Suatu hari yang cerah di sebuah negeri kepulauan yang luas nan subur, di antara dua benua dan dua samudera, dua anak manusia terlibat obrolan yang seru tentang sebuah isu penting yang sedang hangat-hangatnya dibicarakan hampir semua orang. Waktu mengalir begitu saja, demikian pula pembicaraan mereka.
“Ngapain sih repot-repot mikirin pornografi dan pornoaksi?”
“Lho, kok pake nanya segala? Memangnya kenapa kalau saya mau mikirin? Nggak ngerugiin sampeyan, toh?”
“Kata siapa nggak rugi? Kalau sampai dilarang bakal banyak yang rugi, tau!”
“Mungkin juga. Tapi kalau tidak dilarang bakal lebih banyak lagi yang rugi!”
“Ah, yang bener!”
“Kamu juga yang bener dong!”
“Aku ngomong serius, lho!”
“Emang siapa yang ngajak guyon?”
“Kalau tidak boleh buka aurat, lalu nanti seniman tidak boleh menggambar tubuh telanjang lagi? Tidak boleh memahat patung tanpa busana lagi? Desainer tidak boleh merancang baju-baju minim lagi?”
“Bagus, kan?”
“Saya serius!”
“Lha saya juga serius! ‘Kan masih banyak keindahan lain di dunia ini yang bisa dijadikan inspirasi bagi karya seni. Memang tubuh telanjang itu indah tapi memamerkannya secara bebas itu tidak bertanggung jawab, Mas! Bagaimana kalau yang melihatnya jadi terangsang?”
“Salah dia sendiri!”
“Kok salah? Justru salah kalo dia nggak terangsang. Berarti dia nggak normal!”
“Itu kan karya seni! Keindahan!”
“Yang bilang nggak indah itu siapa, hah?? Indah sih jelas indah. Tapi nggak halal. Lagipula resikonya terlalu besar. Kalaupun ada yang tidak terangsang, manusia macam itu minoritas banget!”
“Jadi perempuan tidak boleh buka aurat?”
“Jelas!”
“Tapi perempuan kan ingin nampak cantik?!”
“Jelas!”
“Saya serius!”
“Saya juga serius, monyong! Wajar kalau perempuan ingin nampak cantik, tapi kan tidak perlu dengan membuka aurat. Dengan menutup aurat pun mereka bisa cantik, kok!”
“Ah, masak??”
“Mas, manusia itu tergantung dalemnya, bukan luarnya. Kalau dari dalam sudah cantik ya mau digimanain juga cantik. Sebaliknya, kalau dari dalam sudah jelek ya mau diapa-apain juga tetap aja nggak mutu!”
“Jadi kalau laki-laki terangsang, itu salah perempuan?”
“Ya nggak selalu begitu. Tapi kalau auratnya terbuka, ya berarti perempuannya juga salah.”
“Itu kan namanya melemparkan kesalahan pada orang lain. Perempuan kan tidak salah apa-apa. Kalau ada laki-laki yang terangsang itu kan salah dia sendiri. Perempuan sendiri biasa-biasa saja melihat laki-laki pake celana pendek, misalnya.”
“Itu cara pikir yang tidak adil, Mas!”
“Kok bisa?”
“Ya jelas. Hormon seksual laki-laki itu jauh lebih banyak daripada perempuan. Tambahan lagi, laki-laki itu diberi kecenderungan untuk lebih agresif daripada lawan jenisnya. Jadi sebuah godaan birahi yang dianggap kecil oleh perempuan bisa jadi terasa sangat besar bagi laki-laki. Perempuan bisa saja cuek melihat laki-laki pake celana pendek, tapi kalau sebaliknya wah susah…”
“Lalu salah siapa dong?”
“Ya bukan salah siapa-siapa. Memang begitu keadaannya.”
“Tidak bisa ditawar-tawar?”
“Tawar saja sana sama Tuhan! Kan Dia yang menciptakan laki-laki dan perempuan beserta spesifikasinya masing-masing. Protes saja, kenapa laki-laki dikasih hormon seksual sedemikian banyak. Emangnya enak terangsang sepanjang hari?”
“Kok sepanjang hari?”
“Sampeyan laki-laki atau bukan?”
“Saya laki-laki, tapi saya tidak merasa dirongrong oleh rangsangan seksual sepanjang hari.”
“Kan banyak perempuan yang tidak menutup aurat di jalan-jalan?”
“Tapi saya tidak terangsang kok!”
“Yang beneeeeer….??”
“Bener!”
“Berani sumpah? Berani dites pakai lie detector?”
“Kenapa harus begitu?”
“Berani, nggak???”
“KENAPA???”
“BERANI ATAU TIDAK???”
Waktu terus berjalan, hari semakin larut. Obrolan dua orang sahabat di waktu senggang memang bisa menghanyutkan siapa saja, apalagi kalau ditemani oleh secangkir teh manis hangat dan beranda yang nyaman. Sementara itu, manusia-manusia pengumbar aurat terus berseliweran kesana-kemari dengan penuh sukacita. Umat manusia ditertawakan karena kenaifannya.
Sumber Asli: http://akmal.multiply.com/journal/item/166