Uang dan ketenaran seringkali diburu. Dunia memang gemerlap. Tapi, nggak seru dong kalo untuk ngedapetinnya sampe harus dengan cara jual diri. Iya kan?
Siapa sih yang nggak kepengen jadi model beken? Duit berlimpah, ketenaran sudah pasti diraih. Model yang ngetop sering diidentikan dengan duit yang banyak. Mungkin ada benarnya juga, meski dalam beberapa kasus nggak begitu. Sebab, ada juga model yang mau dipampang foto tubuh seksinya di majalah syur yang kelasnya jauh di bawah Playboy, dengan hanya uang 500 ribu perak. Uang segitu, mana cukup buat memuhin gaya hidup kelas glamor. Tapi, mereka punya alasan lain bahwa itu sebagai batu pijakan untuk ngetop. Kalo udah ngetop, duit bakalan ngalir deras ke kantongnya juga.
Sebut saja Risma, 23 tahun, salah seorang model tabloid syur, mengaku bahwa tawaran main sinetronnya bertambah banyak sejak ia mejeng di tabloid panas. Dia pernah berakting untuk beberapa judul sinetron, di antaranya Lorong Waktu, Kafir, dan Misteri Nini Pelet. (Koran Tempo, 19 Februari 2006)
Buat model yang belum tenar banget, bisa tuh nego ke pemilik diskotik tempat mangkalnya untuk diajukan ke media syur. Di sinilah barangkali terjadi simbiosis mutualisme alias kerjasama saling menguntungkan. Model jadi ikutan tenar, plus dapet duit. Pemilik café atau diskotik juga jadi ketiban rejeki nomplok karena tempatnya jadi banyak disambangi pengunjung setelah ‘peliharaannya’ tampil di tabloid syur. Termasuk fotografernya dapet duit juga dong. Media massa yang nyebarin juga untung. Nah, teman kita-kita yang beli juga dapetin kepuasan melototin gambar-gambar aduhai. Ckckckck…
Pertanyaannya sekarang, apa anak cewek yang jadi model tuh nggak ngerasa lagi dieksploitasi? Nggak ngerasa jadi korban? Nggak nyadar kalo lagi dikomersilin? Terus, kok kaum feminis nggak bersuara sih untuk membela para perempuan yang lagi dikorbankan demi kepuasan pengelola industri kapitalis? Atau minimal menyadarkan mereka supaya nggak keterusan dikorbankan. Ah, paling-paling alasannya: ini kan kebebasan. Jangan maksa kami untuk nurut sama aturan. Walah.
Cewek dikomersilin?
Eh, anak cewek yang jadi model tuh dianggap sebagai korban eksploitasi nggak seh? Atau, mereka dikomersilin, gitu?
“Nggak tuh. Buat gue itu wajar aja kali. Toh masyarakat juga yang liat, masyarakat juga yang nilai. Selama itu masih di dalam batas wajar, kenapa nggak?” Unga, 18 tahun yang berprofesi sebagai penyiar di sebuah radio swasta di Bandung ngasih pendapatnya.
Nawang Naveta, seorang model di Colour Model yang juga masih tercatat sebagai siswi di sebuah SMA negeri di Malang ngasih komentar (yang mungkin agak jujur), “Model tuh dituntut yang feminin gitu. Penampilannya harus diperhatikan banget. Kalo itu dianggap eksploitasi…. termasuk kali ya hehehe… Tapi bukan fisiknya aja kok yang dituntut baik, pengetahuannya juga,” Nawang sedikit ngeles.
Kalo diserahkan ke pribadi masing-masing emang akhirnya jadi banyak pendapat. Iya nggak sih. Itu sebabnya, ada yang menganggap itu eksploitasi, ada juga yang nggak. Dua pendapat tadi dari pengamat dan pelaku (meski masih level biasa), nah nggak ada salahnya dong kalo kita nyimak juga pendapat dari pengelola para model.
”Eksploitasi nggaknya ya tergantung jadi model atau bintang film apa dulu. Kalo modelnya memeragakan baju-baju yang terbuka. Ya itu eksploitasi namanya. Tapi kalo memeragakan busana muslimah gimana hayoo… Begitu pun sama bintang film. Kalo yang diperankan film hot, termasuk eksploitasi. Tapi kalo filmya islami bukan eksploitasi deh kayaknya,” papar Tugas Suci Priawan yang mengelola X’Pose Model Entertainment dan Indra Production Entertainment di kota Apel, Malang.
Pas ditanya sama SoDa, “Mau nggak punya istri model?“, Mas kita ini jawab, “ Nggak mau. Kalo model tuh waktunya sedikit untuk urus anak dan suami. Pinginnya dapat istri yang agamanya bagus.” Nah lho, jadi gimana tuh?
Oke, tapi yang jelas para cewek kudu nyadar bahwa apa yang dilakukannya sebagai model iklan, sinetron, bintang film, waiters di club atau diskotik, pemijat di panti pijat plus, atau malah jadi pelacur dan sejenisnya yang berpijak atas dasar kebebasan tanpa batas sejatinya adalah bentuk eksploitasi terhadap dirinya. Meski, untuk itu ia dapet duit dan ketenaran. Atau, mungkin mereka menganggap hal itu sebagi bentuk pekerjaan? Sehingga para pelacur pun merasa harus mendapat panggilan PSK alias Pekerja Seks Komersial agar terlihat lebih manusiawi dan santun?
Wah, kayaknya kudu ditatar lagi nih bahwa pekerjaan pun tetap butuh aturan. Nggak semua pekerjaan itu legal, baik secara hukum positif di negeri ini, norma masyarakat, terlebih aturan agama kita. Iya kan? Itu sebabnya, para maling, penjambret, copet, meski masuk definisi pekerjaan karena ada usaha yang dikeluarkan untuk mendapatkannya, tapi aturan hukum (negara maupun Islam) menyebutnya sebagai pekerjaan yang nggak halal alias kerjaan haram. Iya kan?
Memuliakan wanita
Kalo ditulis subjudul begini, bukan berarti wanita doang yang kudu mulia, anak laki jelas kudu mulia juga. Cuma nih, yang sering jadi objek eksploitasi emang anak cewek. Jadi, maaf ye kalo ditulis begini.
Sebenarnya apa sih profesi yang pas buat cewek? ”Bintang film dan model. Kan enak mereka bisa dapat uang banyak, meski sering juga kena gossip. Nawang juga pengen jadi model selamanya, kalo bisa sampe go internasional,” ujar Nawang mantap. Ketika Nawang ditanya, “Kalo udah punya suami gimana?” Doi jawabnya, “Kayaknya kalo sudah berkeluarga udahan.” (Ih… Nawang nggak konsisten deh jawabannya. Maklumin aja kali… masih satu SMA, jadi masih labil hehehe….)
Duh, kalo wanita banyak memamerkan auratnya di depan umum, jangan salahkan laki-laki kalo sampe kegoda. Soalnya laki-laki juga manusia. Seperti apa yang disampaikan Unga, “Apalagi yang bisa bikin cowok gerah kalo nggak cewek sama harta. Cewek mengeksploitasi tubuhnya bikin cowok jadi iseng. Wajar cowok lebih gampang kena kayak gitu. Apalagi yang bikin kucing nggak ngelirik ikan asin yang disiapin majikanya?”
Jadi gimana nih kerjaan yang cocok buat cewek tapi yang jaga kehormatannya? “Yang sesuai dengan bakatnya, berkarirlah. Jangan hanya di dalam rumah jadi ibu rumah tangga saja!” saran Priawan.
Komentar yang lucu disampaikan Abdillah, anak Unpad, ”Terserah masing-masing aja deh. Jadi wasit Liga Indonesia aja, biar sepakbola Indonesia aman, damai, dan penuh cinta. Kalo bisa baju wasitnya warna pink yah. Tapi tetep pakai jilbab ama kerudung,” katanya sambil terkekeh. Waduh!
Eh, kalo cewek cuma ngetem di rumah aja, kuno nggak sih? ”Ya iya lah, ngapain di rumah doang kalo cuma nonton Esmeralda ama pilem India. Kecuali kalo di rumahnya ngedidik anak, ngurusin suami, trus ngurusin segala kebutuhan rumah tangga, syukur-syukur bisa jadi guru ngaji buat keluarganya,” Abdillah kembali ngasih pendapatnya.
Lha, sekarang gimana nih tugas para cewek kalo jadi model syur nggak boleh karena dianggap jadi korban eksploitasi? Padahal, pengen juga kan mengekspresikan kemampuan diri? Berkiprah or berkarir boleh-boleh aja kok, asal yang halal sesuai tuntunan Islam dan tentunya nggak melecehkan ajaran Islam.
Prof. TM. Hasbiy ash-Shiddieqy dalam bukunya, Lapangan Perjuangan Wanita Islam, memaparkan tugas kaum wanita dalam membela agamanya. Pertama, kewajiban meninggikan Islam, termasuk di dalamnya kewajiban kepada Allah dan RasulNya. Caranya dengan apa? Dengan akhlak yang tinggi dan luhur, dengan ilmu dan kecerdasan, dengan amal dan gerak perjuangan.
Kedua, wanita punya kewajiban terhadap dirinya. Bisa ditempuh dengan ‘mempermak’ sisi ‘ruhani’ dan jasmaninya. Jadi, mulailah membersihkan jiwa dari segala paham dan kepercayaan yang kahayali. Upgrade juga jiwamu dengan ilmu dan kecerdasan, termasuk mendidik dan melatih diri dengan perangai-perangai yang mulia dengan budi yang baik dan menghiasi diri dengan nilai-nilai kesopanan yang luhur. Jangan lupa, bagi seorang wanita juga kudu berpenampilan menarik. Itu sebabnya, jaga juga kebersihan dan kesehatan badanmu.
Ketiga, kewajiban terhadap keluarga dan rumah tangga. Rasulullah saw. bersabda: “Wanita itu pengurus di rumah tangga suaminya, perempuanlah yang bertanggung jawab atas urusan itu.” Pokoknya seluruh urusan rumah tangga adalah tanggung jawab wanita. Laki-laki boleh juga ikut bantu kok. Tapi tugas utama untuk itu adalah para wanita.
Keempat, kewajiban terhadap masyarakat dan pergaulan umum. Wanita juga dirindukan kehadirannya oleh masyarakat. Apalagi dalam kondisi seperti sekarang ini, wanita pun bisa membantu para pria untuk menyelamatkan kaum muslimin. Intinya, para wanita juga harus berjuang untuk kepentingan Islam dan kaum muslimin melalui dakwah, tentu setelah memenuhi hak diri sendiri, hak keluarga dan rumah tangganya. Jangan sampe deh, kamu getol di luar rumah sementara tugas utama di rumah malah terbengkalai. Kagak lha yauhw!
Sayangnya, wanita sekarang lebih suka menjadi bagian yang menikmati kehidupan kapitalisme sekarang ini. Karir di luar rumah adalah nomor wahid, bila perlu mengkampanyekan Nomar, alias no married. Karena dianggap dengan menikah akan menghambat karir dan kemajuan duniawi lainnya. Walah, sadar mbak, kata Bang Rhoma juga “pesta pasti berakhir”. Atau kata Om Ahmad Albar, “Dunia ini panggung sandiwara”. Nggak ketinggalan vokalis Scorpion, Klaus Maine dengan melankolis ‘berteriak’, “Just when you make your way back home..”
Oke deh, silakan berkiprah di jalur yang kamu bisa, tapi jangan lupakan aturan Islam. Jangan mau dikomersilin, dieksploitasi, or dikorbankan oleh para pengusaha industri kapitalis yang lagi berjaya di surga mereka: kapitalisme-sekularisme. Inget lho, Islam tuh memuliakan wanita. Islam tuh sayang banget sama kaum wanita. [solihin: liputan daerah: gilang, ana]
http://sobatmuda.multiply.com/journal/item/298