Itu bisa diakses lewat televisi, DVD, komik, internet, bahkan ponsel.
Televisi. Kotak ajaib satu ini sepertinya sudah biasa banget ada di setiap rumah. Bahkan, mungkin aja televisi di rumah kamu tidak cuma satu. Ada yang punya dua atau tiga televisi sekaligus. Mungkin, kamu termasuk orang yang hobi banget nonton televisi. Apalagi, sekarang makin banyak muncul televisi swasta yang berarti makin banyak juga acara-acara yang menarik.
Bosan lihat televisi? Aih, tenang aja. Ada DVD atau video game yang siap menanti. Masih bosan juga? Santai, main internet atau cukup bertelepon ria dengan teman sepertinya cukup untuk bikin fresh pikiran. Ya gitu deh, sekarang ini anak muda seperti kita memang dimanjakan banget dengan aneka teknologi baru. Semuanya siap memberi hiburan untuk kita.
Tapi, pernah terpikir nggak sih, kalau di balik segala menyenangkan itu ada bahaya yang menunggu tanpa kita sadari. Bahaya itu bernama pornografi. Kalau kamu pernah mendengar soal rancangan undang-undang yang membahas soal pornografi dan pornoaksi dan sekarang lagi digodok di DPR, ini bermula dari keinginan untuk menangkis aksi pornografi yang makin merajalela.
Yang bikin ngeri, kita bisa dibuat nggak sadar kalau kita lagi terancam dengan bahaya pornografi. Bayangin aja, lewat media-media yang biasa kita gunakan itu, kita menghadapi bahaya pornografi itu. Memang sih, ada sisi positif dari aneka media itu, tapi ‘’Banyak pula yang muatannya ‘bermasalah’,'’ kata Ibu Nina M Armando, seorang pengamat media, yang juga pengajar di FISIP UI ini.
Bermasalah? Maksudnya, ada muatan seks dan pornografi, ada unsur kekerasan, bahasa kasar, dan iklan yang dapat mendorong konsumerisme. Kata Ibu Nina di sebuah seminar di Jakarta belum lama ini, kalau hal-hal seperti itu dibiarkan terus ini bakal berdampak buruk terhadap perilaku remaja. Seperti yang diungkap pada teori imitasi bahwa media bisa membuat penontonnya melakukan peniruan seperti apa yang disajikan. Kita bisa terpengaruh lewat sikap dan perilaku, kita juga terpengaruh lewat cara pikir dan pengetahuan.
Remaja dan anak
Nah, siapa yang paling gampang terpengaruh dengan media seperti itu? Ya, siapa lagi, remaja dan anak-anak. Contoh yang paling gampang, coba deh kalau yang punya adik kecil di rumah. Amati sikapnya sehabis menonton televisi yang menayangkan kartun pahlawan super atau sinetron yang penuh dengan sumpah-serapah. Kalau saja, adik kamu itu tiba-tiba ikut ciat-ciat mengikuti aksi pahlawan super atau dia langsung rajin melontarkan ‘kata mutiara’ alias kata-kata kasar, ya selamat deh. Itu artinya dia sudah terkena pengaruh buruk media.
Kenapa bisa begitu? ‘’Ini karena mereka belum bisa berpikir kritis, cenderung mengimitasi (meniru) dan mudah terpengaruh teman sebaya,'’ ujar Bu Nina. Jadi, begitu muatan porno itu diperoleh, hal-hal ‘ngeres’ itu tertanam dulu di pikiran kita, kemudian baru disalurkan lewat sikap dan perilaku yang aneh dan ajaib itu.
Ibu Wirianingsih, Ketua Umum Aliansi Selamatkan Anak Indonesia (ASA-Indonesia), juga menganggap televisi adalah kotak ajaib yang memang harus diwaspadai. ‘’Karena daya jangkauannya yang luas dan mudah diakses semua golongan usia, apalagi dengan tayangan film yang beragam tanpa melihat jam tayang, bisa dibayangkan bagaimana dampaknya terhadap anak dan remaja,'’ katanya.
Selain televisi, VCD, DVD serta video game, kita juga gampang banget menemukan gambar porno dan muatan berbau esek-esek itu lewat buku komik. Bahkan, kita bisa mendapat komik seperti itu di pinggir jalan.
Belum lagi dengan internet, USB, dan telepon genggam. Dengan kemajuan teknologi itu, ungkap Bu Nina, cenderung lebih mudah mendapatkan muatan pornografi, baik melalui browsing internet, kamera ponsel maupun USB. Sedangkan untuk kalangan menengah ke atas, ujar Bu Wirianingsih, pengaruh televisi masuk urutan nomor tiga setelah media internet dan telepon seluler (HP).
Kenapa HP? Coba deh, ingat-ingat kalau sekarang ini mudah saja berkirim gambar lewat MMS. Iya nggak sih?
Penyimpangan seksual
Lantas, apa yang terjadi kalau kita terus-menerus mengakses media porno itu? Begini ceritanya, Allah SWT telah menciptakan empat cairan dalam otak manusia. Cairan ini akan bereaksi jika ada rangsangan seks (seperti yang terjadi di media porno itu) dan ini lazimnya terjadi pada orang dewasa yang hendak berhubungan suami istri.
Apabila ini terjadi pada anak-anak dan remaja yang belum waktunya sudah mendapat rangsangan serupa, yang bakal muncul adalah kemungkinan timbulnya rasa ketagihan. Apalagi, mereka belum punya tempat penyaluran. Akhirnya, mereka melakukan penyimpangan perilaku seksual. Akibatnya, seperti yang banyak kita dengar. Ada yang hamil di luar nikah, ada yang berhubungan seks sebelum menikah.
Berdasarkan penelitian Yayasan Kita dan Buah Hati, 80 persen anak usia 9-12 tahun di kawasan Jabodetabek sudah pernah mengakses materi pornografi melalui internet. Dan berdasarkan data BKKBN pada enam kota di Jawa Barat tahun 2002, sebanyak 39,65 persen remaja usia 15-24 tahun pernah berhubungan seks sebelum menikah. ‘’Ini sangat berbahaya bila dibiarkan. Puncaknya akan terjadi seperti kasus Cianjur,'’ kata Ibu Wirianingsih. Kasus Cianjur itu mencuat ketika ada berita bahwa sejumlah siswa SMA di daerah tersebut konon berhubungan seks di kelas dan adegan itu disebar dalam bentuk VCD. Tentu saja, kita tidak mau bakal ada cerita Cianjur II, kan?
Aksi Menangkis
So, bagaimana cara yang pas menghadapi ini?
* Pilih media.
Kita pintar-pintar deh memilah media dan muatan yang pas untuk kita. Kalau kita membiarkan diri kita hanyut dengan muatan yang memang belum pas untuk umur kita, tahu kan konsekuensi yang kita hadapi. Masih banyak media yang sehat dan jauh lebih berguna, semisal buku. Boleh juga aktif mengikuti kegiatan-kegiatan yang bersifat positif.
* Konsultasi.
Jangan juga malu untuk ngobrol dengan orang tua tentang seks. Atau cari juga konsultan atau lembaga yang bisa dipercaya untuk membicarakan soal ini.
* Satu televisi
Untuk meminimalkan dampak buruk media, Ibu Nina menyarankan cuma ada satu televisi di rumah. Jangan juga bikin ruang televisi terlalu nyaman.
* Ruang publik.
Lebih baik televisi dan komputer diletakkan di ‘ruang publik’ di rumah. Biar langsung ketahuan, kalau ada yang lagi ‘aneh-aneh’. * Perbanyak buku di rumah.
(yus )
http://www.republika.co.id/koran_detail.asp?id=253721&kat_id=41