Playboy tak sesuai dengan agama dan adat istiadat Bali.
DENPASAR — Indonesia adalah negara dengan wilayah geografis luas, terbentang dari Sabang sampai Merauke. Tapi tak tak satu jengkal pun tanah di Indonesia yang rela menerima kehadiran Erwin Arnada dan kawan-kawan yang sedang mengembangkan jaringan industri seks Playboy. Tidak juga Bali.
Ahad (11/6), belasan tokoh Hindu menggelar pertemuan membahas pindahnya kantor Playboy edisi Indonesia ke Pulau Dewata. Hasilnya, mereka menolak keberadaan ikon pornografi itu. ‘’Kami sudah berbicara dan berdiskusi, serta sudah menyampaikan sikap penolakan [kehadiran kantor Playboy di Bali] kepada gubernur Bali,'’ kata Ketua Forum Pemerhati Hindu Dharma Indonesia (FPHDI), Dewa Ngurah Swastha, kepada Republika, di Denpasar, Senin (12/6)
Tokoh-tokoh yang hadir dalam pertemuan yang digagas FPHDI itu antara lain Ketua FPHDI, Dewa Ngurah Swastha; sejarawan Bali, Prof Dr AA Putra Agung; Ketua PHRI Bali, Tjokorda Raka Ardana Sukawati (Tjok Ace); staf pengajar FK Universitas Udayana, Prof Dr LK Suryani; Kadis Pariwisata Bali, Drs I Gede Nurjaya MM; dan Kadis Kebudayaan Bali, Drs Nyoman Nikanaya yang juga selaku pengamat Hindu.
Menurut Swastha, dari aspek hukum, izin terbit majalah Playboy di Jakarta, bukan di Bali. Swastha juga menilai Playboy tidak sesuai dengan semangat masyarakat Bali yang menjunjung tinggi nilai-nilai agama dan budaya. ‘’Kalau keberadaan kantor Majalah Playboy di Bali kita toleransi, dalam jangka panjang akan dapat merusak moral generasi muda,'’ ujar Swastha.
Ganti nama
Playboy, lanjut Swastha, sudah ditolak di Jakarta. Bahkan, kata dia, Kapolda DKI Jakarta sudah melarang majalah itu beredar di Jakarta. Pelarangan itu, kata dia, didasari pertimbangan matang. Pihak pengelola Playboy, kata Swastha, mengaku akan memuat masalah-masalah kebudayaan. Tapi, kata dia, Playboy tetaplah Playboy. Bila Playboy ingin memuat masalah kebudayaan, Swastha mengajurkan namanya diganti.
Bila Playboy ganti nama, Swastha menilai masalahnya selesai dan akan dipersilakan buka usaha di Bali. ‘’Orang Bali juga ingin sejahtera, tapi tidak dengan merusak diri. Bali tidak pro-pornografi,'’ tandasnya. Seperti diberitakan sebelumnya, sejak terbitan edisi kedua, pihak Playboy mencantumkan Jl Tukad Citarum 99 sebagai alamat kantor barunya di Bali. Mereka mencantumkan alamat itu berada di kawasan Renon.
Tapi Lurah Renon, Ketut Gandhi Citra, mengatakan pihak Playboy asal catut. Sebab di Renon tidak ada Jl Tukad Citarum 99. Jalan itu terletak di Kelurahan Panjer. Di kawasan Panjer pun, ternyata kantor Playboy tidak ada. Kantor itu fiktif. Gandhi menilai Playboy ingin mendompleng Bali, yang selama ini dicitrakan menolak RUU APP. Tapi dia menegaskan,'’Playboy tidak ada manfaatnya bagi Bali.'’ (Republika, 10/6).
Sementara itu, mantan anggota DPRD Bangli, Jero Wijaya, juga menilai Playboy tidak membawa keuntungan bagi Bali, malah merugikan. ‘’Dari namanya saja sudah jelas, yakni Playboy, menggambarkan yang tidak baik,'’ katanya di Denpasar, kemarin. Ketua Majelis Ulama Bali (MUI) Bali, H Hasan Ali, mengaku dapat memahami sikap tokoh-tokoh masyarakat Bali yang menolak kehadiran kantor Playboy di Bali. Sebab bila kantor Playboy sampai berdiri, akan memunculkan citra bahwa Bali merupakan tempat berlindung yang aman bagi pelaku pornografi dan pornoaksi. ‘’Padahal Bali dikenal sebagai daerah yang sangat agamis,'’ katanya.
(aas )
http://www.republika.co.id/koran_detail.asp?id=252063&kat_id=3
Gubernur Made Beratha: Playboy Kurang Cocok di Bali
Gede Suardana - detikcom
Denpasar - Setelah kalangan pemuka Hindu menolak Playboy, kini giliran Gubernur Dewa Made Beratha yang keberatan. Menurutnya, jangan mentang-mentang Bali menolak RUU APP, lalu Bali dinilai menerima pornografi.
Berikut petikan wawancara wartawan dengan Made Beratha tentang Playboy usai sidang paripurna penyampaian pandangan umum fraksi terhadap laporan keuangan APBD Bali 2005 di DPRD Bali, Jalan Dr Kusumaatmadja, Denpasar, Selasa (12/6/2006):
Pendapat terhadap majalah Playboy di Bali bagaimana?
Saya terus terang, kurang cocok di Bali itu. Kita adalah masyarakat yang kental dengan budaya. Sedangkan Playboy itu kesannya porno. Jangan dihubungkan kita anti RUU Pornografi lalu dihubungkan kita menerima pornografi. Sudah tidak cocok itu.
Mereka bilang Playboy tidak porno?
Itu yang akan kita lihat. Memang sekarang tidak ada izin. Izin tidak ada, pemerintah tidak bisa membredel kayak dulu. Sekarang kan bebas. Itu yang kita pelajari, jangan merusak masyarakat Bali.
Apakah Pemprov Bali akan menolak Playboy?
Kalau ditolak, siapa yang izinkan? Tidak ada yang mengizinkan kan. Nah itu sedang kita pelajari bagaimana mekanismenya. Jangan kalau di Jakarta ditolak, dibawa ke sini. Repot itu.
(nrl)
Sumber : Detik.com
Tokoh-tokoh Bali Tolak Playboy
Laporan: Ahmad Baraas
Denpasar-RoL– Keinginan pemilik majalah Playboy untuk memindahkan kantornya ke Bali dikrtitisi para tokoh setempat. Mereka menolak kehdairan kantor majalah itu ke Bali, karena Playboy dinilai sebagai majalah dengan stigma majalah porno.
“Kami sudah berbicara dan berdiskusi, dan juga sudah menyampaikan sikap penolakan kami kepada Gubernur Bali,” kata Ketua Forum Pemerhati Hindu Dharma Indonesia (FPHDI), Dewa Ngurah Swasta.
Kepada Republika, Senin (12/6), Ngurah Swasta menjelaskan, bahwa pada hari Ahad (11/6), belasan tokoh-tokoh Hindu di Bali telah menggelar pertemuan membahas pemindahan kantor majalah Playboy ke Bali. Kesimpulannya jelas Swasta, mereka yang hadir dalam pertemuan menyatakan menolak pemindahan kantor majalah itu ke Bali.
Tokoh-tokoh yang ikut hadir dalam pertemuan yang digagas oleh FPHDI itu antara lain Ketua FPHDI Dewa Ngurah Swastha SH, sejarawan Prof Dr AA Putra Agung, Ketua PHRI Bali Tjokorda Raka Ardana Sukawati (Tjok Ace), dan staf pengajar FK Universitas Udayana Prof Dr LK Suryani. Hadir pula Kadis Pariwisata Bali, Drs I Gede Nurjaya MM, Kadis Kebudayaan Bali, Drs Nyoman Nikanaya selaku pengamat Hindu.
Menurut Swasta, dari aspek hukum, izin terbit majalah Playboy itu diterbitkan di Jakarta bukan di Bali. Seharusnya, kalau dia mau pindah, terlebih dahulu harus mengurus izinnya, termasuk izin lokasi di Bali. Sedangkan dari aspek budaya, majalah Playboy tidak sesuai dengan semangat masyarakat Bali yang menjunjung tinggi nilai-nilai agma dan budaya.
“Kalau kita tolerir keberadaan kantor majalah Playboy di Bali, dalam jangka panjang akan dapat merusak moral generasi muda,” kata Swastha.
Majalah Playboy lanjut Swastha, sudah ditolak di Jakarta, bahkan Kapolda DKI sudah melarang majalah Playboy beredar di Jakarta. Sikap itu katanya, tentu sudah didasari oleh pertimbangan yang matang. Kalau Jakarta sudah menolak lanjut Swastha, mengapa Bali harus bersikap berbeda. “Bali tidak mau dibenturkan dengan daerah lain.”
http://www.republika.co.id/online_detail.asp?id=252037&kat_id=23
Anak Muda Bali Demo Tolak Playboy
Gede Suardana - detikcom
Denpasar - Sekitar 30 anak muda yang tergabung dalam Aliansi Hindu Muda Anti Media Porno berdemonstrasi menolak Playboy Indonesia. Mereka berdemo dengan mengenakan baju adat Bali.
Aliansi itu merupakan gabungan beberapa organisasi seperti Forum Intelektual Muda Hindu Dharma, Paguyuban Teruna-teruni Bali, dan Putra-putri Kampus Ajeg Bali.
Aksi mereka dipusatkan di depan kantor Pemkot Denpasar, Jalan Udayana, Denpasar, Selasa (13/6/2006).
“Majalah Playboy Indonesia masih menuai kasus di Indonesia. Kami meminta manajemen Playboy tidak memindahkan konflik tersebut ke Bali,” ujar pendemo.
Aksi ini berlangsung tertib. Tidak ada pamflet berisi tuntutan mereka. Yang ada hanyalah spanduk yang bertuliskan aliansi anak-anak muda itu. (nrl)
Sumber : Detik.com
Inkonsisten Bali
Bali adalah salah satu daerah yang sangat keras menentang RUU APP dengan berbagai macam alasan. Bali juga mengancam keluar dari NKRI bila RUU APP disahkan (apa benar ?)
Secara garis besar Bali menolak RUU APP dikarenakan RUU APP melarang warga negaranya untuk berpakaian seronok yang memamerkan sensualitas tubuh. Tapi sekarang Bali juga menolak Playboy yang menjual sensualitas tubuh wanita demi para lelaki yang haus untuk memuaskan syahwatnya.
Koq terjadi kontradiksi ? Kira-kira apa yang menyebabkan hal ini ?
Apa karena kebingungannya dalam menyikapi RUU APP dan Playboy ? Apa karena ego ? Apa karena ketidakpahaman dalam memahami tujuan RUU APP ? Apa sebagian orang Bali saja yang menolak RUU APP tapi mendominasi suara orang Bali ?
Lebih porno mana, manusia-manusia di pantai Kuta atau Playboy Indonesia ?
Kalau Bali sudah sadar bahaya pornografi itu, maka mulai sekarang tolak kantor Playboy di Bali, berpakaianlah yang sopan yang tidak memamerkan tubuh seperti dalam majalah Playboy. Buat apa menolak Playboy kalau perilaku di Bali lebih seronok dibandingkan playmate playboy.
Dukung RUU APP agar pornografi lenyap dari bumi Indonesia. Mari tuntut bersama-sama majalah-majalah seronok yang menjual syahwat.