa (Kesbang) Departemen Dalam Negeri Sudarsono saat menerima sejumlah pemimpin ormas Islam di kantornya, Jl. Medan Merdeka Utara, Jakarta, Selasa (20/6/2006).

“Kami mendapatkan klarifikasi dari Dirjen Kesbang Sudarsono bahwa rakor polkam waktu itu tidak dimaksudkan untuk membubarkan ormas Islam,” kata Sekjen Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) Muhammad Al Khaththath usai pertemuan.

Seperti diketahui, usai rakor polkam 8 Juni lalu pemerintah menyatakan akan menindak tegas ormas-ormas yang anarkis. Sebab keberadaan mereka dinilai telah mengganggu keamanan dan ketertiban masyarakat.

Menurut Khaththath, isu pembubaran ormas Islam dimunculkan oleh pihak tertentu dengan dalih melakukan kekerasan. Wacana tersebut mengambil latar belakang pemberitaan pengusiran Gus Dur dari Purwakarta. Padahal Gus Dur sendiri telah mengklarifikasi tidak ada pengusiran.

“Ini yang menjadi keprihatinan kami. Setelah kami teliti lebih jauh, ternyata wacana ini berkaitan dengan aksi 21 Mei tentang dukungan terhadap RUU APP yang begitu besarnya,” ujar Khaththath.

Menurutnya, ada pembelokan isu dari dukungan umat Islam kepada RUU APP menjadi wacana pembubaran ormas Islam dengan dalih telah melakukan kekerasan.

Waacana itu sendiri sangat tidak masuk akal. Sebab ormas Islam tidak termasuk dalam butir-butir aturan pemerintah yang dianggap bisa dibubarkan. Misalnya mengganggu ketertiban umum, mendapat bantuan asing tanpa persetujuan pemerintah, dan menyebarkan Marxisme dan Leninisme.

“Itu tidak ada sama sekali dalam ormas Islam,” tegasnya.(djo)

Sumber : Detik.com

Tue 20th Jun, 2006, Artikel

Ngebela Pornografi, Untuk Siapa?

Rencana dikeluarkannya undang-undang anti pornografi dan pornoaksi ternyata nggak berjalan mulus. Sejumlah kalangan menentang keras. Bahkan pake ngegelar aksi erotisme. Untuk siapa ngebela pornografi?

Tiada hari tanpa heboh di Indonesia. Mulai dari surat sakti seorang pejabat yang deket ama Presiden SBY, bencana alam sampe flu burung. But, yang mau kita obrolin sekarang, karena emang deket banget ama kepentingan kita adalah kontroversi Rancangan Undang-Undang Pornografi dan Pornoaksi (RUU APP). Pernah denger kan?

Ini RUU konon udah dirancang semenjak jaman Presiden Habibie sampai SBY, tapi belum kelar-kelar. Sebabnya udah jelas; pembahasan pornografi itu nggak jelas. Hehehe…ngarti kagak? Gini deh ringkasnya, banyak orang yang nggak setuju ama pornografi dan pornoaksi, termasuk majalah ini. Makanya mereka sering berdemonstrasi, bikin tulisan, dan seminar yang isinya mengecam pornografi dan pornoaksi. Aksi menentang pornografi makin angot alias hot setelah ada rencana bakal terbit majalah Playboy versi Indonesia.

But, ternyata nggak semua orang suka dengan larangan ini. Pembahasan RUU APP ini selain didukung, juga ditentang. Para penentangnya mengecam kalo RUU ini udah ngelanggar hak asasi manusia. “RUU ini proyek yang menghabis-habiskan uang dan substansinya melanggar hak asasi manusia karena masuk ke ruang pribadi,” kata Direktur Lembaga Bantuan Hukum APIK Jakarta Ratna Batara Munti (Kompas, 4/2/2006). Penentangan terhadap RUU APP ini banyak dilakukan kalangan media massa, budayawan, dan kaum feminis.

RUU yang tegas

Kamu-kamu yang udah baca isi dari RUU APP ini mungkin bakal mengacungkan jempol tanda setuju. RUU itu ngatur dengan detail setiap perbuatan asusila lengkap dengan sanksinya yang bisa bikin kapok. Misalnya jika melanggar pasal 27 yang ngebahas berciuman di muka umum, sanksinya diatur dalam pasal 81, yaitu:

(1) Setiap orang yang berciuman bibir di muka umum sebagaimana dimaksud dengan pasal 27 ayat 1 (satu), dipidana dengan pidana penjara paling singkat 1 (satu) tahun dan paling lama 5 (lima) tahun dan/atau pidana denda paling sedeikit Rp 100.000.000 (seratus juta rupiah) dan paling banyak Rp 500.000.000 (lima ratus juta rupiah).

(2) Setiap orang yang menyuruh orang lain berciuman bibir di muka umum sebagaimana dimaksud pasal 27 ayat 2 (dua), dipidana dengan pidana penjara paling singkat 1 (satu) tahun dan paling lama 5 (lima) tahun dan/atau pidana denda paling sedikit Rp 100.000.000 (seratus juta rupiah) dan paling banyak Rp 500.000.000 (lima ratus juta rupiah).

Terang aja banyak orang merasa gerah bahkan ‘panas’ dengan aturan ini. Maklumlah di Indonesia, orang udah ngerasa terbiasa dengan hal-hal yang dibahas di atas.

Belum lagi soal pamer aurat. dalam pasal 58: “Setiap orang yang dengan sengaja membuat tulisan, suara atau rekaman suara, film atau yang dapat disamakan dengan film, syair lagu, puisi,gambar, foto, dan/atau lukisan yang mengeksploitasi daya tarik bagian tubuh tertentu yang sensual dari orang dewasa sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4, dipidana dengan pidana penjara paling singkat 1 (satu) tahun dan paling lama 5 (lima) tahun dan/atau pidana denda paling sedikit Rp 100.000.000 (seratus juta rupiah) dan paling banyak Rp 500.000.000 (lima ratus juta rupiah).”

Kalau RUU ini diloloskan sebenarnya banyak kehidupan sosial bangsa ini relatif aman. Jauh dari sensualitas, pornografi dan ancaman kejahatan seksual. Sayang, nggak semua orang sepakat dengannya.

Emang susah

RUU itu emang bakal bikin gerah banyak kalangan. Utamanya mereka yang udah biasa hidup bergaya hedonis. Nyari kepuasan jasmani, utamanya soal seks bebas. Coba, ciuman di muka umum aja bisa kena denda 100 juta perak! Mana tahan! Sedangkan ngebuka aurat dan bergaya sensual bakal diganjar denda yang sama.

Maka dari hari ke hari media massa sering mengangkat tema penentangan terhadap RUU ini. Alasannya adalah kebebasan HAM, perbedaan budaya, dan juga soal agama.

Soal HAM udah jelas banget. Menurut pandangan mereka nggak boleh ada satupun orang yang ngelarang orang lain berekspresi. You know, dalam teori HAM ada kebebasan berkepribadian. Mau ngapain aja kan urusan kita, gitu deh alasan mereka. Gue mau ciuman di mana aja, ama siapa aja, kan yang penting gue dan pasangan gue sama-sama suka. Lagian ini urusan pribadi, negara kagak boleh ikut campur. Yup, dalam teori HAM, negara emang haram banget mencampuri urusan pribadi rakyatnya. Lagipula kalo RUU itu disahkan itu berarti pemaksaaan pendapat terhadap orang lain.

Alasan lain yang dikemukakan untuk menolak larangan pornografi adalah soal perbedaan budaya. Kata mereka, Indonesia ini multietnik dan multibudaya, kalo sampe larangan ini keluar, maka banyak suku yang merasa dianaktirikan, misalnya warga Bali dan Papua. Di Bali konon ada kebiasaan mandi bersama di kali, sedangkan di Papua warganya masih banyak yang berkoteka. Nah, kata mereka, kalo RUU itu keluar berarti itu kan pemaksaan pendapat, tidak menghormati perbedaan suku.

Alasan lain warga Bali adalah RUU itu mengancam industri pariwisata. Dalam sebuah dialog di stasiun Metro TV (6/3), seorang anggota legislatif asal daerah Bali mengemukakan pendapat itu. Katanya, untuk kawasan industri harus ada kekhususan tanpa merinci apa kekhususannya. Dia juga mengungkapkan kalo RUU APP ini dicurigai membawa muatan impor, bukan nilai asli budaya bangsa.

Walhasil, RUU APP ini emang bergulir jadi bola panas. Banyak yang mendukung, tapi nggak sedikit juga yang membencinya.

Kenapa ngotot?

Kalo boleh kita jawab, alasan-alasan yang dilontarkan para pendukung pornografi dan pornoaksi terlalu mengada-ada. Soal HAM, perbedaan penafsiran dan perbedaan budaya jadi alasan yang mengemuka. Ngelarang orang berciuman di muka umum, pake baju yang terbuka (misalnya tank top & celana hipsters), kan hak asasi manusia. Kagak ada yang boleh maksa atau ngelarang.

Sebenarnya para pendukung HAM ini juga ambigu, alias kagak jelas sikapnya. Coba, kalo betul negara kagak boleh campur tangan urusan pribadi, kenapa mereka ngedukung larangan ngerokok di tempat umum, ngedukung kewajiban pake helm di jalan raya, pake sabuk pengaman saat naik mobil, juga menentang poligami. Itu kan termasuk urusan pribadi, ya to? Begitu juga pemakaian narkoba kan urusan pribadi, lalu kenapa mereka juga menentangnya. Alasannya jelas, para pendukung HAM itu emang mau menangnya sendiri.

Dan omong-omong soal pemaksaan pendapat, apakah ‘menghalalkan’ pornografi bukan termasuk pemaksaan pendapat? Lagian, di negara manapun selalu terjadi pemaksaan pendapat oleh negara kepada rakyat. Mulai dari UUD 45, dasar negara Pancasila, KUHP, peraturan lalu lintas, dan aneka undang-undang negara kan isinya pemaksaan aturan kepada rakyat, kok mereka kagak protes?

Gimana soal perbedaan budaya? Ya, apa semua budaya kudu dipertahankan? Apakah berkoteka itu budaya yang mau dilestarikan? Jangan-jangan berkoteka itu sebenarnya tanda belum berbudaya. Kira-kira risih nggak kalo ada orang berkoteka masuk Plaza Senayan atau masuk kampus? Pasti aneh, kan?

Gimana pun juga, selama aturan baik dan buruk diserahkan kepada akal manusia, yang muncul pasti perselisihan. Yang lebih parah, bencana juga bakal dateng. Firman Allah: ”Andaikata kebenaran itu menuruti hawa nafsu mereka, pasti binasalah langit dan bumi ini, dan semua yang ada di dalamnya. Sebenarnya Kami telah mendatangkan kepada mereka peringatan mereka tetapi mereka berpaling dari peringatan itu.” (QS al-Mukminun [23]: 71)

Catet nih, Brur. Di Amerika Serikat 4000 film porno diproduksi setiap tahun, dan uang yang dihasilkan lebih dari 12 milyar AS. Sebuah suvey memperkirakan penduduk Amerika Serikat setiap tahun mengeluarkan $8-10 milyar untuk mendapat majalah, kaset video atau akses ke siaran dan situs internet porno.

Tapi apa yang terjadi? Sebuah survey oleh majalah Women’s Day mengatakan 21% dari 6.000 pembacanya pernah mengalami serangan atau pelecehan seksual sebagai akibat langsung dari konsumsi pornografi. Studi lain mengatakan tontonan pornografi cenderung membuat laki-laki menjadi lebih agresif terhadap perempuan.

Sebaliknya kekerasan seksual juga cenderung mendorong perempuan untuk terlibat dalam industri pornografi. Sekitar 70% perempuan dalam industri ini pernah mengalami serangan seksual atau menjadi korban incest semasa kecil. Dalam beberapa tahun belakangan kecenderungan melibatkan anak-anak dalam industri ini pun semakin besar untuk melayani konsumen pedofilia yang juga semakin meningkat.

Di Indonesia juga sama. Sebuah penelitian yang dilakukan oleh dr. Andik Wijaya, DMSH terhadap 202 remaja di kota Malang, pada bulan September 2001, juga begitu adanya. Dengan 51, 5 % responden pria, 48, 5 % wanita. 6 % beusia 13 - 15 tahun, 67,3 % berusia 16 - 18 tahun, dan 26,7 % berusia diatas 18 tahun. Dari hasil penelitian itu terungka bahwa 7 % dari responden mengaku melakukan aktifitas oral sex. 100 persen mereka yang melakukan oral sex ini mengaku mendapatkan gagasan untuk melakukan oral sex dari VCD porno yang mereka lihat, disamping itu 73 persen dari teman, 66 persen dari internet, 47 persen dari media cetak seperti koran, tabloid, maupun majalah.

Renungkan deh!

Emang nggak gampang melarang pornografi di tengah-tengah masyarakat sekuler macam Indonesia. Ada yang pro-Islam tapi banyak yang menentang. Wajar, karena masyarakat sekuler itu memang pemburu kenikmatan jasadiah, alias hedonis. Lucunya mereka juga pengen menjunjung moral. Tapi moral yang gimana mereka juga susah ngejawabnya.

Maka, nggak mungkin menghormati wanita kalau landasan pemikirannya masih sekuler, aturannya masih demokrasi dan liberalisme, dan makna kebahagiaannya masih hedonisme. Satu-satunya jalan untuk memuliakan wanita dan menjaga moral masyarakat ya kudu pake Islam. Lainnya tidak.

Cuma kalo aturannya ditambal sulam kayak sekarang, yang muncul pasti penentangan. So, jawabannya cuma satu; ubah landasan berpikir masyarakat. Jadiin Islam sebagai asas kehidupan, baru deh kita bisa gampang ngomongin moral. Kalo nggak ada perubahan yang mendasar, ya sampe ada kodok berbulu juga kagak bakalan bisa. [januar].

http://sobatmuda.multiply.com/journal/item/299

Tue 20th Jun, 2006, Artikel

Cewek, Jangan Mau Dikorbankan

Uang dan ketenaran seringkali diburu. Dunia memang gemerlap. Tapi, nggak seru dong kalo untuk ngedapetinnya sampe harus dengan cara jual diri. Iya kan?

Siapa sih yang nggak kepengen jadi model beken? Duit berlimpah, ketenaran sudah pasti diraih. Model yang ngetop sering diidentikan dengan duit yang banyak. Mungkin ada benarnya juga, meski dalam beberapa kasus nggak begitu. Sebab, ada juga model yang mau dipampang foto tubuh seksinya di majalah syur yang kelasnya jauh di bawah Playboy, dengan hanya uang 500 ribu perak. Uang segitu, mana cukup buat memuhin gaya hidup kelas glamor. Tapi, mereka punya alasan lain bahwa itu sebagai batu pijakan untuk ngetop. Kalo udah ngetop, duit bakalan ngalir deras ke kantongnya juga.

Sebut saja Risma, 23 tahun, salah seorang model tabloid syur, mengaku bahwa tawaran main sinetronnya bertambah banyak sejak ia mejeng di tabloid panas. Dia pernah berakting untuk beberapa judul sinetron, di antaranya Lorong Waktu, Kafir, dan Misteri Nini Pelet. (Koran Tempo, 19 Februari 2006)

Buat model yang belum tenar banget, bisa tuh nego ke pemilik diskotik tempat mangkalnya untuk diajukan ke media syur. Di sinilah barangkali terjadi simbiosis mutualisme alias kerjasama saling menguntungkan. Model jadi ikutan tenar, plus dapet duit. Pemilik café atau diskotik juga jadi ketiban rejeki nomplok karena tempatnya jadi banyak disambangi pengunjung setelah ‘peliharaannya’ tampil di tabloid syur. Termasuk fotografernya dapet duit juga dong. Media massa yang nyebarin juga untung. Nah, teman kita-kita yang beli juga dapetin kepuasan melototin gambar-gambar aduhai. Ckckckck…

Pertanyaannya sekarang, apa anak cewek yang jadi model tuh nggak ngerasa lagi dieksploitasi? Nggak ngerasa jadi korban? Nggak nyadar kalo lagi dikomersilin? Terus, kok kaum feminis nggak bersuara sih untuk membela para perempuan yang lagi dikorbankan demi kepuasan pengelola industri kapitalis? Atau minimal menyadarkan mereka supaya nggak keterusan dikorbankan. Ah, paling-paling alasannya: ini kan kebebasan. Jangan maksa kami untuk nurut sama aturan. Walah.

Cewek dikomersilin?

Eh, anak cewek yang jadi model tuh dianggap sebagai korban eksploitasi nggak seh? Atau, mereka dikomersilin, gitu?

“Nggak tuh. Buat gue itu wajar aja kali. Toh masyarakat juga yang liat, masyarakat juga yang nilai. Selama itu masih di dalam batas wajar, kenapa nggak?” Unga, 18 tahun yang berprofesi sebagai penyiar di sebuah radio swasta di Bandung ngasih pendapatnya.

Nawang Naveta, seorang model di Colour Model yang juga masih tercatat sebagai siswi di sebuah SMA negeri di Malang ngasih komentar (yang mungkin agak jujur), “Model tuh dituntut yang feminin gitu. Penampilannya harus diperhatikan banget. Kalo itu dianggap eksploitasi…. termasuk kali ya hehehe… Tapi bukan fisiknya aja kok yang dituntut baik, pengetahuannya juga,” Nawang sedikit ngeles.

Kalo diserahkan ke pribadi masing-masing emang akhirnya jadi banyak pendapat. Iya nggak sih. Itu sebabnya, ada yang menganggap itu eksploitasi, ada juga yang nggak. Dua pendapat tadi dari pengamat dan pelaku (meski masih level biasa), nah nggak ada salahnya dong kalo kita nyimak juga pendapat dari pengelola para model.

”Eksploitasi nggaknya ya tergantung jadi model atau bintang film apa dulu. Kalo modelnya memeragakan baju-baju yang terbuka. Ya itu eksploitasi namanya. Tapi kalo memeragakan busana muslimah gimana hayoo… Begitu pun sama bintang film. Kalo yang diperankan film hot, termasuk eksploitasi. Tapi kalo filmya islami bukan eksploitasi deh kayaknya,” papar Tugas Suci Priawan yang mengelola X’Pose Model Entertainment dan Indra Production Entertainment di kota Apel, Malang.

Pas ditanya sama SoDa, “Mau nggak punya istri model?“, Mas kita ini jawab, “ Nggak mau. Kalo model tuh waktunya sedikit untuk urus anak dan suami. Pinginnya dapat istri yang agamanya bagus.” Nah lho, jadi gimana tuh?

Oke, tapi yang jelas para cewek kudu nyadar bahwa apa yang dilakukannya sebagai model iklan, sinetron, bintang film, waiters di club atau diskotik, pemijat di panti pijat plus, atau malah jadi pelacur dan sejenisnya yang berpijak atas dasar kebebasan tanpa batas sejatinya adalah bentuk eksploitasi terhadap dirinya. Meski, untuk itu ia dapet duit dan ketenaran. Atau, mungkin mereka menganggap hal itu sebagi bentuk pekerjaan? Sehingga para pelacur pun merasa harus mendapat panggilan PSK alias Pekerja Seks Komersial agar terlihat lebih manusiawi dan santun?

Wah, kayaknya kudu ditatar lagi nih bahwa pekerjaan pun tetap butuh aturan. Nggak semua pekerjaan itu legal, baik secara hukum positif di negeri ini, norma masyarakat, terlebih aturan agama kita. Iya kan? Itu sebabnya, para maling, penjambret, copet, meski masuk definisi pekerjaan karena ada usaha yang dikeluarkan untuk mendapatkannya, tapi aturan hukum (negara maupun Islam) menyebutnya sebagai pekerjaan yang nggak halal alias kerjaan haram. Iya kan?

Memuliakan wanita

Kalo ditulis subjudul begini, bukan berarti wanita doang yang kudu mulia, anak laki jelas kudu mulia juga. Cuma nih, yang sering jadi objek eksploitasi emang anak cewek. Jadi, maaf ye kalo ditulis begini.

Sebenarnya apa sih profesi yang pas buat cewek? ”Bintang film dan model. Kan enak mereka bisa dapat uang banyak, meski sering juga kena gossip. Nawang juga pengen jadi model selamanya, kalo bisa sampe go internasional,” ujar Nawang mantap. Ketika Nawang ditanya, “Kalo udah punya suami gimana?” Doi jawabnya, “Kayaknya kalo sudah berkeluarga udahan.” (Ih… Nawang nggak konsisten deh jawabannya. Maklumin aja kali… masih satu SMA, jadi masih labil hehehe….)

Duh, kalo wanita banyak memamerkan auratnya di depan umum, jangan salahkan laki-laki kalo sampe kegoda. Soalnya laki-laki juga manusia. Seperti apa yang disampaikan Unga, “Apalagi yang bisa bikin cowok gerah kalo nggak cewek sama harta. Cewek mengeksploitasi tubuhnya bikin cowok jadi iseng. Wajar cowok lebih gampang kena kayak gitu. Apalagi yang bikin kucing nggak ngelirik ikan asin yang disiapin majikanya?”

Jadi gimana nih kerjaan yang cocok buat cewek tapi yang jaga kehormatannya? “Yang sesuai dengan bakatnya, berkarirlah. Jangan hanya di dalam rumah jadi ibu rumah tangga saja!” saran Priawan.

Komentar yang lucu disampaikan Abdillah, anak Unpad, ”Terserah masing-masing aja deh. Jadi wasit Liga Indonesia aja, biar sepakbola Indonesia aman, damai, dan penuh cinta. Kalo bisa baju wasitnya warna pink yah. Tapi tetep pakai jilbab ama kerudung,” katanya sambil terkekeh. Waduh!

Eh, kalo cewek cuma ngetem di rumah aja, kuno nggak sih? ”Ya iya lah, ngapain di rumah doang kalo cuma nonton Esmeralda ama pilem India. Kecuali kalo di rumahnya ngedidik anak, ngurusin suami, trus ngurusin segala kebutuhan rumah tangga, syukur-syukur bisa jadi guru ngaji buat keluarganya,” Abdillah kembali ngasih pendapatnya.

Lha, sekarang gimana nih tugas para cewek kalo jadi model syur nggak boleh karena dianggap jadi korban eksploitasi? Padahal, pengen juga kan mengekspresikan kemampuan diri? Berkiprah or berkarir boleh-boleh aja kok, asal yang halal sesuai tuntunan Islam dan tentunya nggak melecehkan ajaran Islam.

Prof. TM. Hasbiy ash-Shiddieqy dalam bukunya, Lapangan Perjuangan Wanita Islam, memaparkan tugas kaum wanita dalam membela agamanya. Pertama, kewajiban meninggikan Islam, termasuk di dalamnya kewajiban kepada Allah dan RasulNya. Caranya dengan apa? Dengan akhlak yang tinggi dan luhur, dengan ilmu dan kecerdasan, dengan amal dan gerak perjuangan.

Kedua, wanita punya kewajiban terhadap dirinya. Bisa ditempuh dengan ‘mempermak’ sisi ‘ruhani’ dan jasmaninya. Jadi, mulailah membersihkan jiwa dari segala paham dan kepercayaan yang kahayali. Upgrade juga jiwamu dengan ilmu dan kecerdasan, termasuk mendidik dan melatih diri dengan perangai-perangai yang mulia dengan budi yang baik dan menghiasi diri dengan nilai-nilai kesopanan yang luhur. Jangan lupa, bagi seorang wanita juga kudu berpenampilan menarik. Itu sebabnya, jaga juga kebersihan dan kesehatan badanmu.

Ketiga, kewajiban terhadap keluarga dan rumah tangga. Rasulullah saw. bersabda: “Wanita itu pengurus di rumah tangga suaminya, perempuanlah yang bertanggung jawab atas urusan itu.” Pokoknya seluruh urusan rumah tangga adalah tanggung jawab wanita. Laki-laki boleh juga ikut bantu kok. Tapi tugas utama untuk itu adalah para wanita.

Keempat, kewajiban terhadap masyarakat dan pergaulan umum. Wanita juga dirindukan kehadirannya oleh masyarakat. Apalagi dalam kondisi seperti sekarang ini, wanita pun bisa membantu para pria untuk menyelamatkan kaum muslimin. Intinya, para wanita juga harus berjuang untuk kepentingan Islam dan kaum muslimin melalui dakwah, tentu setelah memenuhi hak diri sendiri, hak keluarga dan rumah tangganya. Jangan sampe deh, kamu getol di luar rumah sementara tugas utama di rumah malah terbengkalai. Kagak lha yauhw!

Sayangnya, wanita sekarang lebih suka menjadi bagian yang menikmati kehidupan kapitalisme sekarang ini. Karir di luar rumah adalah nomor wahid, bila perlu mengkampanyekan Nomar, alias no married. Karena dianggap dengan menikah akan menghambat karir dan kemajuan duniawi lainnya. Walah, sadar mbak, kata Bang Rhoma juga “pesta pasti berakhir”. Atau kata Om Ahmad Albar, “Dunia ini panggung sandiwara”. Nggak ketinggalan vokalis Scorpion, Klaus Maine dengan melankolis ‘berteriak’, “Just when you make your way back home..”

Oke deh, silakan berkiprah di jalur yang kamu bisa, tapi jangan lupakan aturan Islam. Jangan mau dikomersilin, dieksploitasi, or dikorbankan oleh para pengusaha industri kapitalis yang lagi berjaya di surga mereka: kapitalisme-sekularisme. Inget lho, Islam tuh memuliakan wanita. Islam tuh sayang banget sama kaum wanita. [solihin: liputan daerah: gilang, ana]

http://sobatmuda.multiply.com/journal/item/298

Tue 20th Jun, 2006, Artikel

Tampil Syur? Malu Dong!

Nyari cewek yang berani tampil buka-bukaan di negeri ini nggak susah loh. Bukan hanya model-model nggak ngetop yang sering nampang jadi sampul buku TTS itu, mereka yang disebut ‘model papan atas’ pun dengan senang hati tampil sensual. Sebagian tentu juga muslimah. Wah, apa yang mereka cari ya?

Kalau boleh kita itung neh, deretan selebriti yang fotonya sempat bikin heboh karena dianggap terlalu berani antara lain Davina Veronica, Sophia Latjuba, Tiara Lestari, Luna Maya, Karenina, Nadya Hutagalung, dan Indah Ludiana (juga yang lainnya). Tuh kan, pokoknya nggak susah deh nyari model gituan. Itu baru yang ngetop, belum puluhan model pendatang baru lain yang rela memamerkan ‘dalemannya’ biar ikutan ngetop.

Hmm.. kira-kira kenapa sih mereka ampe nekat berpose berani gitu? Kebanyakan mereka bilang demi tuntutan profesi atau demi seni. Jadi, berpose berani dianggap lumrah-lumrah saja.
Kinaryosih yang rela 21 pose syurnya jadi konsumsi umum lewat majalah FHM misalnya, menganggap posenya itu wajar-wajar aja. Menurutnya, model harus rela memperagakan pakaian apa saja, termasuk pakaian tidur atau underware. “Saya terima tawaran ini bukan karena saya suka buka-bukaan, tapi foto ini sebagai art dengan konsep foto yang kuat. Di dunia fesyen kan biasa banget pakai baju tipis,” ujarnya ngeles (kompas.com,19/9/05)

Davina Veronica juga berujar, “Asal konsepnya jelas, nggak masalah difoto sensual.” Model artbook-nya 6 fotografer tenar ini mengaku nggak takut posenya diprotes masyarakat selama masih ‘wajar’. Tiara Lestari yang tampil telanjang di Majalah Playboy edisi Spanyol juga mengaku biasa saja berpose begitu. Doi malah bangga karena terpilih menjadi cover majalah yang udah ngetop di dunia dan difoto fotografer ternama. Na’udzubillahi min dzalik.

Haus Sanjungan?

Ada yang bilang, emang udah jamak kalo wanita itu ingin selalu tampak cantik dan serasi. Salah satu caranya dengan menonjolkan keindahan tubuhnya. Makanya kalo memakai pakaian cenderung suka menonjolkan bagian-bagian tubuhnya yang dianggap memiliki kelebihan. Diva macam Ruth Sahanaya aja mengaku tampil lebih pede setelah operasi payudara. Titi DJ juga, sampai perlu sedot lemak segala biar lebih enak dipandang.

Semua itu dilakukan karena wanita memang suka dipuji dan disanjung, baik oleh sesama wanita, atau lebih-lebih oleh kaum Adam. Ehm, siapa yang nggak gede rasa kalo dibilang cantik, seksi, manis atau sebutan-sebutan positif lainnya. Benarkah begitu? Bisa jadi.

Dan kalaupun itu benar, tetap aja ada batas-batasan gimana cewek berpenampilan, khususnya di depan publik. Buka-bukaan tak identik dengan imej cantik. Kadang malah bikin orang malu melihatnya dan bahkan jijik. Kalau mau jujur nih, wanita secara fitri bakal malu kalau auratnya kelihatan. Buktinya, meski berani pakai rok mini, pas naik angkot tetep aja mereka tarik-tarik biar paha atau underware-nya nggak kelihatan. Atau ditutupi pakai tasnya. Itu pertanda bahwa wanita sebenarnya punya malu, nggak mau bagian tubuhnya yang paling berharga kelihatan.

Coba, kalo para model panas itu disuruh jalan-jalan di mal pakai baju tipis tembus pandang atau malah nggak pakai baju, apa mereka mau? Pasti bakalan nolak. Sekali lagi, dalam lubuk hati kecilnya yang terdalam pasti ada rasa malu melakukan itu. Sebab, Allah Swt. menciptakan rasa malu sebagai bagian dari fitrah manusia.

Jadi, kalolah mereka berani berpose syur di majalah, di panggung atau saat kontes kecantikan, itu semua pasti dilakukan dengan menanggalkan rasa malu, demi kepentingan lain yang lebih besar. Apa itu? Pastinya sih demi fulus alias duit. Tapi, tentu saja nggak ada yang berani berterus terang bahwa mereka melakukan itu semua demi fulus. Bahkan ada yang difoto syur dengan bayaran murah atau malah nggak dibayar. Namun mereka mendapatkan ketenaran setelah itu. Semakin kontroversi, semakin ngetoplah dia. Nah, kalo udah ngetop, tawaran pasti bakal berdatangan dan akhirnya fulus juga bakal mengikuti. Jadi, tetap aja kan, ujung-ujungnya duit.

Yang pasti nih, bagi mereka tampil buka-bukaan membawa sensasi dan kenikmatan tersendiri. Ada pengalaman erotis yang membangkitkan libido mereka. Makanya, meski bikin kontroversi, mereka biasanya nggak bakalan kapok melakukannya. Malah cenderung ketagihan. Itu alasan lain yang tentunya nggak mereka ungkap ke publik.

Emang, nggak semua seleb rela difoto nude loh. Ambil contoh model Cathy Wilson, Nia Rahmadhani, Intan Nuraini, dll. Biar dibayar berapapun, mereka mengaku ogah difoto sensual. Alasannya: merusak citra diri dan nama baik. Lebih tepatnya lagi: merusak pasaran. Sebab, udah pasti imej cewek yang ‘ikhlas’ tampil polos itu akan jatuh. Doi biasanya serta merta dicap sebagai bintang panas, bintang porno atau bom seks. Julukan yang buruk banget (tapi kok sebagian wanita kayaknya menikmati ya?).

Dalam dunia entertainment, imej macam gitu bisa menjatuhkan pasaran. Misal pemilik produk-produk bermutu untuk kelas high end, biasanya enggan memakai mereka sebagai bintang iklan, model atau ikonnya karena citranya yang buruk di mata masyarakat. Tentu mereka takut nggak laku dong produknya. Jadi, dalam lingkaran kapitalis ini, lagi-lagi duit yang jadi patokan.

Esploitasi tuh!

Diumbarnya aurat wanita di ruang publik adalah bentuk eksploitasi wanita. Gimana nggak, bagian tubuh paling berharga wanita yang seharusnya dijaga baik-baik, malah diobral murah. Semua itu demi mendongkrak penjualan produk, memenuhi pundi-pundi kaum kapitalis. Sebab, dalam kapitalisme wanita diposisikan sebagai komoditi, brand atau ikon guna mendongkrak penjualan dan menyuburkan konsumerisme. Dan salah satu daya tarik yang ada pada wanita adalah sisi-sisi sensualitas dan seksualitas. Makanya, bagian itulah yang sengaja dijual dan menjadi ujung tombak penjualan. Sebab, urat-urat seksualitas manusia itu emang yang paling gampang dibangkitkan.

Sayang, para wanita nggak menyadari itu. Termasuk para muslimah. Mereka nggak ngeh kalo dirinya dieksploitasi oleh kalangan kapitalis untuk memuluskan cita-cita mereka mempertebal fulus. Mereka malah berdalih itu demi keindahan, mensyukuri nikmat Allah Swt. berupa tubuh indah, dll. Duh!

Imam Ridha berkata: “Allah Swt indah dan mencintai keindahan. Dia senang menyaksikan kenikmatan yang Dia karuniakan pada diri hamba-Nya. Allah tidak menyukai keburukan.”

Sebagian orang terlalu berlebihan dalam menafsirkan keindahan sehingga terperosok ke dalam lembah hedonisme. Hedonisme berarti berlebih-lebihan dalam mencintai keindahan dan penyimpangan dari daya tarik alami ini.

Imam Ali menyebut tiga tanda bagi orang yang berlebihan dalam hal memanfaatkan karunia dan kenikmatan Allah. Pertama: memakan apa yang tidak sesuai baginya, kedua mengenakan pakaian yang tidak seharusnya, dan ketiga membeli yang tidak pantas untuk dirinya. Well, jangan sampai kita termasuk di dalamnya deh.

Di mata Allah Swt wanita. yang membuka auratnya di depan umum adalah perempuan yang nggak bener karena terang-terangan membangkang larangan Allah Swt. Allah Swt berfirman: “Katakanlah kepada wanita yang beriman: hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya kecuali yang biasa nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya.” (QS an-Nur [24] 31)

Allah Swt. melarang keras wanita menampakkan perhiasannya dan memelihara kemaluannya. Apalagi jika diperjual-belikan untuk tujuan komersil. Ingat girl, wajah, bodi, dan tubuh kita ini milik Allah, bukan milik kita pribadi. Enak aja kita main ‘jual’ tanpa seizin pemiliknya. Lagian, tubuh ini tuh nggak bisa dinilai dengan uang seberapa pun besarnya. Nggak sebanding banget nilai jualnya dibanding ganjaran yang akan diperoleh kelak di akhirat. Karena itu, sadarlah, jangan mau dieksploitasi kalau yang rugi kita sendiri. [kholidah]

Seksi dengan Kebiasaan Terpuji

Pamer bodi nggak selamanya enak diliat loh. Apalagi kalau organ-organ vital sampai diumbar jadi konsumsi umum. Wah, yang ngeliat juga malu. Sebaliknya, justru orang akan menilainya murahan. Kalo memang seorang cewek memiliki kelebihan, insya Allah akan memancarlah ‘auranya’ dengan sendirinya. Nah, ‘aura’ seseorang itu akan tampak bila ia memiliki kebiasaan-kebiasaan terpuji. Seperti:

1. Tampil indah dan serasi. Nggak usah tampil ngejreng cari perhatian, yang penting selalu menjaga keserasian dalam berpakaian dan berdandan. Nggak usah mencolok, entar malah dikira tabarruj. Tapi juga jangan biarkan penampilan kelihatan kucel atau bahkan cuek bebek. Meski seseorang nggak bisa dinilai dari penampilannya, tapi sebagai muslimah kita tentunya nggak pengin dong ada anggapan kalau muslimah itu identik asal-asalan dalam berdandan. Sedikit gaya ada perlunya loh, asal masih dalam tahap-tahap yang dibolehkan syara’.

2. Merawat diri. Biarpun bodi ditutupi dengan busana muslimah, bukan berarti dibiarkan begitu saja tanpa dirawat dan dijaga. Perawatan fisik seperti kulit, rambut, kuku dan bagian tubuh lain tetep kudu dilakukan secara rutin dan telaten. Dengan tubuh yang terawat, biarpun dibungkus dengan pakaian yang menutup aurat tetap akan kelihatan auranya. Wajah akan kelihatan segar, kulit bercahaya dan tentunya nggak bakal garuk-garuk kerudung gara-gara rambut ketombean kan?

3. Menjaga kesehatan fisik. Olah raga, makan teratur dan menjaga stamina bisa kamu lakukan. Penampilan yang lincah, murah senyum, aktif dan energik menunjukkan pribadi yang menyenangkan. Beda dengan yang tampak lemas, ogah-ogahan, jutek atau bahkan seperti nggak punya semangat hidup. Ih, nggak seger banget memandangnya kan?

4. Bertutur kata yang baik, sopan, dan lemah lembut. Tutur bahasa yang bernas menunjukkan isi otak seseorang. Dan biasanya semakin kelihatan kecakapan pola pikirnya, semakin dihargai seseorang. Beda dengan orang yang banyak bicara tapi omong kosong, orang yang sedikit bicara tapi bermanfaat pasti akan lebih dihargai dan dihorm
ati. [kholidah]

http://sobatmuda.multiply.com/journal/item/244

No Porn