Anti Pornografi

RUU APP BUKAN untuk menyeragamkan budaya,
BUKAN untuk menyeragamkan dalam berpakaian,
BUKAN untuk memaksakan aturan suatu agama.
RUU APP dapat mengangkat suatu kaum/suku yang masih berpakaian / pola hidup
yang tertinggal, dan BUKAN untuk menangkapnya. Kenapa ?
Karena mereka bukan dengan sengaja mempertontonkannya.
Tapi ini merupakan tugas kita untuk menjadikan mereka
lebih beradab dalam era globalisasi ini.

RUU APP ini justru untuk mendefinisikan Pornografi dan Pornoaksi,
karena TIDAK ADA satupun UU yang jelas mendefinisikan pornografi.
RUU APP ini hanya meminta warga negaranya berpakaian secara sopan,
TIDAK untuk memancing birahi lawan jenisnya (baik laki-laki dan perempuan),
TIDAK ada pemaksaan untuk berpakaian model Islami/Arab/Taliban.
RUU APP melindungi kaum perempuan Indonesia dari
pihak-pihak yang justru merendahkan kaum perempuan
dengan dijadikan objek yang laku dijual demi kaum laki-laki hidung belang.
RUU APP melindungi moral anak-anak kita dari bahaya pornografi
demi membangun masa depan bangsa dengan keilmuannya
bukan dengan mempertontonkan tubuhnya atau bahkan melacurkan dirinya.

Janganlah kalian EGOIS karena saat ini
kalian dapat menikmati keindahan tubuh perempuan.
Janganlah kalian EGOIS karena saat ini banyak job order
untuk tampil dan terkenal dengan mempertontonkan tubuh kalian.
Janganlah kalian mengeruk profit dari mempertontonkan tubuh perempuan
yang justru menghinakan/merendahkan kaum perempuan.

Lihatlah masa depan bangsa…
lihatlah masa depan anak-anak bangsa yang masih lucu,
lugu dan mereka sedang giat belajar.
Jangan ganggu dan usik mereka oleh media pornografi.
Jangan hinakan harga diri mereka karena
ibunya/ayahnya mempertontonkan keindahan tubuhnya.



Selamatkan anak-anak kita dari bahaya pornografi !

Sun 25th Jun, 2006, Artikel

Zina dan Penyakit Menular

Kontribusi dari Aziz Hamid

‘’Wahai kaum Muhajirin. Ada lima perkara jika telah menimpa kalian, maka tidak ada kebaikan lagi bagi kalian. Dan aku berlindung kepada Allah SWT semoga kalian tidak menemui zaman itu.

Lima perkara itu ialah (salah satunya) tidak merajalela praktik perzinaan pada suatu kaum, sampai mereka berani berterus-terang melakukannya, melainkan akan terjangkit penyakit menular dengan cepat, dan mereka akan ditimpa penyakit-penyakit yang belum pernah menimpa umat-umat yang lalu.'’ (HR Ibnu Majah).

Ketika Islam turun, Rasulullah SAW telah memperingatkan akan bahaya zina dan akibatnya. Perbuatan zina biasanya terjadi tak serta-merta. Ada aktivitas taqrabu zina (mendekati zina) atau muqadimatu zina (pembukaan zina) terlebih dulu. Misalnya, memunculkan hasrat pada lawan jenis seperti bersentuhan, menggoda lawan jenis, berciuman, pelukan, gerakan erotis, dan sebagainya.

Perilaku ini sering dilakukan kebanyakan kaum muda masa kini yang sedang pacaran. Rasulullah SAW pernah berkata kepada Ma’iz –ketika ia ingin disucikan (dihukum rajam) karena telah melakukan perbuatan zina– dengan ucapan, ‘’Sebelumnya engkau mungkin telah menciumnya.'’

‘’Dan janganlah kamu mendekati zina. Sesungguhnya zina itu merupakan perbuatan yang keji dan tindakan yang buruk.'’ (QS Al-Isra (17): 32). Thabrani dan Al Hakim meriwayatkan, Rasulullah SAW pernah berkata bahwa bila perzinaan dan riba telah melanda suatu negeri, maka penduduk negeri itu telah menghalalkan turunnya azab Allah SWT atas mereka sendiri.

Perbuatan serupa tapi lebih berbahaya dari zina ialah liwath (homoseksual). Dampak negatif yang ditimbulkan perbuatan homoseksual, sebagaimana perkataan jumhur ulama ijma’ dari para sahabat dikatakan, ‘’Tidak ada satu perbuatan maksiat pun yang kerusakannya lebih besar dibanding perbuatan homoseksual. Bahkan, dosanya berada persis di bawah tingkatan kekufuran, bahkan lebih besar dari kerusakan yang ditimbulkan tindakan pembunuhan.'’

Sekarang wabah penyakit AIDS menular begitu cepat. Dalam jangka waktu maksimal sepuluh tahun, pengidap AIDS dipastikan berkalang tanah alias mati. Belum ada obat ampuh penyembuh penyakit akibat human immuno deficiency virus (HIV) ini. Tidakkah kita menyadari bahwa penyakit menular yang belum pernah dijumpai umat masa-masa dahulu itu kemungkinan besar di antaranya AIDS, karen a saat ini diakui atau tidak zina dan liwath telah merajalela.

Masyarakat sudah mulai terbiasa dengan hubungan di luar nikah dan hubungan sesama jenis. Penyakit menular dan bencana lain yang merupakan azab Allah SWT bisa dicegah bila dalam masyarakat tampak geliat aktivitas amar ma’ruf nahi munkar. Jika seruan kebaikan dan pencegahan kemungkaran terabaikan, maka azab Allah SWT siap menanti.
(Jamaludin Wahid )

http://www.icmi.or.id/ind/content/view/446/1/

Sun 25th Jun, 2006, Berita

Setengah Juta WNI Terinfeksi HIV/AIDS

Laporan: Asan Aji

Malang-RoL– Pakar Ginekologi dan konsultan seks dr Boyke Dian Nugraha, SpOG, MARS menyebutkan bahwa penderita HIV/AIDS di Indonesia mencapai setengah juta atau 500 ribu orang. Salah satu penyumbang terbesar adalah akibat perselingkuhan.

‘’Berdasarkan data tersebut, Indonesia sekarang sudah menggeser posisi Thailan. Sebab, Indonesia telah menjadi episentrum HIV/ADIS,'’ jelas pakar Ginekologi iitu saat menjadi pembicara Ceramah Populer bertajuk “Seks, Perselingkuhan dan Keharmonisan Rumah Tangga” di Graha Medika Universitas Brawijaya (Unibraw) Malang, akhir pekan kemarin.

Dijelaskan dia bahwa perselingkuhan itu marak mulai dari kalangan remaja hingga orang dewaasa. Disebutkan dia bila remaja putri yang hamil karena kecelakaan itu sekitar 68 persen.

Sedangkan remaja yang menggunakan/kecanduan narkoba sekitar 75 persen. Tragisnya, mereka semua berasal dari keluarga yang orangtuanya berselingkuh serta cerai.

Menurut dia, perselingkuhan itu terjadi pada suami, setelah istrinya berusia 40 tahun keatas. “Untuk tingkat perselingkuhan, lelaki tetap lebih tinggi. Perbandingannya, 2 dari 3 orang lelaki berselingkuh. Sedangkan perempuan 2 banding 5,” jelas dokter yang biasa berperaktek di Instalasi Diklat RS Kanker Dharmais Jakarta ini.

Ditegaskan dia bahwa perselingkuhan tidak murni karena faktor seks berdasarkan hasil penelitian lebih keccil dibandingkan faktor komunikasi. Sebab, 98 persen peselingkuhan karena faktor komunikasi.

“Suami-istri yang komunikasinya tidak terbangun dengan baik menjadi penyebab perselingkuhan. Itu Persentasenya mencapai 50%. Kalau faktor seks hanya 20-30% . Sedangkan sisanya karena faktor lain,” terang dia.

http://www.republika.co.id/online_detail.asp?id=251800&kat_id=23

Sun 25th Jun, 2006, Berita

DPRD Riau Minta Penyuguh Tarian Telanjang Ditutup

Chaidir Anwar Tanjung - detikcom

Pekanbaru - Tempat hiburan Riau Plaza (RP) Karaoke diketahui menyuguhkan tontonan tarian telanjang bagi tamunya. Kabar ini pun membuat wakil rakyat berang. DPRD Riau minta tempat hiburan itu ditutup.

Penegasan itu disampaikan Sekretaris Fraksi PKS DPRD Riau, Mukti Sanjaya saat dihubungi detikcom, Jumat (19/5/2006) terkait maraknya tempat hiburan disusupi tarian telanjang.

Menurut Mukti, kehadiran tarian telanjang yang merambah hiburan di Pekanbaru, dianggap telah mengangkangi visi Riau tahun 2020 yang dijadikan pusat budaya Melayu se-Asia Tenggara. Kebudayaan Melayu sendiri memiliki nilai-nilai religius serta tatanan budaya yang sopan dan beradat.

“Tarian telanjang itu jelas tidak sopan dan tidak beradat, serta melanggar norma-norma agama. Bila memang di RP terbukti adanya tarian telanjang, kami sarankan kepada pihak pengusahanya untuk segera hengkang saja dari Riau ini. Jangan mereka menanamkan investasi dengan cara merusak moral masyarakat Riau,” ketus Mukti.

Menurut Mukti, sebelum hiburan tarian telanjang terus meluas di sejumlah tempat hiburan, hendaknya Polda Riau segara menurunkan timnya untuk melakukan razia ke sejumlah karaoke.

“Kalau memang di RP ada tarian telanjang, bagi saya tidak ada ampun. Tempat hiburan itu harus segara ditutup. Kita tidak main-main, bila masyarakat memiliki bukti kuat, berikan pada kami. Kita akan bersikap tegas menutup dan mengusir pihak pengelola hiburan yang merusak moral itu,” tegas Mukti.

Hadirnya tarian telanjang itu, lanjut Mukti, jelas akan merusak moral genarasi muda di Riau. Bila tarian telanjang tidak segera mendapat tanggapan dari pihak pemerintah daerah, dikhawatirkan sejumlah tempat hiburan lainnya juga akan menyediakan fasilitas hiburan tarian telanjang.

“Ini sangat berbahaya buat generasi kita ke depan. Sebab wanita telanjang menari di depan tamunya bukan merupakan tatanan budaya kita. Kalau memang pihak pengelola ingin berbisnis tarian telanjang, silakan saja angkat kaki dari Riau ini,” cetus Mukti.

Belakangan ini tarian telanjang dengan mudah dinikmati di sarana hiburan RP yang masih satu gedung dengan Hotel Quality di Jl Riau, Pekanbaru. Untuk mengundang dua wanita penari telanjang, harganya Rp 500 ribu per jam. Wanita penghibur ini juga bisa sekaligus diajak berkencan dalam dalam ruangan karaoke.

Namun pihak pengelola RP, Daniel Purba, membantah bila sarana hiburannya sering dijadikan ajang tarian telanjang. Dia juga menyebut, pihak manajemen RP sama sekali tidak melayani tarian telanjang tersebut. (sss)

detik.com

Wed 21st Jun, 2006, Artikel

H. Husein Umar: Moral Umat Makin Bergeser

Laporan: Adhes SS

Umat Islam, kini menghadapi tantangan yang sangat berat, Terlebih menghadapi zaman yang berubah, sehingga secara langsung dapat mempengaruhi beragam sendi kehidupan masyarakat yang mau tak mau akan memunculkan dampak negatif yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya.

“Maraknya tayangan pornografi, pornoaksi, seks bebas, aborsi adalah bagian dari masatah yang tengah dlhadapl umat, Dari tahun ke tahun, problematika itu semakin meningkat saja, baik dari segi kualitas maupun kuantitas. Pergeseran moral dan akhlak ini jelas sangat memperihatinkan kita. Karena itu, sudah saatnya para juru dakwah menyiapkan strategi baru untuk menghadapi perkembangan zaman yang semakin lama semakin merusak perkembangan jiwa umat Islam, khususnya generasi muda,” demikian dikatakan Sekretaris Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) H. Husein Umar di Gedung Dewan Dakwah, Jalan Kramat Raya, Jakarta Pusat, dalam acara halal bi halal dan.silaturahim Keluarga Besar DDII.

Husein Umar mengakui, selama ini DDII banyak bergelut dengari dunia dakwah. Dengan dakwah Islam itu diharapkan dapat mengerem kecenderungan negatif yang ada di masyarakat kita. Pihaknya bersama sejumlah elemen lain, tidak pernah henti-hentinya untuk mendesak kepada pihak berwajib (aparat penegak hukum) untuk menindak tegas mereka yang bertanggungjawab terhadap kemerosotan akhlak umat.

“Kami sudah sampaikan keluhan itu kepada Kapolri dan pejabat-pejabat lainnya. Akan tetapi hingga kini tanggapannya belum seperti yang diharapkan. Ini bukti, law enforcement kita masih sangat lemah,” ujarnya. Menyikapi situasi itu, ia meminta agar segenap umat tidak patah semangat dan terus berjuang sekuat tenaga untuk membendung kemaksiatan dan kezaliman yang ada di negeri ini.

“Agar cita-cita tersebut dapat terlaksana, tentu perlu merapatkan barisan, meningkatkan tali ukhuwah Islamiyah yang erat, Jadi tak bisa berjalan sendiri-sendiri, Maka, sudah saatnya umat Islam bersatu. Sebab kalau tidak, umat Islam akan terus mengalami kemunduran dan tetap terjajah oleh para tirani, yang tidak mengharapkam Islam bangkit dan tampil gemilang,” kata Husein Umar.

http://www.amanah.or.id/detail.php?id=557

Wed 21st Jun, 2006, Artikel

Agar Kapal tak Tenggelam

‘’Perumpamaan orang yang proaktif menegakkan aturan-aturan Allah dan orang yang melanggarnya seperti kaum yang menumpang sebuah kapal. Sebagian mereka naik di bagian atas, sebagian lagi naik di bagian bawah. Para penumpang yang di bagian bawah jika ingin mengambil air harus naik ke atas melewati penumpang yang ada di bagian atas.

Maka (demi efisiensi dan kepraktisan) mereka berkata: ‘Kalau saja kita lubangi kapal ini dari tempat kita (niscaya kita mudah mengambil air) dan kita tidak akan menyakiti dan merepotkan saudara kita para penumpang yang ada di lantai atas!’

Jika semua orang yang mendengar dan mengetahui rencana ini apatis dan membiarkan mewujudkan ide mereka, niscaya semua penumpang tanpa kecuali akan tenggelam dan binasa. Namun, jika mereka (menyatukan langkah) melarang dan mencegah agar tidak direalisasikan rencana itu, niscaya mereka selamat dan menyelamatkan para penumpang seluruhnya.'’ (HR Bukhari).

Hadis di atas memberi pemahaman bahwa hidup di dunia ini seperti naik sebuah kapal besar. Tak seorang pun dari kita yang mau dan rela kapalnya tenggelam. Apatis dan mendiamkan merajalelanya kezaliman, KKN (korupsi, kolusi dan nepotisme), pornografi, pornoaksi, dan berbagai kemungkaran lainnya hanya mempercepat tenggelamnya kapal yang sedang kita naiki.

Dalam konteks inilah kita melihat mengapa mayoritas penduduk negeri ini menolak keras dan mendesak pemerintah menghentikan penerbitan majalah cabul bertaraf internasional, Playboy, serta mendesak disahkannya RUU Antipornografi dan Pornoaksi. Pornografi dan pornoaksi merupakan bentuk penyimpangan dalam mempertontonkan sisi-sisi keindahan tubuh manusia sebagai karunia-Nya, dan mengikis budaya santun dan malu sebagai watak budaya ketimuran kita.

Apalagi, pornografi dan pornoaksi sangat reaktif menghancurkan moral yang merupakan pilar penyanggah kehidupan berbangsa, sehingga menjadikan bangsa dan negara di ambang jurang kehancuran dan kebinasaan. Karenanya, menolak kehadiran majalah Playboy dan menyetujui disahkannya RUU APP adalah bukti konkret kecintaan kita terhadap kelangsungan hidup bangsa dan negara.

Ini termasuk amal dan upaya perbaikan yang dapat menyelamatkan bangsa dari kebinasaan. ‘’Dan Tuhanmu sekali-kali tidak akan membinasakan negeri-negeri secara zalim, sedangkan penduduknya orang yang berbuat kebaikan (dan selalu melakukan perbaikan).'’ (QS Hud (11): 117).

Maka, jangan biarkan gelombang kemungkaran, termasuk pornografi dan pornoaksi, menerjang dan menenggelamkan rumah, kampung, dan negeri kita. Kecuali jika kita relakan Republik Indonesia yang kita cintai ini terus berada dalam kubangan kesengsaraan dan keterpurukan berkepanjangan di semua aspek kehidupan.
(Ahmad Kusyairi Suhail )

http://www.muhammadiyah-tabligh.or.id/baru/index.php?option=com_content&task=view&id=836&Itemid=1

Wed 21st Jun, 2006, Artikel

Pendidikan Seks Untuk Anak

Oleh: Zulia Ilmawati
Psikolog, Pemerhati Masalah Anak dan Remaja

Perdebatan tentang perlu-tidaknya pendidikan seks diberikan kepada anak bermula dari keprihatinan terhadap pergaulan remaja saat ini. Para pemerhati masalah remaja berpendapat, seks bebas yang sekarang ini menggejala salah satunya disebabkan karena pengetahuan remaja tentang seksualitas masih sangat rendah. Karena itu, diperlukan upaya-upaya untuk memasyarakatkan pendidikan seks kepada remaja. Program-program pendidikan seks pun mulai digulirkan, bahkan ada yang berpendapat bahwa pendidikan seks seharusnya diberikan sedini mungkin. Jika perlu, di bangku prasekolah pun ada kurikulum yang membahas khusus tentang pendidikan seks. Benarkah sepenting itu pendidikan seks bagi anak? Bagaimana Islam memandang persoalan ini?

Apa itu Pendidikan Seks?

Ada banyak pengertian tentang apa itu pendidikan seks, bergantung pada sudut pandang yang dipakai. Menurut Dr. Abdullah Nashih Ulwan, pendidikan seks adalah upaya pengajaran, penyadaran, dan penerangan tentang masalah-masalah seksual yang diberikan kepada anak sejak ia mengerti masalah-masalah yang berkenaan dengan seks, naluri, dan perkawinan. Dengan begitu, jika anak telah dewasa, ia akan dapat mengetahui masalah-masalah yang diharamkan dan dihalalkan; bahkan mampu menerapkan perilaku islami dan tidak akan memenuhi naluri seksualnya dengan cara-cara yang tidak islami.

Pendidikan seks di dalam Islam merupakan bagian integral dari pendidikan akidah, akhlak, dan ibadah. Terlepasnya pendidikan seks dengan ketiga unsur itu akan menyebabkan ketidakjelasan arah dari pendidikan seks itu sendiri, bahkan mungkin akan menimbulkan kesesatan dan penyimpangan dari tujuan asal manusia melakukan kegiatan seksual dalam rangka pengabdian kepada Allah. Oleh karena itu, pelaksanaan pendidikan seks tidak boleh menyimpang dari tuntutan syariat Islam.

Siapa yang Bertanggung Jawab?

Orangtua manapun tentu selalu menginginkan anaknya menjadi anak yang baik. Anak adalah generasi yang diciptakan untuk kehidupan masa depan. Sepantasnyalah orangtua memberikan bekal berupa pendidikan yang menyeluruh, termasuk pendidikan seks. Orangtua dituntut memiliki kepekaan, keterampilan, dan pemahaman agar mampu memberi informasi dalam porsi tertentu, yang justru tidak membuat anak semakin bingung atau penasaran. Orangtua adalah pihak yang paling bertanggung jawab terhadap anak dalam masalah pendidikan, termasuk pendidikan seks. Jadi, dalam hal ini, sesungguhnya tidak mutlak diperlukan adanya kurikulum khusus tentang pendidikan seks di sekolah-sekolah.

Pokok-Pokok Pendidikan Seks Perspektif Islam

Di antara pokok-pokok pendidikan seks yang bersifat praktis, yang perlu diterapkan dan diajarkan kepada anak adalah:

1. Menanamkan rasa malu pada anak.

Rasa malu harus ditanamkan kepada anak sejak dini. Jangan biasakan anak-anak, walau masih kecil, bertelanjang di depan orang lain; misalnya ketika keluar kamar mandi, berganti pakaian, dan sebagainya. Membiasakan anak perempuan sejak kecil berbusana Muslimah menutup aurat juga penting untuk menanamkan rasa malu sekaligus mengajari anak tentang auratnya.

2. Menanamkan jiwa maskulinitas pada anak laki-laki dan jiwa feminitas pada anak perempuan.

Secara fisik maupun psikis, laki-laki dan perempuan mempunyai perbedaan mendasar. Perbedaan tersebut telah diciptakan sedemikian rupa oleh Allah. Adanya perbedaan ini bukan untuk saling merendahkan, namun semata-mata karena fungsi yang berbeda yang kelak akan diperankannya. Mengingat perbedaan tersebut, Islam telah memberikan tuntunan agar masing-masing fitrah yang telah ada tetap terjaga. Islam menghendaki agar laki-laki memiliki kepribadian maskulin, dan perempuan memiliki kepribadian feminin. Islam tidak menghendaki wanita menyerupai laki-laki, begitu juga sebaliknya. Untuk itu, harus dibiasakan dari kecil anak-anak berpakaian sesuai dengan jenis kelaminnya. Mereka juga harus diperlakukan sesuai dengan jenis kelaminnya. Ibnu Abbas ra. berkata:

Rasulullah saw. melaknat laki-laki yang berlagak wanita dan wanita yang berlagak meniru laki-laki. (HR al-Bukhari).

3. Memisahkan tempat tidur mereka.

Usia antara 7-10 tahun merupakan usia saat anak mengalami perkembangan yang pesat. Anak mulai melakukan eksplorasi ke dunia luar. Anak tidak hanya berpikir tentang dirinya, tetapi juga mengenai sesuatu yang ada di luar dirinya. Pemisahan tempat tidur merupakan upaya untuk menanamkan kesadaran pada anak tentang eksistensi dirinya. Jika pemisahan tempat tidur tersebut terjadi antara dirinya dan orangtuanya, setidaknya anak telah dilatih untuk berani mandiri. Anak juga dicoba untuk belajar melepaskan perilaku lekatnya (attachment behavior) dengan orangtuanya. Jika pemisahan tempat tidur dilakukan terhadap anak dengan saudaranya yang berbeda jenis kelamin, secara langsung ia telah ditumbuhkan kesadarannya tentang eksistensi perbedaan jenis kelamin.

4. Mengenalkan waktu berkunjung (meminta izin dalam 3 waktu).

Tiga ketentuan waktu yang tidak diperbolehkan anak-anak untuk memasuki ruangan (kamar) orang dewasa kecuali meminta izin terlebih dulu adalah: sebelum shalat subuh, tengah hari, dan setelah shalat isya. Aturan ini ditetapkan mengingat di antara ketiga waktu tersebut merupakan waktu aurat, yakni waktu ketika badan atau aurat orang dewasa banyak terbuka (Lihat: QS al-Ahzab [33]: 13). Jika pendidikan semacam ini ditanamkan pada anak maka ia akan menjadi anak yang memiliki rasa sopan-santun dan etika yang luhur.

5. Mendidik menjaga kebersihan alat kelamin.

Mengajari anak untuk menjaga kebersihan alat kelamin selain agar bersih dan sehat sekaligus juga mengajari anak tentang najis. Anak juga harus dibiasakan untuk buang air pada tempatnya (toilet training). Dengan cara ini akan terbentuk pada diri anak sikap hati-hati, mandiri, mencintai kebersihan, mampu menguasai diri, disiplin, dan sikap moral yang memperhatikan tentang etika sopan santun dalam melakukan hajat.

6. Mengenalkan mahram-nya.

Tidak semua perempuan berhak dinikahi oleh seorang laki-laki. Siapa saja perempuan yang diharamkan dan yang dihalalkan telah ditentukan oleh syariat Islam. Ketentuan ini harus diberikan pada anak agar ditaati. Dengan memahami kedudukan perempuan yang menjadi mahram, diupayakan agar anak mampu menjaga pergaulan sehari-harinya dengan selain wanita yang bukan mahram-nya. Inilah salah satu bagian terpenting dikenalkannya kedudukan orang-orang yang haram dinikahi dalam pendidikan seks anak. Dengan demikian dapat diketahui dengan tegas bahwa Islam mengharamkan incest, yaitu pernikahan yang dilakukan antar saudara kandung atau mahram-nya. Siapa saja mahram tersebut, Allah Swt telah menjelaskannya dalam surat an-Nisa’ (4) ayat 22-23.

7. Mendidik anak agar selalu menjaga pandangan mata.

Telah menjadi fitrah bagi setiap manusia untuk tertarik dengan lawan jenisnya. Namun, jika fitrah tersebut dibiarkan bebas lepas tanpa kendali, justru hanya akan merusak kehidupan manusia itu sendiri. Begitu pula dengan mata yang dibiarkan melihat gambar-gambar atau film yang mengandung unsur pornografi. Karena itu, jauhkan anak-anak dari gambar, film, atau bacaan yang mengandung unsur pornografi dan pornoaksi.

8. Mendidik anak agar tidak melakukan ikhtilât.

Ikhtilât adalah bercampur-baurnya laki-laki dan perempuan bukan mahram tanpa adanya keperluan yang diboleh-kan oleh syariat Islam. Perbuatan semacam ini pada masa sekarang sudah dinggap biasa. Mereka bebas mengumbar pandangan, saling berdekatan dan bersentuhan; seolah tidak ada lagi batas yang ditentukan syariah guna mengatur interaksi di antara mereka. Ikhtilât dilarang karena interaksi semacam ini bisa menjadi mengantarkan pada perbuatan zina yang diharamkan Islam. Karena itu, jangan biasakan anak diajak ke tempat-tempat yang di dalamnya terjadi percampuran laki-laki dan perempuan secara bebas.

9. Mendidik anak agar tidak melakukan khalwat.

Dinamakan khalwat jika seorang laki-laki dan wanita bukan mahram-nya berada di suatu tempat, hanya berdua saja. Biasanya mereka memilih tempat yang tersembunyi, yang tidak bisa dilihat oleh orang lain. Sebagaimana ikhtilât, khalwat pun merupakan perantara bagi terjadinya perbuatan zina. Anak-anak sejak kecil harus diajari untuk menghindari perbuatan semacam ini. jika bermain, bermainlah dengan sesama jenis. Jika dengan yang berlainan jenis, harus diingatkan untuk tidak ber-khalwat.

10. Mendidik etika berhias.

Berhias, jika tidak diatur secara islami, akan menjerumuskan seseorang pada perbuatan dosa. Berhias berarti usaha untuk memperindah atau mempercantik diri agar bisa berpenampilan menawan. Tujuan pendidikan seks dalam kaitannya dengan etika berhias adalah agar berhias tidak untuk perbuatan maksiat.

11. Ihtilâm dan haid.

Ihtilâm adalah tanda anak laki-laki sudah mulai memasuki usia balig. Adapun haid dialami oleh anak perempuan. Mengenalkan anak tentang ihtilâm dan haid tidak hanya sekadar untuk bisa memahami anak dari pendekatan fisiologis dan psikologis semata. Jika terjadi ihtilâm dan haid, Islam telah mengatur beberapa ketentuan yang berkaitan dengan masalah tersebut, antara lain kewajiban untuk melakukan mandi. Yang paling penting, harus ditekankan bahwa kini mereka telah menjadi Muslim dan Muslimah dewasa yang wajib terikat pada semua ketentuan syariah. Artinya, mereka harus diarahkan menjadi manusia yang bertanggung jawab atas hidupnya sebagai hamba Allah yang taat.

Itulah beberapa hal yang harus diajarkan kepada anak berkaitan dengan pendidikan seks. Wallâhu a’lam bi ash-shawâb. []

http://hizbut-tahrir.or.id/main.php?page=alwaie&id=204

Tue 20th Jun, 2006, Berita

Pemerintah Tidak akan Bubarkan Ormas Islam

Muhammad Atqa - detikcom

Jakarta - Pemerintah tidak akan membubarkan sejumlah ormas Islam. Pemerintah hanya menginginkan situasi yang ada saat ini tidak berujung pada konflik nasional.

Demikian klarifikasi yang disampaikan Dirjen Kesatuan Bangsa (Kesbang) Departemen Dalam Negeri Sudarsono saat menerima sejumlah pemimpin ormas Islam di kantornya, Jl. Medan Merdeka Utara, Jakarta, Selasa (20/6/2006).

“Kami mendapatkan klarifikasi dari Dirjen Kesbang Sudarsono bahwa rakor polkam waktu itu tidak dimaksudkan untuk membubarkan ormas Islam,” kata Sekjen Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) Muhammad Al Khaththath usai pertemuan.

Seperti diketahui, usai rakor polkam 8 Juni lalu pemerintah menyatakan akan menindak tegas ormas-ormas yang anarkis. Sebab keberadaan mereka dinilai telah mengganggu keamanan dan ketertiban masyarakat.

Menurut Khaththath, isu pembubaran ormas Islam dimunculkan oleh pihak tertentu dengan dalih melakukan kekerasan. Wacana tersebut mengambil latar belakang pemberitaan pengusiran Gus Dur dari Purwakarta. Padahal Gus Dur sendiri telah mengklarifikasi tidak ada pengusiran.

“Ini yang menjadi keprihatinan kami. Setelah kami teliti lebih jauh, ternyata wacana ini berkaitan dengan aksi 21 Mei tentang dukungan terhadap RUU APP yang begitu besarnya,” ujar Khaththath.

Menurutnya, ada pembelokan isu dari dukungan umat Islam kepada RUU APP menjadi wacana pembubaran ormas Islam dengan dalih telah melakukan kekerasan.

Waacana itu sendiri sangat tidak masuk akal. Sebab ormas Islam tidak termasuk dalam butir-butir aturan pemerintah yang dianggap bisa dibubarkan. Misalnya mengganggu ketertiban umum, mendapat bantuan asing tanpa persetujuan pemerintah, dan menyebarkan Marxisme dan Leninisme.

“Itu tidak ada sama sekali dalam ormas Islam,” tegasnya.(djo)

Sumber : Detik.com

Tue 20th Jun, 2006, Artikel

Ngebela Pornografi, Untuk Siapa?

Rencana dikeluarkannya undang-undang anti pornografi dan pornoaksi ternyata nggak berjalan mulus. Sejumlah kalangan menentang keras. Bahkan pake ngegelar aksi erotisme. Untuk siapa ngebela pornografi?

Tiada hari tanpa heboh di Indonesia. Mulai dari surat sakti seorang pejabat yang deket ama Presiden SBY, bencana alam sampe flu burung. But, yang mau kita obrolin sekarang, karena emang deket banget ama kepentingan kita adalah kontroversi Rancangan Undang-Undang Pornografi dan Pornoaksi (RUU APP). Pernah denger kan?

Ini RUU konon udah dirancang semenjak jaman Presiden Habibie sampai SBY, tapi belum kelar-kelar. Sebabnya udah jelas; pembahasan pornografi itu nggak jelas. Hehehe…ngarti kagak? Gini deh ringkasnya, banyak orang yang nggak setuju ama pornografi dan pornoaksi, termasuk majalah ini. Makanya mereka sering berdemonstrasi, bikin tulisan, dan seminar yang isinya mengecam pornografi dan pornoaksi. Aksi menentang pornografi makin angot alias hot setelah ada rencana bakal terbit majalah Playboy versi Indonesia.

But, ternyata nggak semua orang suka dengan larangan ini. Pembahasan RUU APP ini selain didukung, juga ditentang. Para penentangnya mengecam kalo RUU ini udah ngelanggar hak asasi manusia. “RUU ini proyek yang menghabis-habiskan uang dan substansinya melanggar hak asasi manusia karena masuk ke ruang pribadi,” kata Direktur Lembaga Bantuan Hukum APIK Jakarta Ratna Batara Munti (Kompas, 4/2/2006). Penentangan terhadap RUU APP ini banyak dilakukan kalangan media massa, budayawan, dan kaum feminis.

RUU yang tegas

Kamu-kamu yang udah baca isi dari RUU APP ini mungkin bakal mengacungkan jempol tanda setuju. RUU itu ngatur dengan detail setiap perbuatan asusila lengkap dengan sanksinya yang bisa bikin kapok. Misalnya jika melanggar pasal 27 yang ngebahas berciuman di muka umum, sanksinya diatur dalam pasal 81, yaitu:

(1) Setiap orang yang berciuman bibir di muka umum sebagaimana dimaksud dengan pasal 27 ayat 1 (satu), dipidana dengan pidana penjara paling singkat 1 (satu) tahun dan paling lama 5 (lima) tahun dan/atau pidana denda paling sedeikit Rp 100.000.000 (seratus juta rupiah) dan paling banyak Rp 500.000.000 (lima ratus juta rupiah).

(2) Setiap orang yang menyuruh orang lain berciuman bibir di muka umum sebagaimana dimaksud pasal 27 ayat 2 (dua), dipidana dengan pidana penjara paling singkat 1 (satu) tahun dan paling lama 5 (lima) tahun dan/atau pidana denda paling sedikit Rp 100.000.000 (seratus juta rupiah) dan paling banyak Rp 500.000.000 (lima ratus juta rupiah).

Terang aja banyak orang merasa gerah bahkan ‘panas’ dengan aturan ini. Maklumlah di Indonesia, orang udah ngerasa terbiasa dengan hal-hal yang dibahas di atas.

Belum lagi soal pamer aurat. dalam pasal 58: “Setiap orang yang dengan sengaja membuat tulisan, suara atau rekaman suara, film atau yang dapat disamakan dengan film, syair lagu, puisi,gambar, foto, dan/atau lukisan yang mengeksploitasi daya tarik bagian tubuh tertentu yang sensual dari orang dewasa sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4, dipidana dengan pidana penjara paling singkat 1 (satu) tahun dan paling lama 5 (lima) tahun dan/atau pidana denda paling sedikit Rp 100.000.000 (seratus juta rupiah) dan paling banyak Rp 500.000.000 (lima ratus juta rupiah).”

Kalau RUU ini diloloskan sebenarnya banyak kehidupan sosial bangsa ini relatif aman. Jauh dari sensualitas, pornografi dan ancaman kejahatan seksual. Sayang, nggak semua orang sepakat dengannya.

Emang susah

RUU itu emang bakal bikin gerah banyak kalangan. Utamanya mereka yang udah biasa hidup bergaya hedonis. Nyari kepuasan jasmani, utamanya soal seks bebas. Coba, ciuman di muka umum aja bisa kena denda 100 juta perak! Mana tahan! Sedangkan ngebuka aurat dan bergaya sensual bakal diganjar denda yang sama.

Maka dari hari ke hari media massa sering mengangkat tema penentangan terhadap RUU ini. Alasannya adalah kebebasan HAM, perbedaan budaya, dan juga soal agama.

Soal HAM udah jelas banget. Menurut pandangan mereka nggak boleh ada satupun orang yang ngelarang orang lain berekspresi. You know, dalam teori HAM ada kebebasan berkepribadian. Mau ngapain aja kan urusan kita, gitu deh alasan mereka. Gue mau ciuman di mana aja, ama siapa aja, kan yang penting gue dan pasangan gue sama-sama suka. Lagian ini urusan pribadi, negara kagak boleh ikut campur. Yup, dalam teori HAM, negara emang haram banget mencampuri urusan pribadi rakyatnya. Lagipula kalo RUU itu disahkan itu berarti pemaksaaan pendapat terhadap orang lain.

Alasan lain yang dikemukakan untuk menolak larangan pornografi adalah soal perbedaan budaya. Kata mereka, Indonesia ini multietnik dan multibudaya, kalo sampe larangan ini keluar, maka banyak suku yang merasa dianaktirikan, misalnya warga Bali dan Papua. Di Bali konon ada kebiasaan mandi bersama di kali, sedangkan di Papua warganya masih banyak yang berkoteka. Nah, kata mereka, kalo RUU itu keluar berarti itu kan pemaksaan pendapat, tidak menghormati perbedaan suku.

Alasan lain warga Bali adalah RUU itu mengancam industri pariwisata. Dalam sebuah dialog di stasiun Metro TV (6/3), seorang anggota legislatif asal daerah Bali mengemukakan pendapat itu. Katanya, untuk kawasan industri harus ada kekhususan tanpa merinci apa kekhususannya. Dia juga mengungkapkan kalo RUU APP ini dicurigai membawa muatan impor, bukan nilai asli budaya bangsa.

Walhasil, RUU APP ini emang bergulir jadi bola panas. Banyak yang mendukung, tapi nggak sedikit juga yang membencinya.

Kenapa ngotot?

Kalo boleh kita jawab, alasan-alasan yang dilontarkan para pendukung pornografi dan pornoaksi terlalu mengada-ada. Soal HAM, perbedaan penafsiran dan perbedaan budaya jadi alasan yang mengemuka. Ngelarang orang berciuman di muka umum, pake baju yang terbuka (misalnya tank top & celana hipsters), kan hak asasi manusia. Kagak ada yang boleh maksa atau ngelarang.

Sebenarnya para pendukung HAM ini juga ambigu, alias kagak jelas sikapnya. Coba, kalo betul negara kagak boleh campur tangan urusan pribadi, kenapa mereka ngedukung larangan ngerokok di tempat umum, ngedukung kewajiban pake helm di jalan raya, pake sabuk pengaman saat naik mobil, juga menentang poligami. Itu kan termasuk urusan pribadi, ya to? Begitu juga pemakaian narkoba kan urusan pribadi, lalu kenapa mereka juga menentangnya. Alasannya jelas, para pendukung HAM itu emang mau menangnya sendiri.

Dan omong-omong soal pemaksaan pendapat, apakah ‘menghalalkan’ pornografi bukan termasuk pemaksaan pendapat? Lagian, di negara manapun selalu terjadi pemaksaan pendapat oleh negara kepada rakyat. Mulai dari UUD 45, dasar negara Pancasila, KUHP, peraturan lalu lintas, dan aneka undang-undang negara kan isinya pemaksaan aturan kepada rakyat, kok mereka kagak protes?

Gimana soal perbedaan budaya? Ya, apa semua budaya kudu dipertahankan? Apakah berkoteka itu budaya yang mau dilestarikan? Jangan-jangan berkoteka itu sebenarnya tanda belum berbudaya. Kira-kira risih nggak kalo ada orang berkoteka masuk Plaza Senayan atau masuk kampus? Pasti aneh, kan?

Gimana pun juga, selama aturan baik dan buruk diserahkan kepada akal manusia, yang muncul pasti perselisihan. Yang lebih parah, bencana juga bakal dateng. Firman Allah: ”Andaikata kebenaran itu menuruti hawa nafsu mereka, pasti binasalah langit dan bumi ini, dan semua yang ada di dalamnya. Sebenarnya Kami telah mendatangkan kepada mereka peringatan mereka tetapi mereka berpaling dari peringatan itu.” (QS al-Mukminun [23]: 71)

Catet nih, Brur. Di Amerika Serikat 4000 film porno diproduksi setiap tahun, dan uang yang dihasilkan lebih dari 12 milyar AS. Sebuah suvey memperkirakan penduduk Amerika Serikat setiap tahun mengeluarkan $8-10 milyar untuk mendapat majalah, kaset video atau akses ke siaran dan situs internet porno.

Tapi apa yang terjadi? Sebuah survey oleh majalah Women’s Day mengatakan 21% dari 6.000 pembacanya pernah mengalami serangan atau pelecehan seksual sebagai akibat langsung dari konsumsi pornografi. Studi lain mengatakan tontonan pornografi cenderung membuat laki-laki menjadi lebih agresif terhadap perempuan.

Sebaliknya kekerasan seksual juga cenderung mendorong perempuan untuk terlibat dalam industri pornografi. Sekitar 70% perempuan dalam industri ini pernah mengalami serangan seksual atau menjadi korban incest semasa kecil. Dalam beberapa tahun belakangan kecenderungan melibatkan anak-anak dalam industri ini pun semakin besar untuk melayani konsumen pedofilia yang juga semakin meningkat.

Di Indonesia juga sama. Sebuah penelitian yang dilakukan oleh dr. Andik Wijaya, DMSH terhadap 202 remaja di kota Malang, pada bulan September 2001, juga begitu adanya. Dengan 51, 5 % responden pria, 48, 5 % wanita. 6 % beusia 13 - 15 tahun, 67,3 % berusia 16 - 18 tahun, dan 26,7 % berusia diatas 18 tahun. Dari hasil penelitian itu terungka bahwa 7 % dari responden mengaku melakukan aktifitas oral sex. 100 persen mereka yang melakukan oral sex ini mengaku mendapatkan gagasan untuk melakukan oral sex dari VCD porno yang mereka lihat, disamping itu 73 persen dari teman, 66 persen dari internet, 47 persen dari media cetak seperti koran, tabloid, maupun majalah.

Renungkan deh!

Emang nggak gampang melarang pornografi di tengah-tengah masyarakat sekuler macam Indonesia. Ada yang pro-Islam tapi banyak yang menentang. Wajar, karena masyarakat sekuler itu memang pemburu kenikmatan jasadiah, alias hedonis. Lucunya mereka juga pengen menjunjung moral. Tapi moral yang gimana mereka juga susah ngejawabnya.

Maka, nggak mungkin menghormati wanita kalau landasan pemikirannya masih sekuler, aturannya masih demokrasi dan liberalisme, dan makna kebahagiaannya masih hedonisme. Satu-satunya jalan untuk memuliakan wanita dan menjaga moral masyarakat ya kudu pake Islam. Lainnya tidak.

Cuma kalo aturannya ditambal sulam kayak sekarang, yang muncul pasti penentangan. So, jawabannya cuma satu; ubah landasan berpikir masyarakat. Jadiin Islam sebagai asas kehidupan, baru deh kita bisa gampang ngomongin moral. Kalo nggak ada perubahan yang mendasar, ya sampe ada kodok berbulu juga kagak bakalan bisa. [januar].

http://sobatmuda.multiply.com/journal/item/299

Tue 20th Jun, 2006, Artikel

Cewek, Jangan Mau Dikorbankan

Uang dan ketenaran seringkali diburu. Dunia memang gemerlap. Tapi, nggak seru dong kalo untuk ngedapetinnya sampe harus dengan cara jual diri. Iya kan?

Siapa sih yang nggak kepengen jadi model beken? Duit berlimpah, ketenaran sudah pasti diraih. Model yang ngetop sering diidentikan dengan duit yang banyak. Mungkin ada benarnya juga, meski dalam beberapa kasus nggak begitu. Sebab, ada juga model yang mau dipampang foto tubuh seksinya di majalah syur yang kelasnya jauh di bawah Playboy, dengan hanya uang 500 ribu perak. Uang segitu, mana cukup buat memuhin gaya hidup kelas glamor. Tapi, mereka punya alasan lain bahwa itu sebagai batu pijakan untuk ngetop. Kalo udah ngetop, duit bakalan ngalir deras ke kantongnya juga.

Sebut saja Risma, 23 tahun, salah seorang model tabloid syur, mengaku bahwa tawaran main sinetronnya bertambah banyak sejak ia mejeng di tabloid panas. Dia pernah berakting untuk beberapa judul sinetron, di antaranya Lorong Waktu, Kafir, dan Misteri Nini Pelet. (Koran Tempo, 19 Februari 2006)

Buat model yang belum tenar banget, bisa tuh nego ke pemilik diskotik tempat mangkalnya untuk diajukan ke media syur. Di sinilah barangkali terjadi simbiosis mutualisme alias kerjasama saling menguntungkan. Model jadi ikutan tenar, plus dapet duit. Pemilik café atau diskotik juga jadi ketiban rejeki nomplok karena tempatnya jadi banyak disambangi pengunjung setelah ‘peliharaannya’ tampil di tabloid syur. Termasuk fotografernya dapet duit juga dong. Media massa yang nyebarin juga untung. Nah, teman kita-kita yang beli juga dapetin kepuasan melototin gambar-gambar aduhai. Ckckckck…

Pertanyaannya sekarang, apa anak cewek yang jadi model tuh nggak ngerasa lagi dieksploitasi? Nggak ngerasa jadi korban? Nggak nyadar kalo lagi dikomersilin? Terus, kok kaum feminis nggak bersuara sih untuk membela para perempuan yang lagi dikorbankan demi kepuasan pengelola industri kapitalis? Atau minimal menyadarkan mereka supaya nggak keterusan dikorbankan. Ah, paling-paling alasannya: ini kan kebebasan. Jangan maksa kami untuk nurut sama aturan. Walah.

Cewek dikomersilin?

Eh, anak cewek yang jadi model tuh dianggap sebagai korban eksploitasi nggak seh? Atau, mereka dikomersilin, gitu?

“Nggak tuh. Buat gue itu wajar aja kali. Toh masyarakat juga yang liat, masyarakat juga yang nilai. Selama itu masih di dalam batas wajar, kenapa nggak?” Unga, 18 tahun yang berprofesi sebagai penyiar di sebuah radio swasta di Bandung ngasih pendapatnya.

Nawang Naveta, seorang model di Colour Model yang juga masih tercatat sebagai siswi di sebuah SMA negeri di Malang ngasih komentar (yang mungkin agak jujur), “Model tuh dituntut yang feminin gitu. Penampilannya harus diperhatikan banget. Kalo itu dianggap eksploitasi…. termasuk kali ya hehehe… Tapi bukan fisiknya aja kok yang dituntut baik, pengetahuannya juga,” Nawang sedikit ngeles.

Kalo diserahkan ke pribadi masing-masing emang akhirnya jadi banyak pendapat. Iya nggak sih. Itu sebabnya, ada yang menganggap itu eksploitasi, ada juga yang nggak. Dua pendapat tadi dari pengamat dan pelaku (meski masih level biasa), nah nggak ada salahnya dong kalo kita nyimak juga pendapat dari pengelola para model.

”Eksploitasi nggaknya ya tergantung jadi model atau bintang film apa dulu. Kalo modelnya memeragakan baju-baju yang terbuka. Ya itu eksploitasi namanya. Tapi kalo memeragakan busana muslimah gimana hayoo… Begitu pun sama bintang film. Kalo yang diperankan film hot, termasuk eksploitasi. Tapi kalo filmya islami bukan eksploitasi deh kayaknya,” papar Tugas Suci Priawan yang mengelola X’Pose Model Entertainment dan Indra Production Entertainment di kota Apel, Malang.

Pas ditanya sama SoDa, “Mau nggak punya istri model?“, Mas kita ini jawab, “ Nggak mau. Kalo model tuh waktunya sedikit untuk urus anak dan suami. Pinginnya dapat istri yang agamanya bagus.” Nah lho, jadi gimana tuh?

Oke, tapi yang jelas para cewek kudu nyadar bahwa apa yang dilakukannya sebagai model iklan, sinetron, bintang film, waiters di club atau diskotik, pemijat di panti pijat plus, atau malah jadi pelacur dan sejenisnya yang berpijak atas dasar kebebasan tanpa batas sejatinya adalah bentuk eksploitasi terhadap dirinya. Meski, untuk itu ia dapet duit dan ketenaran. Atau, mungkin mereka menganggap hal itu sebagi bentuk pekerjaan? Sehingga para pelacur pun merasa harus mendapat panggilan PSK alias Pekerja Seks Komersial agar terlihat lebih manusiawi dan santun?

Wah, kayaknya kudu ditatar lagi nih bahwa pekerjaan pun tetap butuh aturan. Nggak semua pekerjaan itu legal, baik secara hukum positif di negeri ini, norma masyarakat, terlebih aturan agama kita. Iya kan? Itu sebabnya, para maling, penjambret, copet, meski masuk definisi pekerjaan karena ada usaha yang dikeluarkan untuk mendapatkannya, tapi aturan hukum (negara maupun Islam) menyebutnya sebagai pekerjaan yang nggak halal alias kerjaan haram. Iya kan?

Memuliakan wanita

Kalo ditulis subjudul begini, bukan berarti wanita doang yang kudu mulia, anak laki jelas kudu mulia juga. Cuma nih, yang sering jadi objek eksploitasi emang anak cewek. Jadi, maaf ye kalo ditulis begini.

Sebenarnya apa sih profesi yang pas buat cewek? ”Bintang film dan model. Kan enak mereka bisa dapat uang banyak, meski sering juga kena gossip. Nawang juga pengen jadi model selamanya, kalo bisa sampe go internasional,” ujar Nawang mantap. Ketika Nawang ditanya, “Kalo udah punya suami gimana?” Doi jawabnya, “Kayaknya kalo sudah berkeluarga udahan.” (Ih… Nawang nggak konsisten deh jawabannya. Maklumin aja kali… masih satu SMA, jadi masih labil hehehe….)

Duh, kalo wanita banyak memamerkan auratnya di depan umum, jangan salahkan laki-laki kalo sampe kegoda. Soalnya laki-laki juga manusia. Seperti apa yang disampaikan Unga, “Apalagi yang bisa bikin cowok gerah kalo nggak cewek sama harta. Cewek mengeksploitasi tubuhnya bikin cowok jadi iseng. Wajar cowok lebih gampang kena kayak gitu. Apalagi yang bikin kucing nggak ngelirik ikan asin yang disiapin majikanya?”

Jadi gimana nih kerjaan yang cocok buat cewek tapi yang jaga kehormatannya? “Yang sesuai dengan bakatnya, berkarirlah. Jangan hanya di dalam rumah jadi ibu rumah tangga saja!” saran Priawan.

Komentar yang lucu disampaikan Abdillah, anak Unpad, ”Terserah masing-masing aja deh. Jadi wasit Liga Indonesia aja, biar sepakbola Indonesia aman, damai, dan penuh cinta. Kalo bisa baju wasitnya warna pink yah. Tapi tetep pakai jilbab ama kerudung,” katanya sambil terkekeh. Waduh!

Eh, kalo cewek cuma ngetem di rumah aja, kuno nggak sih? ”Ya iya lah, ngapain di rumah doang kalo cuma nonton Esmeralda ama pilem India. Kecuali kalo di rumahnya ngedidik anak, ngurusin suami, trus ngurusin segala kebutuhan rumah tangga, syukur-syukur bisa jadi guru ngaji buat keluarganya,” Abdillah kembali ngasih pendapatnya.

Lha, sekarang gimana nih tugas para cewek kalo jadi model syur nggak boleh karena dianggap jadi korban eksploitasi? Padahal, pengen juga kan mengekspresikan kemampuan diri? Berkiprah or berkarir boleh-boleh aja kok, asal yang halal sesuai tuntunan Islam dan tentunya nggak melecehkan ajaran Islam.

Prof. TM. Hasbiy ash-Shiddieqy dalam bukunya, Lapangan Perjuangan Wanita Islam, memaparkan tugas kaum wanita dalam membela agamanya. Pertama, kewajiban meninggikan Islam, termasuk di dalamnya kewajiban kepada Allah dan RasulNya. Caranya dengan apa? Dengan akhlak yang tinggi dan luhur, dengan ilmu dan kecerdasan, dengan amal dan gerak perjuangan.

Kedua, wanita punya kewajiban terhadap dirinya. Bisa ditempuh dengan ‘mempermak’ sisi ‘ruhani’ dan jasmaninya. Jadi, mulailah membersihkan jiwa dari segala paham dan kepercayaan yang kahayali. Upgrade juga jiwamu dengan ilmu dan kecerdasan, termasuk mendidik dan melatih diri dengan perangai-perangai yang mulia dengan budi yang baik dan menghiasi diri dengan nilai-nilai kesopanan yang luhur. Jangan lupa, bagi seorang wanita juga kudu berpenampilan menarik. Itu sebabnya, jaga juga kebersihan dan kesehatan badanmu.

Ketiga, kewajiban terhadap keluarga dan rumah tangga. Rasulullah saw. bersabda: “Wanita itu pengurus di rumah tangga suaminya, perempuanlah yang bertanggung jawab atas urusan itu.” Pokoknya seluruh urusan rumah tangga adalah tanggung jawab wanita. Laki-laki boleh juga ikut bantu kok. Tapi tugas utama untuk itu adalah para wanita.

Keempat, kewajiban terhadap masyarakat dan pergaulan umum. Wanita juga dirindukan kehadirannya oleh masyarakat. Apalagi dalam kondisi seperti sekarang ini, wanita pun bisa membantu para pria untuk menyelamatkan kaum muslimin. Intinya, para wanita juga harus berjuang untuk kepentingan Islam dan kaum muslimin melalui dakwah, tentu setelah memenuhi hak diri sendiri, hak keluarga dan rumah tangganya. Jangan sampe deh, kamu getol di luar rumah sementara tugas utama di rumah malah terbengkalai. Kagak lha yauhw!

Sayangnya, wanita sekarang lebih suka menjadi bagian yang menikmati kehidupan kapitalisme sekarang ini. Karir di luar rumah adalah nomor wahid, bila perlu mengkampanyekan Nomar, alias no married. Karena dianggap dengan menikah akan menghambat karir dan kemajuan duniawi lainnya. Walah, sadar mbak, kata Bang Rhoma juga “pesta pasti berakhir”. Atau kata Om Ahmad Albar, “Dunia ini panggung sandiwara”. Nggak ketinggalan vokalis Scorpion, Klaus Maine dengan melankolis ‘berteriak’, “Just when you make your way back home..”

Oke deh, silakan berkiprah di jalur yang kamu bisa, tapi jangan lupakan aturan Islam. Jangan mau dikomersilin, dieksploitasi, or dikorbankan oleh para pengusaha industri kapitalis yang lagi berjaya di surga mereka: kapitalisme-sekularisme. Inget lho, Islam tuh memuliakan wanita. Islam tuh sayang banget sama kaum wanita. [solihin: liputan daerah: gilang, ana]

http://sobatmuda.multiply.com/journal/item/298

Tue 20th Jun, 2006, Artikel

Tampil Syur? Malu Dong!

Nyari cewek yang berani tampil buka-bukaan di negeri ini nggak susah loh. Bukan hanya model-model nggak ngetop yang sering nampang jadi sampul buku TTS itu, mereka yang disebut ‘model papan atas’ pun dengan senang hati tampil sensual. Sebagian tentu juga muslimah. Wah, apa yang mereka cari ya?

Kalau boleh kita itung neh, deretan selebriti yang fotonya sempat bikin heboh karena dianggap terlalu berani antara lain Davina Veronica, Sophia Latjuba, Tiara Lestari, Luna Maya, Karenina, Nadya Hutagalung, dan Indah Ludiana (juga yang lainnya). Tuh kan, pokoknya nggak susah deh nyari model gituan. Itu baru yang ngetop, belum puluhan model pendatang baru lain yang rela memamerkan ‘dalemannya’ biar ikutan ngetop.

Hmm.. kira-kira kenapa sih mereka ampe nekat berpose berani gitu? Kebanyakan mereka bilang demi tuntutan profesi atau demi seni. Jadi, berpose berani dianggap lumrah-lumrah saja.
Kinaryosih yang rela 21 pose syurnya jadi konsumsi umum lewat majalah FHM misalnya, menganggap posenya itu wajar-wajar aja. Menurutnya, model harus rela memperagakan pakaian apa saja, termasuk pakaian tidur atau underware. “Saya terima tawaran ini bukan karena saya suka buka-bukaan, tapi foto ini sebagai art dengan konsep foto yang kuat. Di dunia fesyen kan biasa banget pakai baju tipis,” ujarnya ngeles (kompas.com,19/9/05)

Davina Veronica juga berujar, “Asal konsepnya jelas, nggak masalah difoto sensual.” Model artbook-nya 6 fotografer tenar ini mengaku nggak takut posenya diprotes masyarakat selama masih ‘wajar’. Tiara Lestari yang tampil telanjang di Majalah Playboy edisi Spanyol juga mengaku biasa saja berpose begitu. Doi malah bangga karena terpilih menjadi cover majalah yang udah ngetop di dunia dan difoto fotografer ternama. Na’udzubillahi min dzalik.

Haus Sanjungan?

Ada yang bilang, emang udah jamak kalo wanita itu ingin selalu tampak cantik dan serasi. Salah satu caranya dengan menonjolkan keindahan tubuhnya. Makanya kalo memakai pakaian cenderung suka menonjolkan bagian-bagian tubuhnya yang dianggap memiliki kelebihan. Diva macam Ruth Sahanaya aja mengaku tampil lebih pede setelah operasi payudara. Titi DJ juga, sampai perlu sedot lemak segala biar lebih enak dipandang.

Semua itu dilakukan karena wanita memang suka dipuji dan disanjung, baik oleh sesama wanita, atau lebih-lebih oleh kaum Adam. Ehm, siapa yang nggak gede rasa kalo dibilang cantik, seksi, manis atau sebutan-sebutan positif lainnya. Benarkah begitu? Bisa jadi.

Dan kalaupun itu benar, tetap aja ada batas-batasan gimana cewek berpenampilan, khususnya di depan publik. Buka-bukaan tak identik dengan imej cantik. Kadang malah bikin orang malu melihatnya dan bahkan jijik. Kalau mau jujur nih, wanita secara fitri bakal malu kalau auratnya kelihatan. Buktinya, meski berani pakai rok mini, pas naik angkot tetep aja mereka tarik-tarik biar paha atau underware-nya nggak kelihatan. Atau ditutupi pakai tasnya. Itu pertanda bahwa wanita sebenarnya punya malu, nggak mau bagian tubuhnya yang paling berharga kelihatan.

Coba, kalo para model panas itu disuruh jalan-jalan di mal pakai baju tipis tembus pandang atau malah nggak pakai baju, apa mereka mau? Pasti bakalan nolak. Sekali lagi, dalam lubuk hati kecilnya yang terdalam pasti ada rasa malu melakukan itu. Sebab, Allah Swt. menciptakan rasa malu sebagai bagian dari fitrah manusia.

Jadi, kalolah mereka berani berpose syur di majalah, di panggung atau saat kontes kecantikan, itu semua pasti dilakukan dengan menanggalkan rasa malu, demi kepentingan lain yang lebih besar. Apa itu? Pastinya sih demi fulus alias duit. Tapi, tentu saja nggak ada yang berani berterus terang bahwa mereka melakukan itu semua demi fulus. Bahkan ada yang difoto syur dengan bayaran murah atau malah nggak dibayar. Namun mereka mendapatkan ketenaran setelah itu. Semakin kontroversi, semakin ngetoplah dia. Nah, kalo udah ngetop, tawaran pasti bakal berdatangan dan akhirnya fulus juga bakal mengikuti. Jadi, tetap aja kan, ujung-ujungnya duit.

Yang pasti nih, bagi mereka tampil buka-bukaan membawa sensasi dan kenikmatan tersendiri. Ada pengalaman erotis yang membangkitkan libido mereka. Makanya, meski bikin kontroversi, mereka biasanya nggak bakalan kapok melakukannya. Malah cenderung ketagihan. Itu alasan lain yang tentunya nggak mereka ungkap ke publik.

Emang, nggak semua seleb rela difoto nude loh. Ambil contoh model Cathy Wilson, Nia Rahmadhani, Intan Nuraini, dll. Biar dibayar berapapun, mereka mengaku ogah difoto sensual. Alasannya: merusak citra diri dan nama baik. Lebih tepatnya lagi: merusak pasaran. Sebab, udah pasti imej cewek yang ‘ikhlas’ tampil polos itu akan jatuh. Doi biasanya serta merta dicap sebagai bintang panas, bintang porno atau bom seks. Julukan yang buruk banget (tapi kok sebagian wanita kayaknya menikmati ya?).

Dalam dunia entertainment, imej macam gitu bisa menjatuhkan pasaran. Misal pemilik produk-produk bermutu untuk kelas high end, biasanya enggan memakai mereka sebagai bintang iklan, model atau ikonnya karena citranya yang buruk di mata masyarakat. Tentu mereka takut nggak laku dong produknya. Jadi, dalam lingkaran kapitalis ini, lagi-lagi duit yang jadi patokan.

Esploitasi tuh!

Diumbarnya aurat wanita di ruang publik adalah bentuk eksploitasi wanita. Gimana nggak, bagian tubuh paling berharga wanita yang seharusnya dijaga baik-baik, malah diobral murah. Semua itu demi mendongkrak penjualan produk, memenuhi pundi-pundi kaum kapitalis. Sebab, dalam kapitalisme wanita diposisikan sebagai komoditi, brand atau ikon guna mendongkrak penjualan dan menyuburkan konsumerisme. Dan salah satu daya tarik yang ada pada wanita adalah sisi-sisi sensualitas dan seksualitas. Makanya, bagian itulah yang sengaja dijual dan menjadi ujung tombak penjualan. Sebab, urat-urat seksualitas manusia itu emang yang paling gampang dibangkitkan.

Sayang, para wanita nggak menyadari itu. Termasuk para muslimah. Mereka nggak ngeh kalo dirinya dieksploitasi oleh kalangan kapitalis untuk memuluskan cita-cita mereka mempertebal fulus. Mereka malah berdalih itu demi keindahan, mensyukuri nikmat Allah Swt. berupa tubuh indah, dll. Duh!

Imam Ridha berkata: “Allah Swt indah dan mencintai keindahan. Dia senang menyaksikan kenikmatan yang Dia karuniakan pada diri hamba-Nya. Allah tidak menyukai keburukan.”

Sebagian orang terlalu berlebihan dalam menafsirkan keindahan sehingga terperosok ke dalam lembah hedonisme. Hedonisme berarti berlebih-lebihan dalam mencintai keindahan dan penyimpangan dari daya tarik alami ini.

Imam Ali menyebut tiga tanda bagi orang yang berlebihan dalam hal memanfaatkan karunia dan kenikmatan Allah. Pertama: memakan apa yang tidak sesuai baginya, kedua mengenakan pakaian yang tidak seharusnya, dan ketiga membeli yang tidak pantas untuk dirinya. Well, jangan sampai kita termasuk di dalamnya deh.

Di mata Allah Swt wanita. yang membuka auratnya di depan umum adalah perempuan yang nggak bener karena terang-terangan membangkang larangan Allah Swt. Allah Swt berfirman: “Katakanlah kepada wanita yang beriman: hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya kecuali yang biasa nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya.” (QS an-Nur [24] 31)

Allah Swt. melarang keras wanita menampakkan perhiasannya dan memelihara kemaluannya. Apalagi jika diperjual-belikan untuk tujuan komersil. Ingat girl, wajah, bodi, dan tubuh kita ini milik Allah, bukan milik kita pribadi. Enak aja kita main ‘jual’ tanpa seizin pemiliknya. Lagian, tubuh ini tuh nggak bisa dinilai dengan uang seberapa pun besarnya. Nggak sebanding banget nilai jualnya dibanding ganjaran yang akan diperoleh kelak di akhirat. Karena itu, sadarlah, jangan mau dieksploitasi kalau yang rugi kita sendiri. [kholidah]

Seksi dengan Kebiasaan Terpuji

Pamer bodi nggak selamanya enak diliat loh. Apalagi kalau organ-organ vital sampai diumbar jadi konsumsi umum. Wah, yang ngeliat juga malu. Sebaliknya, justru orang akan menilainya murahan. Kalo memang seorang cewek memiliki kelebihan, insya Allah akan memancarlah ‘auranya’ dengan sendirinya. Nah, ‘aura’ seseorang itu akan tampak bila ia memiliki kebiasaan-kebiasaan terpuji. Seperti:

1. Tampil indah dan serasi. Nggak usah tampil ngejreng cari perhatian, yang penting selalu menjaga keserasian dalam berpakaian dan berdandan. Nggak usah mencolok, entar malah dikira tabarruj. Tapi juga jangan biarkan penampilan kelihatan kucel atau bahkan cuek bebek. Meski seseorang nggak bisa dinilai dari penampilannya, tapi sebagai muslimah kita tentunya nggak pengin dong ada anggapan kalau muslimah itu identik asal-asalan dalam berdandan. Sedikit gaya ada perlunya loh, asal masih dalam tahap-tahap yang dibolehkan syara’.

2. Merawat diri. Biarpun bodi ditutupi dengan busana muslimah, bukan berarti dibiarkan begitu saja tanpa dirawat dan dijaga. Perawatan fisik seperti kulit, rambut, kuku dan bagian tubuh lain tetep kudu dilakukan secara rutin dan telaten. Dengan tubuh yang terawat, biarpun dibungkus dengan pakaian yang menutup aurat tetap akan kelihatan auranya. Wajah akan kelihatan segar, kulit bercahaya dan tentunya nggak bakal garuk-garuk kerudung gara-gara rambut ketombean kan?

3. Menjaga kesehatan fisik. Olah raga, makan teratur dan menjaga stamina bisa kamu lakukan. Penampilan yang lincah, murah senyum, aktif dan energik menunjukkan pribadi yang menyenangkan. Beda dengan yang tampak lemas, ogah-ogahan, jutek atau bahkan seperti nggak punya semangat hidup. Ih, nggak seger banget memandangnya kan?

4. Bertutur kata yang baik, sopan, dan lemah lembut. Tutur bahasa yang bernas menunjukkan isi otak seseorang. Dan biasanya semakin kelihatan kecakapan pola pikirnya, semakin dihargai seseorang. Beda dengan orang yang banyak bicara tapi omong kosong, orang yang sedikit bicara tapi bermanfaat pasti akan lebih dihargai dan dihorm
ati. [kholidah]

http://sobatmuda.multiply.com/journal/item/244

No Porn